Hemat bukan pelit, tetapi perlu ketika air makin sulit.

Dulu, ayah pernah membelikan kaset lagu anak-anak yang di dalamnya ada lagu berjudul “Dusunku“, karangan Ragil Sugiyono. Lirik lagu itu sebagai berikut:

“Di lereng bukit kecil, dihiasi pepohonan,
dusunku terpencil dekat tepi hutan.
Mengalir air jernih dingin segar di pancuran,
udara pun bersih dan sejuk serta nyaman.
Di waktu pagi nan berseri, merekah indah sang mentari,
burung-burung lincah bernyanyi, menyampaikan salam suci.
Hamparan sawah luas padi kuning keemasan
hati lega puas penuh pengharapan.”

Sekalipun lagu itu saya dengar lebih dari dua puluh tahun yang lalu, dan kasetnya juga sudah rusak dan hilang entah kemana, kadang masih saya senandungkan lagu itu, karena selalu mengingatkan saya pada masa kecil tinggal di dusun yang “nyaris sama” dengan yang digambarkan oleh lagu itu, yaitu:

  • di lereng bukit kecil (hampir benar, karena dusun kami di kaki bukit kecil, bukan di lerengnya)
  • dihiasi pepohonan (benar, dulu dusun kami rimbun, dulu terkenal sebagai penghasil buah kelengkeng yang manis)
  • dusun terpencil (kurang benar, walau di desa, tetapi dusun kami bukan terpencil)
  • dekat tepi hutan (benar, dusun kami dekat dengan hutan di lereng bukit)
  • mengalir air jernih (benar, ada sungai kecil berair jernih di tepi dusun)
  • di pancuran (benar, ada pancuran bambu yang menjadi tempat mandi umum di sungai itu)
  • udara bersih, sejuk, nyaman (benar)
  • burung-burung lincah bernyanyi (benar, dulu kicau burung bukan hal yang asing, saya masih sempat menyaksikan antara lain burung parkit (betet) warna-warni, burung jalak, gagak, pelatuk, juga burung puyuh di kebun di tepi dusun, juga banyak jenis burung lain yang sering di sekitar rumah)
  • hamparan sawah luas (walau tidak begitu luas, ada beberapa sawah di tepi dusun)
  • hati lega puas penuh pengharapan (hehe…, dulu malah berharap bisa sekolah di kota)

Sudah lama saya cari lagu itu di internet, agar dapat saya ajarkan ke anak-anak tetapi belum ketemu sampai sekarang, hanya ketemu satu site yang memuat liriknya.

Dulu, air begitu berlimpah.

Masih saya ingat, di masa kanak-kanak dulu, saya kadang mandi di “kamar mandi umum” dengan pancuran bambu yang mengucurkan air cukup deras, di dekat sebuah aliran sungai kecil di kampung. Sungai kecil berair bening itu juga digunakan untuk tempat mencuci pakaian oleh ibu-ibu, dan di salah satu sisi sungai dipakai untuk (maaf) buang air besar, karena saat itu banyak rumah di kampung yang belum memiliki kamar mandi dan WC. Sungai kecil itu juga sering dipakai untuk memandikan sapi oleh beberapa orang yang memeliharanya. Jika sudah dirasa perlu, orang-orang di kampung akan bergotong royong memperbaiki penampungan air, mengganti bambu pancuran, dan membersihkan/merapikan tepian sungai.

Sebagaimana anak-anak kampung lainnya, saya bersama teman-teman sebaya suka bermain di sungai kecil itu, mencari ikan-ikan kecil, mencari kepiting untuk mainan, atau sekedar bermain air, dan kadang bersama-sama membendung sungai dengan batu-batu kecil, dan setelah air mengenang karena aliran tertahan, kami gunakan untuk berenang bersama teman-teman. Sudah tentu tidak efisien mengandalkan sungai kecil untuk mandi dan mencuci pakaian, dan itu sudah disadari oleh ayah saya, sehingga sejak membangun rumah, ayah juga membuat sumur di dekat dapur. Sumur itu pertama di kampung kami, dan selain sumur, ayah juga membuat WC dan kamar mandi serta tempat mencuci pakaian, sehingga tidak perlu ibu dan ayah pergi ke sungai untuk mandi atau mencuci pakaian. Saya ingat prinsip ayah-ibu, kamar mandi dan WC itu penting.

Seiring bertambahnya usia saya, sungai kecil itu makin surut, pancuran tidak ada lagi. Penyebabnya, dari mata air di hulu sungai, air yang keluar makin sedikit, dan diperparah dengan beberapa pipa yang dipasang untuk mengalirkan air ke rumah-rumah. Nampaknya tidak ada masalah dengan surut dan (kemudian) matinya sungai kecil itu, karena makin banyak rumah yang membuat sumur beserta kamar mandi dan WC, selain beberapa rumah mengandalkan pipa dari mata air di hulu sungai. Ayah yang pertama kali di kampung kami memasang pipa (selang) dari mata air yang jaraknya beberapa ratus meter dari rumah itu, setelah seseorang di kampung lain memasang pipa dari situ. Saat itu tidak ada masalah siapapun yang memasang pipa, karena mata air di hulu sungai kecil itu tidak dimiliki oleh siapapun. Setelah ayah, kemudian menyusul beberapa tetangga juga memasang pipa dari hulu sungai ke rumah. Air dari mata air nyaris habis masuk ke banyak pipa, dan sisa air mengalir ke sawah-sawah, matilah sungai kecil itu.

[Saya juga menyaksikan, ketika dua pohon beringin yang dulu ada di dekat tempat mandi umum ditebang dan kayunya dipakai untuk membakar aspal ketika ada proyek pengaspalan jalan. Tempat itu sekarang kering kerontang, bekas bak penampungan air sudah tidak terlihat dan jika tidak pernah menyaksikan keadaan di masa lalu, orang yang melihatnya sekarang tidak akan menyangka bahwa dulu orang-orang kampung mandi bersama, mencuci bersama di tempat itu.]

Pipa (selang plastik dan paralon/PVC) mengalirkan air secara gratis terus menerus tanpa henti. Sumur tidak perlu difungsikan karena air berlimpah dari pipa. Ayah kemudian membuat kolam ikan di belakang rumah. Saya masih ingat, beberapa kali panen lele dari kolam, dan menjualnya ke pedagang ikan. Saya juga kadang memancing lele di kolam itu, untuk digoreng menjadi lauk. Bahkan, dari luberan air kolam belakang rumah, ayah juga membuat kolam persegi panjang di samping rumah. Gemericik air yang mengalir dari pipa selalu terdengar. Di kolam belakang, dipasang potongan bambu sedemikian rupa, dan dengan aliran air yang mengisi dan kemudian tumpah dari bambu itu, akan secara teratur membuat bambu itu memukul bambu yang lain dan menimbulkan bunyi yang cukup keras. Bunyi itu akan menakuti musang yang mungkin mendekat untuk memangsa ikan.

Itu dulu …, sekarang semua tinggal kenangan. Kolam di belakang rumah sudah kering, air dari pipa tinggal mengalir kecil dan lebih sering macet, karena mata air makin kecil debitnya dan menjadi rebutan banyak pipa. Sumur difungsikan lagi, dipasangi pompa listrik untuk menaikkan air ke tangki penampungan (tandon) di atap rumah, untuk kemudian dialirkan ke tiga kamar mandi, ke tempat cuci piring, ke mesin cuci dan ke kran air untuk mencuci kendaraan di tepi halaman depan.

Saya yang memasang pompa dan tangki penampungan serta merangkai pipa-pipa di rumah, untuk “memudahkan hidup”. Saya membeli mesin cuci otomatis single tube, yang ternyata boros air, tetapi air dari sumur yang dipompa ke tandon atas, masih cukup untuk memenuhi kebutuhan di rumah ayah-ibu, yang sekarang hanya dihuni oleh mereka berdua. Air memang masih cukup, tetapi masa berkelimpahan air sudah lewat. Air makin sulit diperoleh di kampung ayah-ibu. Mungkin karena sumber air yang letaknya beberapa kilometer dari desa itu, diambil airnya (dipasangi pipa besar) untuk memenuhi kebutuhan di kota, sehingga tidak ada air yang mengalir melalui sungai kecil, yang berlanjut ke parit dan kemudian hilang meresap ke tanah, yang muncul lagi sebagai mata air di daerah yang lebih bawah.

Dulu, jika musim hujan, air sumur di rumah bisa diambil pakai gayung dengan tangkai panjang, mata airtiban‘ juga keluar di tepi halaman rumah, bahkan sumur tetangga yang letaknya lebih rendah daripada rumah ayah-ibu, air meluber keluar dari bibir sumur. Berlimpahnya air tinggal kenangan di kepala, karena tidak ada foto-foto dokumentasi ketika halaman rumah tergenang air bening, ketika sumur tetangga airnya meluber, ketika kami bisa panen lele dari kolam, apalagi ketika saya masih berani telanjang bersama teman-teman di tempat mandi umum di sungai kecil.

Mulai merasakan kesulitan air.

Setelah menikah dan tinggal bersama istri di rumah ibu mertua di kota Salatiga, saya mulai menghadapi kesulitan air, khususnya ketika air dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) tidak mengalir, saya harus “ngangsu” (mencari air) pakai jirigen ke rumah kerabat di tempat lain. Bagi saya yang biasa tidak menghadapi kesulitan air — walau air tidak berlimpah seperti dulu ketika saya masih kanak-kanak, sampai sekarang di kampung ayah-ibu, air masih gratis dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sesehari –, ini adalah kesulitan yang harus diatasi. Saya minta tolong seorang teman untuk membersihkan dan memperdalam kembali sumur di pekarangan yang sudah lama tidak berfungsi, dan ternyata berhasil mendapatkan air, sehingga kemudian kami tidak hanya mengandalkan air dari PDAM.

Saya pasang pompa air di sumur itu, saya atur ulang pipa-pipanya sehingga air dari sumur dan dari bak penampungan (tandon) air PDAM yang sudah ada, bisa menyatu di tandon di atas kamar mandi. Dua pompa air terpasang, satu untuk tandon air PDAM, satu untuk sumur, dan saya pasang saklar pemindah arus listrik, supaya kedua pompa bisa bekerja bergantian. Kedua pompa perlu bergantian, karena dengan banyak orang yang tinggal di rumah (termasuk enam anak kost), dalam kondisi normal perlu tiga kali sehari menaikkan air ke tandon atas, dan dari sumur hanya mampu dua kali, pagi dan sore saja, dan yang sekali perlu menaikkan air dari bak penampung air PDAM. Ketika air dari PDAM mati, kami harus sangat berhemat air, agar air dari sumur mencukupi kebutuhan sesehari.

mohon hemat airPada waktu air dari PDAM tidak mengalir (pernah tidak mengalir selama hampir satu bulan), istri saya memasang tulisan himbauan di dua kamar mandi untuk anak kost, dan sampai saat ini, himbauan itu tidak diambil, mungkin memang tidak perlu diambil, biar saja tetap tertempel agar selalu mengingatkan mereka untuk hemat air.

Tentang penghematan air, saya juga menampung air hujan dari talang di depan rumah ke sebuah tong berkapasitas 200 liter. Air hujan itu bisa dipakai untuk menyiram tanaman (ada beberapa tanaman di bawah emperan teras yang tidak kehujanan, dan harus secara teratur disiram) selain juga dapat digunakan untuk cuci tangan dan kaki atau mencuci peralatan (sabit, gunting, cangkul, atau cetok) yang kotor setelah saya gunakan di pekarangan rumah. Saya juga pernah membuktikan, bahwa mandi dengan shower, lebih hemat air daripada menggunakan gayung. Cara pembuktiannya, saya mandi ‘di dalam’ sebuah bak plastik sehingga semua air yang keluar dari shower tertampung di bak plastik itu, dan ternyata setelah selesai mandi, bak plastik itu tidak penuh air, padahal biasanya untuk sekali mandi, bak plastik itu perlu diisi air hingga penuh, dan akan habis setelah mandi. Anak-anak juga sudah saya beritahu, bahwa mandi dengan shower lebih hemat air, dan dengan shower, lebih mudah melatih anak-anak mandi sendiri, karena mereka tidak perlu kesulitan mengambil air di bak mandi yang agak tinggi. Demikian juga, (maaf) cebok dengan sprayer di WC, juga lebih hemat air dan lebih mudah dilakukan oleh anak-anak.

saklar pompaSaya suka yang hemat, praktis dan efisien. Selama ini memang sudah lebih “hemat tenaga” untuk menjamin ketersediaan air di tandon atas dengan pompa yang secara otomatis hidup ketika tandon atas kosong, dan otomatis mati ketika tandon atas penuh, namun masih perlu saklar manual untuk memilih pompa dari tandon air PDAM, atau pompa lainnya dari sumur. Saya juga tambahkan indikator berupa lampu merah yang akan menyala jika tandon atas kosong. Sudah saya pikirkan untuk meniadakan saklar manual itu, dengan menambah lagi satu saklar otomatis yang perlu ditempatkan di dalam sumur dan satu saklar otomatis di dalam tandon air PDAM, yang mungkin akan saya kerjakan besok ketika pompa di dalam sumur rusak dan perlu diganti, sehingga sekalian ganti pompa “jet pump” yang bisa ditempatkan di luar sumur, sekaligus mengatur ulang pipa dan kabel serta memasang saklar-saklar otomatis itu. Keadaan yang saya inginkan adalah seperti berikut ini:

kondisi ideal

Jika kondisi seperti pada tabel itu bisa tercapai, ditambah lagi dengan indikator yang bisa terlihat jelas yaitu lampu berwarna merah yang menyala jika air di tandon atas habis, lampu berwarna hijau yang menyala jika tandon air PDAM habis, dan lampu berwarna biru yang menyala jika air sumur habis, maka urusan air hanya perlu ditangani ketika ketiga lampu itu menyala bersamaan, yaitu ketika tandon atas kosong dan kehabisan air di tandon air PDAM dan di sumur. Jika ini terjadi, mau tidak mau, harus “ngangsuair dari tempat lain. Namun sudah saya pikirkan juga membuat satu sumur lagi di depan rumah, untuk menambah sumber pasokan air. Tentu, jika ada tambahan satu sumur lagi, akan perlu perubahan “sistem” pengaturan air dari 2 sumur dan 1 tandon air PDAM untuk mengisi 1 tandon atas. Bukan hal yang rumit untuk mengatur itu semua. Lebih sulit dan menyusahkan jika air yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sesehari, walau sudah sangat dihemat.

Mengelola air minum untuk keluarga.

Lebih dari 10 tahun yang lalu, ketika masih tinggal bersama orang tua, saya membeli water purifier yang memakai penyaring dari keramik dan ditambah dengan filter karbon, yang bisa memproses air mentah menjadi siap minum tanpa perlu tenaga listrik. Pada waktu itu harganya sekitar Rp1.500.000,00 dan sampai sekarang alat itu masih ada, tetapi tidak digunakan lagi, karena penyaring keramiknya sudah bocor lagi (pernah 2x saya ganti) dan ayah-ibu tidak merasa perlu menggantinya agar alat itu dapat berfungsi kembali. Orang tua kembali ke “pola lama”, yaitu menyediakan air minum dingin dari air matang panas yang didinginkan.

Ketika anak pertama lahir, untuk menjamin ketersediaan air minum dingin dan panas berkualitas bagus (yang tidak berbau kaporit seperti yang kadang-kadang terjadi pada air PDAM), terutama untuk membuatkan susu bagi anak, saya membeli water dispenser dan membeli air galonan (tepatnya 1 botol besar berisi 19 liter = 5 galon). Setiap kali beli di pabrik Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) “Java” di samping Pemandian (kolam renang) Muncul yang berjarak sekitar 6 km dari tempat tinggal, saya membeli 3 botol besar. Namun ketika anak sudah mulai bisa berjalan, water dispenser tidak kami difungsikan lagi, karena berbahaya jika anak bermain kran air panasnya. Saya berikan water dispenser itu kepada seorang teman yang membutuhkan, dan kemudian untuk menyediakan air dingin siap minum, kami kembali ke pola ‘tradisional’ yaitu pakai air matang panas yang sudah dingin, dan lebih sering sisa dari termos, ketika termos itu diisi kembali dengan air panas yang baru.

Kami juga pernah memakai penyaring air yang bisa memproses air mentah menjadi siap minum, yang sekaligus ada heater-nya dan menyediakan 3 kran keluaran, yaitu dingin, hangat dan panas. Namun alat ini tidak bertahan lama, karena kemudian bocor penyaringnya, yang artinya air mentah yang dimasukkan tidak diproses sebagaimana mestinya. Sekarang alat itu masih dipakai oleh anak-anak kost, tetapi hanya difungsikan water heater-nya, dan dipasangkan botol besar galonan yang dibeli dari penyedia air isi ulang.

Sejak pertama kali melihat iklan Pure It di televisi, saya langsung tertarik untuk membelinya, namun rupanya istri belum tertarik karena merasa tidak ada masalah dalam penyediaan air minum untuk keluarga. Kami memakai 3 termos air panas, dan ketika termos itu diisi dengan air panas baru, air panas yang lama didinginkan di dalam water jug kaca, sebagai persediaan air dingin siap minum. Jika persediaan air dingin kurang, kami akan mendinginkan air dari termos dan jika perlu merebus air lagi. Untuk hal ini, kami memakai sebuah teko stainless yang agak besar berkapasitas 5 liter, dilengkapi dengan ‘peluit’ yang akan berbunyi jika air telah mendidih dan dapat mengisi penuh 3 termos yang kami pakai dengan sekali rebus.

Berulang kali saya menawarkan ke istri untuk membeli Pure It, berulangkali juga tidak disetujuinya, namun ada suatu waktu ketika saya minta untuk mencoba saja dulu (karena sudah lama saya ingin mencoba pakai Pure It), dan kemudian kami membeli Pure It di Carrefour Semarang (Srondol). Pada waktu membelinya, kami ditawari sekaligus membeli germkill kit-nya untuk nanti mengganti jika germkill kit-nya sudah perlu diganti, tetapi karena menurut perhitungan, germkill kit perlu diganti beberapa bulan lagi, saya tidak sekalian membeli germkill kit-nya. Germkill kit pengganti kami beli beberapa bulan kemudian di Hypermart Solo Square, ketika kami melihat ada stand Pure It di situ.

Pengalaman ketika pertama kali mengisi Pure It dengan air mentah, ternyata pengisian yang saya lakukan terlalu banyak, sehingga airnya merembes tumpah dari penampung bawah. Saya berpikir hal itu tidak boleh terjadi lagi, karena selain membuang air, juga menyebabkan meja dan lantai menjadi basah, dan perlu ‘tambah kerjaan’ mengeringkannya. Saya berpikir sederhana, kalau maksimum pengisian adalah 9 liter maka wadah bening yang di bawah, jika dibagi 9 akan ketemu 1 liter (dengan mengabaikan penyaring di dalam wadah itu), maka saya mencetak kertas dengan tulisan “BOLEH DIISI ± LITER” dengan angka-angka dari atas ke bawah mulai angka 1 hingga 8, disesuaikan dengan tanda anak panah yang menunjuk pada posisi ketinggian air, saya tempelkan di badan Pure It. Sejak pakai kertas pengukur itu, siapapun (saya, istri, ibu mertua, atau pembantu) yang mengisi Pure It dengan air mentah, akan tahu berapa banyak seharusnya. Kami mengisinya menggunakan wadah yang bervolume 2 liter, jadi misalnya ketinggian air sudah di angka 8, kami akan mengisinya 4 kali, dan siapapun yang di rumah, boleh mengisi Pure It itu jika melihat ketinggian air di wadah bawah, sudah mulai rendah.

ukuran pengisian

Setelah beberapa waktu menggunakan Pure It, istri merasakan bahwa penggunaan gas elpiji lebih hemat, karena ‘acara’ memasak air, hanya untuk mengisi 1 termos saja, dan cukup dengan memakai teko stainless yang kecil berkapasitas 2 liter, yang juga khusus untuk merebus air dengan peluit yang bisa berbunyi jika air sudah mendidih. Teko yang besar, hanya sewaktu-waktu digunakan, jika ada kepentingan khusus perlu menyediakan air panas lebih banyak. Selain hemat gas elpiji, juga hemat tenaga, karena tidak perlu memindahkan air panas dari termos ke water jug untuk didinginkan. [Tentang penghematan gas elpiji, juga lebih hemat setelah saya pasang gas water heater di kamar mandi. Sebelumnya, jika kami hendak mandi menggunakan air panas, harus terlebih dahulu merebus air dalam panci kemudian membawanya dari dapur ke kamar mandi dan mencampurkan air panas dengan air dingin di bak plastik.]

Penghematan lain, adalah penghematan peralatan yaitu dari semula kami pakai 3 termos sekarang cukup 1 termos, karena kami tidak terlalu banyak konsumsi air panas, kebutuhan air panas yang utama adalah untuk membuatkan susu bagi anak-anak, dan itu tidak banyak karena untuk membuat susu hangat, air panas akan dicampur air dingin dari Pure It. Dua water jug kaca dan 1 water jug plastik yang semula kami pakai untuk menampung air dingin siap minum, tidak diperlukan lagi. Masih ada penghematan lain, yaitu jika pergi ke kantor dan perlu membawa air minum, kalau dulu lebih sering saya bawa AMDK  botol, sekarang dengan botol yang sama/sejenis, bisa diisi dari Pure It, demikian juga jika hendak bepergian ke manapun dan memerlukan bekal air minum, kami bisa mengisi botol-botol dengan air dari Pure It. Jelas lebih hemat, karena kalau dihitung harga germkill kit yang Rp150.000,00 bisa digunakan untuk memproses sekitar 1.500 liter air, berarti setiap liter air dari Pure It hanya berbiaya Rp100,00;  jauh lebih murah dibandingkan dengan AMDK botol.

memudahkan anakBagi anak-anak (anak-anak kami masih kecil), mengambil air dari kran Pure It juga lebih mudah daripada menuangnya dari water jug kaca maupun water jug plastik, karena mereka masih kesulitan menuang air dari water jug tanpa tercecer/tumpah. Pure It sangat menguntungkan, dan saya sudah memikirkan untuk membeli satu lagi Pure It untuk anak-anak kost, karena pasti lebih hemat daripada mereka selalu membeli air galonan, tetapi masih dipertimbangkan, karena mereka perlu air panas, dan jika pakai Pure It, artinya mereka perlu pemanas listrik untuk mendidihkan air, dan perlu termos untuk menyimpan air panas, berbeda dengan sekarang, dengan water dispenser yang menyediakan air panas dan dingin, mereka tidak perlu pemanas air dan tidak perlu termos. Seandainya tersedia perangkat Pure It yang sekaligus ada heater-nya, sehingga ada dua kran dalam satu alat, yaitu dingin dan panas, pasti dapat menjadi alternatif pilihan yang bagus.

Kesimpulannya, menggunakan Pure It merupakan contoh suatu langkah penghematan. Penghematan biaya karena biaya penyediaan per liter air sangat murah, penghematan pikiran karena tidak kuatir kehabisan air dingin siap minum, dan juga penghematan tenaga tidak perlu repot menyediakan air dingin dengan cara mendidihkan air kemudian mendinginkannya. Bagi rumah tangga dengan anak-anak kecil, juga memudahkan mereka jika hendak minum air dingin, tidak perlu dibantu oleh orang yang lebih dewasa, mereka bisa mengambil sendiri dari kran Pure It. Memang…, untuk “mengkompensasi” semua penghematan dan kemudahan itu, perlu setiap kali mengisi Pure It dengan air mentah.

Air makin sulit, walau masih cukup, perlu makin hemat.

Saya percaya, bahwa ketika sumberdaya makin terbatas, ditambah kebutuhan makin meningkat, manusia akan berupaya untuk melakukan penghematan di sana-sini. Cara, sistem atau teknologi penghematan (termasuk penghematan air), akan tersedia oleh inovasi yang dilakukan orang-orang yang cerdik, dan tugas masyarakat, jika tidak menemukan cara atau alat penghematan sendiri, adalah melakukan penghematan dengan cara dan alat yang sudah tersedia. Persoalannya adalah tahu atau tidak tahu bahwa ada cara menghemat, dan mau atau tidak mau melakukan penghematan. Berbagai tulisan dan iklan produk di berbagai media, memberikan pengetahuan kepada masyarakat, bahwa ada cara/alat menghemat, dan pasti akan makin banyak orang yang memilih hemat daripada boros, karena meningkatnya pengetahuan dan kesadaran akan kelestarian alam. Mungkin masih ada yang menganggap bahwa penghematan itu identik dengan pelit, namun bagi saya, hemat bukan berarti pelit. Penghematan adalah perlu ketika kita sadar bahwa sumber daya makin terbatas. Jika banyak orang mau berhemat (berhemat dalam pemakaian sumber daya apapun, termasuk air), niscaya kelestarian alam akan lebih terjamin.

Jika mengingat kesulitan air yang sering melanda beberapa kerabat kami yang tinggal di Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta — mereka harus menampung air hujan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, bahkan kadang harus membeli air dari mobil tangki –, saya sangat bersyukur dapat menikmati cukup air untuk kebutuhan keluarga sesehari. Upaya penghematan air yang perlu kami lakukan, jauh lebih ringan daripada penghematan yang harus mereka lakukan. Juga.., dengan tinggal di kaki Gunung Merbabu, kami menikmati air yang kualitasnya baik, dan kabarnya Total Dissolved Solids (TDS) air di daerah kami, termasuk yang paling rendah di antara daerah-daerah lain.

Di Pemandian Muncul, kami bisa menikmati air jernih yang tidak memedihkan mata dan jika tertelan-pun biasanya tidak membuat sakit perut, yang melimpah ruah berasal dari mata air di dasar kolam renang itu. Tetapi Muncul-pun sudah berubah; dulu ketika saya masih kanak-kanak, saya bisa melihat banyak perahu dari Rawa Pening yang bersandar di Muncul, karena sungai dari Muncul ke Rawa Pening agak besar/lebar dan agak dalam sehingga perahu bisa melaluinya. Sudah bertahun-tahun tidak ada lagi perahu yang terlihat di Muncul, karena sungai dari Muncul makin kecil, makin sempit dan makin dangkal, mungkin juga karena permukaan air Rawa Pening makin turun. Permukaan air Rawa Pening makin turun, karena pasokan air dari sungai-sungai di sekitarnya, juga makin sedikit. Air tidak lagi berlimpah seperti dulu. Kita sekarang perlu makin hemat air, dan kita juga perlu mengajarkan ke anak-cucu (generasi mendatang) agar hemat air, karena jika mengamati kecenderungan yang terjadi, nampaknya mereka akan menghadapi keadaan yang lebih sulit.

Tulisan ini tidak membahas mengenai air yang sehat, yang bermineral organik atau anorganik, yang bebas bakteri dan bebas bahan berbahaya lainnya, juga tidak membahas tentang penyakit yang mungkin dapat timbul karena menggunakan air yang berkualitas buruk, seperti misalnya penyakit kulit, diare dan batu ginjal (untuk hal ini dapat dengan mudah diperoleh dari berbagai referensi di internet), namun hanya cerita pengalaman saya dan keluarga dalam mengelola air untuk memenuhi kebutuhan sesehari. Saya persilakan pembaca memberi komentar, masukan atau kritik berdasarkan pengetahuan dan/atau pengalaman menghadapi kesulitan atau menikmati kemudahan dalam mengelola air untuk keluarga.

Oh ya…,hari ini dan besok (1-2 Desember 2012) di Salatiga diselenggarakan Festival Mata Air V, sebuah event pameran, workshop dan pertunjukan seni, dengan maksud membangun dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang alam dan lingkungan, yang diselenggarakan oleh Komunitas Tanam Untuk Kehidupan (TUK). Saya akan mengajak anak-anak menontonnya, karena banyak pertunjukan menarik di event itu, aksi para pekerja seni dan aktivis lingkungan dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari luar negeri.

Terima kasih, semoga bermanfaat.

Salatiga, 1 Desember 2012
RT Wijayantodipuro

7 responses to this post.

  1. Posted by mampir saja .. on 2012/12/04 at 9:43 pm

  2. bagus blognya main juga ke blog saya ya infoeligi.blogspot.com

    Reply

  3. selamat ya blog ini jadi pemenang airpureit

    Reply

  4. wow… selamat ya Gan
    ente berhasil dapet juara dua.
    keren artikelnya. ane jadi bisa banyak belajar dari artikel ini
    smoga sukses ente bisa nular ke ane ya. amin amin amin
    salam sukses

    Reply

  5. Salam, akhi congrat yh🙂 mhn maaf mhon doanya

    Reply

  6. suka sama lagunya… ada juga lagu tentang bintang2..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: