Secara unyu itu sesuatu banget gitu loh…

Mulai beberapa tahun yang lalu, kata “secara” dipakai bukan dalam arti “dengan cara”, namun untuk menunjuk suatu alasan tertentu hingga suatu hal yang dimaksud menjadi masuk akal.  Misalnya dalam kalimat “secara Ester itu cantik“, dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa (karena) Ester itu cantik maka …… Ini bukan baku dalam bahasa Indonesia, tetapi lama-lama makin banyak orang yang menerima dengan ‘sukarela’, bahkan kemudian ikut-ikutan secara latah menggunakan kata “secara” itu untuk maksud demikian itu.  “Secara Ester itu cantik, banyak cowok nge-add Facebooknya“, artinya karena Ester itu cantik, maka WAJAR jika banyak cowok nge-add account Facebooknya.  Tentu menggunakan kata ‘secara’ dengan maksud demikian, tidak pantas dipakai dalam tulisan-tulisan atau percakapan-percakapan resmi/ilmiah.   Tetapi hidup bukan hanya tentang yang ilmiah, bukan?

Kata berikutnya adalah “sesuatu banget“, untuk menunjukkan bahwa suatu hal “sangat mengesankan”. Kesan yang mungkin sulit dijelaskan dengan kata-kata, maka kata yang dianggap mewakili “rasa” yang “bagaimana itu…”, adalah “sesuatu banget”.  Ini juga bukan rangkaian kata baku dalam Bahasa Indonesia, sehingga tidak tepat jika dipakai dalam tulisan-tulisan resmi atau tulisan ilmiah.  Namun kata ‘sesuatu banget’, yang kemudian disingkat menjadi SBY = sesuatu banget ya…, dapat diterima di masyarakat tertentu, sebagai bahasa gaul, khususnya bagi muda-mudi yang memang punya kosakata yang kompleks untuk mengungkapkan rasa yang bergejolak dalam kemudaannya.

Kata “unyu” kemudian muncul sebagai ungkapan untuk menggambarkan rasa gemas, lucu, menyenangkan.  Kata unyu yang KONON aslinya berarti “anak anjing” (yang biasanya lucu, menggemaskan) dianggap mewakili kesan lucu, menggemaskan bagi obyek tertentu, khususnya seseorang.  “Kamu unyu deh..”, artinya kamu cakep, lucu, menggemaskan, dan menyenangkan.

Bahasa Indonesia memang bahasa yang “muda”, sehingga masih perlu mengadopsi berbagai bahasa lain untuk memberi makna tertentu yang belum dapat terwakili oleh kata-kata yang ada.  Pun kita tahu bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, ditambah beberapa bahasa ‘lokal’. Beberapa bahasa lain memiliki lebih banyak kata, sehingga lebih kaya dalam mengungkapkan makna.

Untuk hal “rasa“, menurut saya, bahasa Jawa memiliki kosakata yang lebih kaya daripada bahasa-bahasa lain di dunia ini, apalagi dibandingkan dengan bahasa Indonesia.  Saya memang tidak tahu banyak bahasa lain di dunia, tetapi saya memiliki keyakinan yang tinggi, bahasa Jawa “menang” jika dipakai untuk mengungkapkan “rasa”.  Namun, kalau untuk bidang teknologi, bahasa Jawa jelas kalah daripada bahasa Inggris atau bahasa-bahasa lain.  Bluetooth, akan sangat lucu jika diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa menjadi “untu biru“.

Saya bisa memberi beberapa contoh, beberapa kata dalam bahasa Jawa yang maknanya sulit diungkapkan dalam kata bahasa Indonesia.  Misalnya, kata “gusti“, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “tuhan”. Kata ‘gusti‘ dalam bahasa Jawa bisa digunakan untuk menyebut Tuhan semesta alam, bisa juga dipakai untuk menyebut orang yang sangat dihormati (biasanya) dari kalangan keraton.  Kata “ingsun“, secara mudah disamakan dengan kata ‘aku’ (atau = Inggris, Ani = Ibrani, Ane = Arab), padahal sesungguhnya bukan sekedar bermakna “aku”.  Ingsun mewakili ‘diri pribadi’ yang ada ‘di dalam aku’, suatu keberadaan ‘sejati’ dari diri seseorang. Ingsun tidak tampak oleh mata, ingsun bukan tubuh/badan manusia. Ingsun adalah “diri sejati” seorang manusia.

Kata “nendang” dari kata menendang, saat ini dikenal digunakan untuk menyatakan bahwa suatu  masakan berasa “nikmat” (rasanya nendang). Bagi orang Jawa, ‘nendang‘ atau ‘menendang’, hanya salah satu dari beberapa istilah untuk gerakan kaki ‘menendang’ sesuatu.  Untuk “menendang”, bahasa Jawa memiliki beberapa kosakata:  nendang (ke arah depan, jari-jari yang kena objek), nyepak (ke arah samping, bagian sisi kaki yang kena obyek), mengkal (ke arah belakang, bagian tungkai kaki belakang yang kena obyek), ndugang (ke arah depan atas, bagian punggung kaki yang kena objek),ndupak (ke arah depan bawah, bagian telapak kaki belakang yang kena objek).  Pepatah Jawa, “dhupak bujang, dugang demang, esem bupati“,  sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan kata-kata yang singkat.

Kata “kepala muda”, bagi orang Jawa bisa berarti bluluk (kelapa yang masih kecil), cengkir (kelapa muda yang sudah berisi air namun belum berdaging kelapa), dan degan (kelapa muda yang sudah memiliki daging kelapa yang masih lunak).  Jawa punya kata sih (asih), tresna, dan dhemen untuk mengungkapkan “cinta”.  Sih (asih), adalah kasih/cinta ‘agape‘ (tanpa syarat), tresna adalah kasih/cinta yang universal ditujukan untuk pihak lain, dan dhemen, rasa cinta/tertarik kepada lawan jenis (asumsinya bukan homoseks).

Kata kawruh yang diterjemahkan menjadi pengetahuan, sebenarnya dalam bahasa Jawa memiliki makna yang lebih dalam.  Ada yang menyatakan, kawruh punika tumanduke weruh dhumatheng ingkang dipun weruhi (‘pengetahuan’ adalah tindakan/keadaan/perilaku/sikap tahu terhadap (sesuatu) yang diketahui).  Jadi bagi orang Jawa, “kawruh” itu memiliki makna yang lebih dalam daripada sekedar diwakili oleh kata “pengetahuan”.  Masih banyak lagi kata-kata dalam bahasa Jawa yang memiliki makna yang dalam, yang mungkin sulit dimengerti oleh orang yang bukan Jawa, oleh karena itu, bagi orang bukan Jawa, orang Jawa kadang “sulit dimengerti”, dan bahasa Jawa adalah “rumit”.  Satu contoh lagi, kata “nyuwun sewu” bagi orang Jawa sebenarnya memiliki makna yang agak berbeda dengan “permisi” (excuse me). Jika kata permisi (excuse me), digunakan untuk “minta ijin” ketika seseorang akan ‘menyela’, bagi orang Jawa, kata “nyuwun sewu” bukan sekedar minta ijin untuk menyela, tetapi ungkapan singkat dari “mohon beribu (sewu) maaf, karena saya akan mengganggu ‘kemerdekaan’/kenyamanan anda”.

Masih banyak kata-kata lain dalam bahasa Jawa yang memiliki makna yang ‘dalam’, yang tidak bisa diwakili oleh kata dalam bahasa lain.   Kata-kata adalah ungkapan rasa/pikiran, atau wakil dari obyek tertentu.  Rasa/pikiran yang sebenarnya tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata, obyek yang dimaksud dapat dipahami secara lebih baik jika sudah dihadapi (dilihat, didengar, dirasakan) secara langsung.  Sikap tubuh, mimik muka, senyum dan tatapan mata, adalah cntoh bahasa antar sesama manusia yang lebih bermakna daripada sekedar bunyi suara dari mulut, atau tulisan-tulisan.  Itulah ungkapan rasa yang lebih sulit dimanipulasi oleh keindahan pilihan kata.  Mungkin saja, dengan demikian kata-kata “sesuatu banget” adalah ungkapan (terpaksa) cocok dipakai untuk menggambarkan rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Bisa jadi karena memang tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan rasa itu, atau tidak tahu bahwa ada kata dalam bahasa tertentu yang sebenarnya bisa dipakai.

Sebenarnya masih banyak yang hendak saya tulis, namun  berapapun banyaknya kata-kata yang saya tuliskan, tak akan mampu mewakili apa yang sebenarnya saya pikirkan atau saya rasakan.  Sehingga saya akhiri saja tulisan ini.  Entah apa yang akan anda tangkap dari tulisan ini.  Mungkin berbeda dengan apa yang saya maksudkan.  Tidak mengapa, yang penting kita saling mengerti, bahwa bahasa hanyalah sarana komunikasi, yang bisa disalahmengerti.  Rasa yang sebenarnya tidak dapat saya ungkapkan lewat kata-kata. Bisa jadi, apa yang saya tulis adalah kebohongan, karena tidak bisa mengungkapkan semua yang sebenarnya saya maksudkan.

Melalui kata-kata, kita berbicara dengan orang lain, jika kita bermaksud orang lain memperoleh gambaran dari apa yang kita pikirkan/rasakan.  Bahwa senyum manis, tatapan dan kerlingan mata, jabat tangan yang erat, pelukan yang hangat, dan ciuman yang mesra,  bisa mengungkapkan rasa di hati, namun kata-kata akan memperjelas ungkapan rasa itu.  Jika tak ada kesempatan untuk diperjelas dengan kata-kata, rasa di hati kadang menjadi menyiksa, menimbulkan kesepian dan “bete”.  Sayapun menulis rangkaian kata-kata di atas, untuk sekedar mengungkapkan sebagian pikiran di otak dan rasa yang berkecamuk di hati, eh.. di jantung.  Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip kata-kata Kahlil Gibran, “Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau telinga kehidupanmu; namun marilah kita coba saling bicara, barangkali kita dapat mengusir kesepian dan tidak merasa jemu.

Silakan berkomentar, ungkapkan rasa dengan kata-kata.

Terima kasih.

Oh ya, 13 jam yang lalu saya menulis status FB, “SESUATU banget, itu bukan SESUASU banget, khan?

Salatiga, 14 November 2011
RT Wijayantodipuro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: