Calo alias makelar: kadang memang diperlukan.

seratus ribuCalo alias makelar: kadang memang diperlukan.

Sekitar jam 10 tadipagi, aku bersepedamotor berbelok memasuki halaman kantor Satlantas Polres Salatiga. Belum sampai tempat parkir yang biasanya, sudah diberhentikan oleh seseorang yang kemudian memintaku untuk parkir di samping lapangan. Ketika aku memelankan sepedamotor dan memasuki “tempat parkir” itu, orang yang membawa beberapa lembar Formulir isian itu bertanya, “SIM apa?”. Aku menjawab, “Biasanya parkir tidak disini Pak …”. Orang itu menyahut, “Di sana khan tempat ujian SIM, parkir di sini saja.” Aku menjawab, “Saya parkir di sana saja”, sambil aku terus memajukan sepedamotor keluar dari “area parkir” itu.

Aku memang sudah berniat untuk mengurus sendiri perpanjangan/penggantian SIM C yang hampir habis masa berlakunya, sehingga ketika aku melihat ada orang yang berusaha menjadi perantara (calo) dengan memintaku parkir di “areanya”, aku mengabaikannya. Sesampai di tempat parkir persis di depan ruang Kasatlantas, aku segera memarkir motor, dan beranjak berjalan menuju ruang untuk mengurus perpanjangan SIM. Belum sampai sepuluh langkah, sudah ada orang (calo lagi) yang bertanya, “SIM apa?”. Aku jawab “SIM C”, sambil terus berlalu menuju ruang di lantai atas.

Sampai di ruang atas, aku melihat ada beberapa loket, aku menuju ke salah satu loket dan bertanya, “Kalau mau perpanjangan SIM, bagaimana Pak?”. Langsung aku dimintai SIM asli dan fotocopyKTP, dan setelah SIM dan fotokopi KTP aku berikan, kedua dokumen itu di’staples’ dengan formulir isian, dan kemudian diberikan ke aku. Petugas itu menunjukkan meja tempat mengisi formulir sekalian menunjuk ke dinding di depan meja tempat mengisi, “Contoh isiannya itu ….”. “Ya Pak”, jawabku sambil menuju meja tempat mengisi formulir itu.

Aku mengisi formulir sambil sesekali melihat contoh pengisian yang tertempel di depan meja, dan setelah selesai, aku datang lagi ke petugas yang semula aku tanyai,”Setelah ini bagaimana Pak?”. Petugas itu memintaku membayar biaya di loket sebelah kirinya. Loket tempat pembayaran itu ada tempelan tulisan “BRI” dan yang menjaga seorang muda. Sambil menyodorkan formulir yang sudah aku isi, aku bertanya, “Berapa Mas?”. Pemuda itu menjawab, “Tujuh puluh lima ribu”. Aku sodorkan selembar uang seratus ribuan, dan ia bertanya, “ada uang pas?”. Aku jawab, “tidak ada”, dan pemuda itu kemudian menyodorkan lima lembar uang lima ribuan. Aku terima uang itu sekaligus formulir yang sudah disertai tambahan lembaran yang tidak aku baca isinya apa, dan aku kembali bertanya, “Setelah ini ke mana Mas?”. Pemuda petugas itu menjawab, “Periksa kesehatan di bawah”. “Terima kasih”, jawabku sesaat sebelum berlalu meninggalkan loket itu.

Bergegas aku menuruni tangga, dan setelah sampai bawah, sedikit kebingungan karena tidak tahu dimana tepatnya lokasi periksa kesehatan. Kemudian seorang petugas menyapa dan menunjukkan tempat periksa kesehatan. Aku memasuki ruang bawah yang ada 2 meja, di satu meja ada satu petugas yang sedang “memeriksa” seseorang, dan satu meja kosong tidak ada petugasnya. Aku duduk di sebuah kursi kosong, dan sesaat kemudian satu petugas masuk. Petugas yang masuk itu ternyata yang baru saja menunjukkan tempat pemeriksaan kesehatan. Petugas itu langsung memintaku untuk cap jempol kiri dan kanan dan memintaku membayar Rp5.000. Aku sodorkan uang pas Rp5.000, uang itu diterimanya, tanpa kuitansi tanda terima.

Kemudian aku diminta ke meja satunya yang sudah ‘kosong’. Setelah aku duduk di kursi di depan meja itu, langsung dibukakan buku untuk test buta warna, dan dengan mudah aku sebutkan angka-angka yang ditunjukkan. Kemudian aku ditanya berat badan dan diukur tekanan darahnya. Selesai mengukur tekanan darah, aku diminta membayar Rp25.000. Aku bayar dengan lima lembar uang lima ribuan kembalian dari petugas BRI tadi. Formulir yang sudah diisi dengan tambahan isian oleh petugas itu, diberikan lagi ke aku, sambil petugas itu bilang, “Bawa ke bagian foto”. Uang Rp25.000 yang aku berikan, juga tanpa bukti tanda terima. Bagiku ini biasa, seperti halnya ketika mengurus pajak kendaraan, untuk mengambil Plat Nomor, aku harus bayar Rp7.000,tanpa tanda terima apapun.

Aku kembali menuju ruang atas, menyerahkan formulir ke ruang foto, dan kemudian aku mondar-mandir di ruang tunggu, menunggu panggilan. Aku sempat melihat ruang simulator untuk ujian SIM B1. Aku tertarik melihatnya, karena pernah terpikir untuk meningkatkan ‘status’ SIM A menjadi SIM B1, tetapi ketika aku tanyakan ke petugas, ternyata biayanya lumayan mahal, katanya akan habis sekitar Rp700.000-an. Simulator untuk ujian SIM B1, berupa kabin Isuzu ELF, yang di depannya ada layar. Aku hanya membayangkan saja, MUNGKIN di layar akan terpampang tampilan jalan menikung, menanjak, turunan, tanda-tanda lalulintas, marka jalan dan sebagainya dan peserta ujian di simulator itu diminta “mengemudi” menyesuaikan keadaan/kondisi di layar yang dihadapinya.

[Di peraturan yang terbaru, SIM A bisa untuk mengemudikan mobil 4 roda dengan bobot kurang dari/sama dengan 3.500 kg, pertanyaannya, apakah SIM A bisa berlaku untuk mengemudikan Isuzu ELF, Colt Diesel yang 4 ban, demikian juga untuk KIA Pregio, Hyundai Arya juga Hyundai H1?  Bukankah mobil-mobil tersebut bobotnya kurang dari 3.500 kg? Entahlah, kabarnya ada perlakuan berbeda antar polisi lalulintas, ada yang menuntut SIM B1 untuk KIA Pregio.]
Ketika namaku dipanggil, aku segera memasuki ruang untuk berfoto. Sebelum berfoto, perlu aku tempelkan ibu jari di mesin pemindai garis tangan, eh.. garis ibujari. Selesai berfoto, aku masih perlu menunggu beberapa saat di ruang tunggu depan, hingga selesai pencetakan SIM C yang baru. Beberapa waktu kemudian namaku dipanggil kembali, dan SIM C segera aku terima. Sampai di rumah, aku scan SIM baru itu jadi file .jpg sebagai arsip di komputerku, seperti semua ID CARD yang aku miliki.

Memang baru kali ini aku mengurus sendiri perpanjangan SIM, dulu, biasanya aku minta tolong teman untuk menguruskannya, dan aku akan dihubungi untuk berfoto, dan setelah berfoto aku pulang, dan SIM yang sudah jadi akan diantar ke rumah. Sudah lupa, dulu aku bayar berapa kepada teman yang juga beberapa kali membantuku menguruskan mutasi mobil ‘second’ dari luar Salatiga ke Salatiga. Aku pikir, sekarang tidak terlalu rumit mengurus perpanjangan SIM di Satlantas dan juga mengurus pajak kendaraan di Samsat, tapi kalau urusan MUTASI kendaraan, aku pasrahkan saja pada calo. Aku mengurus sendiri karena ada waktu, dan ingin tahu secara langsung sebenarnya prosesnya bagaimana, sebab perlu juga juga pengalaman LANGSUNG,supaya bukan hanya mendapat informasi dari KATANYA. Ah…., jadi ingat ketika aku pernah mengurus Akte Kelahiran anakku yang katanya GRATIS tetapi ternyata harus bayar juga.

Bagaimanapun keberadaan calo kadang membantu, khususnya ketika kita tidak mau REPOT dengan berbagai urusan ADMINISTRASI yang “ribet” pada sebagian besar birokrasi di negara ini. Hanya saja, akan lebih elegan jika para calo itu tidak berkesan “memaksa” atau “menjebak”. Lebih baik jika mereka bertanya, “mau diurus sendiri atau dibantu diuruskan?” Sangat elegan jika mereka juga punya tarif “standar” untuk biaya pengurusan, sehingga ‘konsumen’ bisa mempertimbangkan dengan baik agar keputusan menggunakan jasa calo atau tidak, itu keputusan sadar bukan karena terpaksa atau karena merasa terintimidasi. Akan lebih bagus lagi, jika para petugas tidak melakukan diskriminasi dengan mengutamakan berkas-berkas yang diuruskan oleh para calo dibandingkan dengan berkas-berkas yang diurus sendiri oleh warga masyarakat.

Catatan:
Para “calo surga” juga tidak perlu memaksa atau mengintimidasi umat sehingga umat terpaksa mengikuti doktrin atau ajaran tertentu karena terpaksa. Aku jadi ingat kutipan ini: HIDUP penuh bakti ini bukan dijalani untuk menipu orang atau untuk mengajak orang mengikuti ajaran kita. Hidup penuh BAKTI ini dijalani agar bisa memandang ke dalam SEMUA hal, dan MEMAHAMInya. (ItivuttakaSutta).

Salatiga, 15 April 2013
(malem Selasa Kliwon, wuku Mandasia)
RT Wijayantodipuro

2 responses to this post.

  1. Posted by lanang on 2013/04/19 at 5:28 pm

    kebetulan saya tidak pernah mengurus SIM sendiri. karena istri bekerja di kantor polisi jadi ya diuruskan orang-orang dalam.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: