Manajemen Prostitusi :)

Ketika membaca tulisan “KISAH PENJUAL SEX” di , sebuah tulisan yang jujur melihat wanita pelacur sebagai “hal yang wajar”,  saya teringat beberapa  tahun lalu pernah menulis tentang pelacur. Sayang tulisan itu sudah lenyap, bersama lenyapnya content website yang pernah saya bangun (http://salatiga.biz), karena kena serangan hacker.  Tetapi ide tulisan itu masih teringat sampai hari ini.

Pada waktu itu, saya menulisnya, karena teringat  suatu malam pulang dari kampus, di Jalan Wahid Hasyim, Salatiga, saya melihat seorang wanita agak tua menatap penuh harap pada lampu-lampu mobil yang lewat.  Saya menduga perempuan itu adalah seorang pelacur yang tersisih dari komunitasnya, dan terpaksa  seorang diri mencari pelanggan di tepi jalan raya.

Seandainya diijinkan didirikan perusahaan jasa pelacuran yang berbadan hukum resmi, niscaya nasib para pelacur bisa lebih baik.  Tidak perlu mencari pelanggan sendiri di pinggir jalan raya, karena sudah ada bagian Marketing yang bertanggungjawab atas omzet.  Tidak perlu repot berpikir soal penampilan dan kesehatan, karena ada bagian Quality Control yang menjamin “produk” nya layak bagi konsumen.  Tidak perlu sampai tua tetap melacur, karena pensiunnya sudah diperhatikan oleh bagian HRD (Human Resources & Development).  Mungkin pengelolaan perusahaan ini akan jauh lebih baik daripada sekedar kompleks Lokalisasi yang dikelola oleh Pemerintah, yang  para pelacurnya  tidak terlalu berdaya karena dibawah kendali pada para Germo.

Ah, saya hanya berkhayal.  Tetapi seandainya boleh didirikan perusahaan semacam itu, mungkin saya akan menanam saham, dan keuntungan dari saham itu, akan saya gunakan untuk pekerjaan pelayanan  (hahaha….). Atau, saya siap jadi konsultan Quality Control, dan teman saya akan saya ajak untuk menjadi pelatih untuk  “personal development” bagi para karyawatinya, dan teman yang lain akan saya minta menangani  para karyawati yang “disersi”, yang keluar dari perusahaan  karena sudah bertobat.

Saya tulis juga, bahwa menjadi pelacur itu bukan pekerjaan yang mudah.  Dalam bayangan saya, mereka harus bisa bermain peran yang berbeda-beda.  (dalam kuliah Manajemen Kualitas, ini bagian dari kemampuan ‘customize  produk layanan’.  Menjadi adik yang manja, bagi seorang pria dewasa yang membutuhkan kesenangan ragawi, menjadi kakak yang pengertian bagi seorang pria muda yang kebingungan.  Menjadi teman ‘main’ yang hangat atau teman ngobrol yang luwes bagi seorang suami yang kecewa dengan istrinya. Mereka harus bisa selalu tersenyum atau tertawa, sekalipun hati tersayat oleh berbagai kekecewaan hidup.  Dan yang lebih membutuhkan ketegaran, adalah mereka harus tampak baik ketika hadir di tempat ibadah, sebab kalau mereka terlihat “tidak baik”, akan jadi pembicaraan orang-orang “sok suci” di tempat ibadah, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk ditolak hadir dalam ritual-ritual ibadah.   Tidak mengherankan kalau di Belanda ada sekolah khusus calon pelacur.  Jika hendak jadi pelacur, perlu juga menjadi pelacur yang baik, bukan hanya modal dandan menor,  membuka paha dan mendesah-desah. Pelacur yang baik adalah hasil belajar, bukan bakat bawaan lahir.

‘Ngomong’ tentang pelacur, saya jadi ingat lagu Ebiet G. Ade (salah satu penyanyi favorit saya) Cintaku Kandas di Rerumputan , yang kadang saya nyanyikan sejak saya masih SD, tapi baru tahu artinya ketika masuk SMA.  Ingat juga lagu “Kisah Seorang Pramuria“-nya  The Mercy’s, sebuah grup musik legendaris, yang saya hafal beberapa lagunya.  Dan yang jelas, saya selalu ingat kisah Yeshua (Yesus), ketika “membebaskan” seorang yang kedapatan berbuat zinah, yang hendak di rajam oleh orang-orang.  Yeshua berkata, “siapa yang tidak berbuat dosa, silakan melemparkan batu yang pertama kali“, tidak ada yang melempar batu ke wanita itu, dan akhirnya Yeshua bilang ke perempuan itu, “pergilah dan jangan berbuat dosa lagi“.

Yeshua mengajarkan kepada kita, bahwa penghakiman kepada orang lain itu tidak perlu, sebab kita masing-masing juga bukan orang yang “bersih”.  Dalam kadar dan jenis yang berbeda, kita semua pernah, bahkan mungkin masih terus -menerus berbuat dosa.  Yang bisa kita lakukan adalah mari bersama-sama kita belajar, untuk hidup makin baik, makin baik di hadapan sesama maupun di hadapan Tuhan. Ukuran kebaikan itu adalah norma-norma masyarakat dan norma-norma (yang dianggap berasal dari Firman) Tuhan.  Kitab-kitab (yang dianggap) suci, kitab-kitab kumpulan tulisan-tulisan ajaran kebijaksanaan, bisa kita jadikan referensi untuk “makin baik” itu.

Mereka ada di sekitar kita, mereka adalah teman.

Seorang teman, yang pernah mengantar kenalannya ke sebuah tempat karaoke untuk ‘cari teman kencan’,  pernah menunjukkan sebuah account Facebook, pemiliknya seorang perempuan muda, tinggal di (dekat) Salatiga, dan salah satu profesi sampingannya adalah “perempuan panggilan”. Saya mencoba memancing teman yang sudah friend sama perempuan muda itu dengan mengirim message, “Itu siapa?”, Cuma dijawab, “Teman Mas, knapa tow?”.  Tidak apa-apa, begitu reply saya.  Seorang teller di sebuah bank, yang dulu selalu tersenyum jika saya datang di bank itu,  dikabarkan juga “bisa dipakai”. Beberapa mahasiswa juga sering ngobrol, bahwa mahasiswi ‘si anu’ itu biasa dipakai om-om.

Tentang mahasiswi, beberapa tahun lalu, saya pernah cukup dekat dengan seorang mahasiswi yang kabarnya “bisa dipakai”, tetapi selama dekat dengan saya (maksudnya dekat, tidak seperti kebanyakan mahasiswa yang lain, yang hanya ketemu di kelas kuliah, dan hanya berbincang tentang  mata kuliah), kadang datang ke kantor, ngobrol tentang berbagai hal, termasuk hal-hal pribadi, tak tampak sedikitpun bahwa dia gadis (kalau masih gadis) ‘nakal’.  Memang dia sempat bercerita, alasannya memutuskan berpenampilan “seksi”, wajah dan rambutnya terawat baik, roknya selalu diatas lutut (ya jelas di atas lutut, kalau di bawah lutut, namanya “mlotrok“, hihihi….), dan kalau duduk membungkuk, kadang terlihat sedikit  bagian atas pantatnya.  Waktu itu saya sangat setia dengan tunangan saya (yang sekarang jadi istri saya — sekarang-pun saya setia sama istri, lho….), sehingga ketika mahasiswi ini menyiratkan ajakannya untuk jalan-jalan ke Semarang, tidak saya respons.  Tetapi penyesalan selalu datang belakangan, sampai sekarang tidak ada kabar beritanya, bahkan di Facebook-pun sampai sekarang tidak saya temukan account-nya.  Mungkin saja perempuan cantik dan mungil itu sudah benar-benar pergi ke Eropa, seperti cita-citanya setelah lulus kuliah.

Saya sedikit menyesal, karena hanya sekilas mengenalnya, padahal saya punya peluang besar untuk mengenalnya lebih dekat.  Waktu itu memang saya tidak terlalu berminat untuk belajar tentang kehidupan.  Berbeda dengan saat ini, minat saya pada “kehidupan manusia” dan “rahasia Tuhan” lebih besar dibandingkan dengan masa-masa yang lalu. Saya jadi ingat quote ini: “Some people come into our lives and quickly go. Some stay for a while, leave footprints on our hearts,  and we are never, ever the same.” (Flavia Weedn).   Mahasiswi ini termasuk yang “quickly go“, hihihihi…. (but I still remember her name, her ‘nice’ face, her sweet voices, and her beautiful leg, hahaha…)

We are  never, ever the same before,  by all people we meet, and interact with.  So, to some friends, we can tell “thanks for being my partner”  All of our  friends  are our partners to learn about life. Make a friend, and whatever happen in our friendship, we can take it as experiences in our life.  Need no regret of all our friendship’s stories. ]

Seorang mahasiswi yang pernah ngobrol dengan saya, berkisah, bahwa lebih baik dibayar oleh om-om daripada melakukan free sex dengan teman kuliah. Mahasiswi ini sangat rasional, sama-sama melakukan sexual intercourse, lebih menguntungkan jika ada bayarannya.  Sayapun tidak bisa membantah argumentasinya.  Itulah pilihan hidupnya, dan saya menghormati pilihan itu, walau saya sempat menyarankannya untuk mengakhiri semua petualangan (ber)cintanya. Saya katakan, dipercaya atau tidak, karma akan selalu ada, setiap perbuatan kita akan ada akibatnya.  Hukum sebab-akibat adalah hukum alam yang tidak bisa dilawan oleh makhluk alamiah, kecuali dengan bantuan kekuatan ilahi.  Tetapi mahasiswi yang lain, memilih melakukan free sex di kamar kost-nya, dengan temannya yang bisa membuat dia merasa nyaman.

Mengapa kalau “itu” disebut pelacur, kalau yang lain bukan?

Saya kadang bertanya-tanya, mengapa kalau yang menjual “sex” disebut pelacur, sedangkan yang menjual bagian tubuh lain, tidak?  Seorang foto model, juga menjual kemolekan dan keindahan tubuh, tapi tidak pernah disebut pelacur.  Seorang artis pemain sandiwara atau film, menjual akting tubuhnya, tidak pernah disebut pelacur.  Seorang pendeta atau guru/dosen, menjual “omongan” mulutnya, tidak pernah disebut pelacur.  Para petinju menjual kekuatan pukulannya, para pemain bola menjual ketrampilan kakinya,  tidak pernah disebut pelacur, dan sebagainya.

Bukankah mereka itu sama-sama menjual “bagian tubuh” untuk menghasilkan uang?  Kitab Suci menyebutkan, “persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, itulah ibadahmu yang sejati“, tapi, ternyata ada perkecualian,  tidak termasuk mempersembahkan organ seksual  (yang juga bagian dari tubuh) untuk kesenangan/kepentingan sesama manusia….

Lagi-lagi ini soal NORMA, dan kesepakatan masyarakat pada umumnya. Menjual ‘sex’ melanggar norma masyarakat (khususnya norma yang didasarkan pada teks-teks di kitab suci), maupun norma kesusilaan yang terbangun di masyarakat luas.  Tetapi sebenarnya yang “salah” siapa? Pelacurnya atau penikmat (nikmat tow?)  pelacur itu?  Jika mengikuti hukum JB.Say “supply creates its own demand“, ketersediaan pelacurlah yang menyebabkan ada pria “hidung belang”.  Tetapi hukum itu tidak selalu benar, karena bisa jadi adanya pelacur itu karena memang ada permintaan/demand.  Nyatanya, ada beberapa teman yang memang mencari-cari pelacur untuk teman tidurnya (jadi ingat teman kuliah dulu yang kadang membawa ‘pulang’ pelacur ke kamar kost-nya).

Penelittian tentang kehidupan pelacur dan pelacuran, biasanya dilakukan oleh teman-teman di bidang sosiologi atau teologi, dan sampai hari ini belum pernah saya jumpai mahasiswa/mahasiswi Fakultas Ekonomi, (bidang Marketing, Finance atau SDM) yang menulis skripsi bertopik pelacur/pelacuran.  Namun, selama “stigma” terhadap kehidupan pelacur/pelacuran masih selalu negatif, tentu bukan hal yang mudah untuk menggali datanya.  Bukan berarti kehidupan pelacur/pelacuran adalah positif, tetapi mungkin lebih baik jika kita melihatnya sebagai FAKTA yang ada di sekitar kita, tidak perlu kita tolak mati-matian (seperti kelompok  “sok suci” yang berhasrat membersihkan dunia ini dari semua jenis kemaksiatan, padahal SETAN saja dibiarkan oleh Tuhan untuk tetap berada dan bekerja di dunia ini), atau sebaliknya, tidak juga kita mati-matian inginkan (sepertinya manusia tidak memiliki cara lain untuk memenuhi kebutuhan uang (bagi pelacurnya) dan kebutuhan seks (bagi penikmatnya) )

[ Jadi ingat kata-kata Ki Ageng Suryamentaram, “Salumahing bumi, sakurebing langit, punika boten wonten barang ingkang pantes dipun aya-aya dipun padosi, utawi dipun ceri-ceri dipun tampik” (“di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang yang pantas dicari, dihindari atau ditolak secara mati-matian”) — ini pelajaran di Kawruh Jiwa ]

Kita mungkin bukan pelacur seksual, tetapi bisa jadi pernah menjadi pelacur-pelacur yang lain.  Anggota masyarakat menjadi pelacur suara, ketika memilih wakil rakyat atau kepala pemerintahan karena dibayar.  Para pejabat atau yang menjalani profesi tertentu, mungkin menjadi pelacur kekuasaan ketika mengambil keputusan karena disuap sejumlah uang.  Rohaniawan mungkin menjadi pelacur spiritual, ketika mengatasnamakan Tuhan untuk mengambil keuntungan diri sendiri. Akademisi mungkin menjadi pelacur intelektual, ketika keilmiahan dilanggar demi kepentingan (kekuasaan) tertentu.

Ah, sudah lah.. sudah diajak istri pergi jalan-jalan ke Gedong Sanga. (jadi ingat, lebih dari 10 tahun yang lalu,  pernah slip kopling  ketika naik tanjakan di dekat Gedong Sanga, mobil tak mau jalan  meskipun gas ‘pol’ dan kopling sudah ‘lepas’, tapi seorang teman begitu sigap, segera turun dari mobil dan langsung mendorong Corolla DX yang saya kemudikan)

===

Tulisan ini khususnya saya dedikasikan untuk beberapa teman kuliah yang pernah ‘iseng’ menggagas Mata Kuliah “Manajemen Prostitusi” (ManPros), hihihi..

Baca juga tulisan ini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150333999583551

Salatiga, 29 Oktober 2011

RT Wijayantodipuro

++++++++++++++

GADIS REMANG-REMANG (Ebiet. G.Ade)

Waktu kau bicara
berhamburlah bujuk manis bagai madu
Melantunkan segala pujian
Bergelora dada setiap lelaki
yang mendengar

Waktu kau menatap
kau rentang busur, kau lepas anak panah
Menuju sasaran akurat
Berbungalah dada setiap lelaki
yang terlena

Gadis, jalan yang kau tempuh rasanya keliru
Malam yang bening ini engkau perlakukan
rumah kegelapan
Aku nasihatkan kepadamu
Tak semua lelaki gampang tergoda
Tak akan lama kau dapat bertahan
di dalam nista

Waktu telah berjalan
Semua mata merobekmu hina dina
Hanya tinggallah satu jalan
Bertobat dan kubur semua kenangan,
gadis jalang

Gadis, mimpimu kusut masai seperti sampah
Malam yang bening ini engkau perlakukan
rumah kegelapan
Aku nasihatkan kepadamu
Tak akan lama nikmat dapat kau reguk
Tak akan lama kau dapat bertahan
di dalam nista

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: