Siapakah jodohku?

Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.  Cinta adalah kecocokan jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad. (Kahlil Gibran)

Sekitar 18 tahun yang lalu, ketika itu aku (masih) aktif di kegiatan pemuda/remaja gereja, aku punya kesempatan bagus untuk berteman dengan banyak pemuda dan pemudi dari beberapa gereja. Di antara beberapa pemudi yang aku kenal, tentu saja ada yang membuat ‘dophamine‘ di otakku bekerja, dan aku melihat ada kesempatan untuk bisa ‘dekat’ dengan beberapa pemudi dari gereja-gereja yang berbeda.  Suatu kali aku bersama beberapa teman, berdiskusi suatu hal dengan seorang pendeta (entah siapa pendeta itu, sekarang-pun aku sudah lupa).  Dalam diskusi itu, aku sempat bertanya, “Bagaimana menurut Bapak, seandainya saya memiliki beberapa orang pacar, mereka tidak saling tahu, dan dari antara beberapa pacar itu, nanti saya memutuskan untuk memilih salah satu untuk menjadi istri?”. Pendeta itu menjawab singkat, “Kamu dilahirkan bukan untuk itu.”  Kemudian beliau menceritakan bagaimana kisah perjumpaannya dengan istrinya. Diawali dengan mimpi/penglihatan, dan kemudian mereka menikah.  Jawaban Pendeta itu, membuat aku mengambil keputusan “tidak” bagi ‘cita-cita’ku memiliki beberapa pacar sekaligus.  Dan ditahun-tahun selanjutnya, aku memang tidak berpacaran dengan siapapun, kecuali sekali dengan perempuan yang sekarang menjadi istriku.  Memang di masa itu, aku punya beberapa teman dekat, bahkan ada yang sangat dekat, namun tak pernah berstatus “pacaran”.

Setiap orang memiliki kisah ‘cinta’ masing-masing, tidak ada rumus “mencari jodoh” yang paling efektif. Ada orang yang ‘enteng jodoh’, ada yang sulit mencari pasangan hidup, bahkan ada yang seumur hidup tidak berjodoh dengan siapapun. Ada yang punya jodoh lebih dari satu, berpasangan dengan beberapa orang, atau berganti pasangan.  Hm.. setiap pasangan dianggap “jodoh”, dan kalau ada ketidakcocokan di kemudian hari, dianggap “tidak berjodoh”.  Sebenarnya perlu jelas dulu, ini tentang jodoh (Jawa=jodho) atau tentang suami/istri (Jawa=Bojo).  Bojo (suami/istri), tidak harus berjodoh, ada banyak sebab seseorang kemudian menjadi suami-istri.  Ada yang sukarela, ada yang dipaksa, ada yang terpaksa.  Pasangan suami-istri, yang kemudian bercerai, membuktikan bahwa mereka sebenarnya tidak berjodoh (atau hanya berjodoh sementara?), sebab, kalau memang berjodoh, tak ada alasan untuk bercerai, namanya sudah jodoh, pasti “klop”.  Orang Jawa memiliki istilah “garwa” untuk suami/istri yang memang berjodoh.  Garwa itu ber-jarwadhosok “siGARaning jiWA” (belahan jiwa) atau ada yang menyebut “sigaraning nyawa” (belahan nyawa).  Di sini, aku menulis tentang jodoh (garwa), bukan sekedar suami/istri

Orang-orang yang percaya adanya Tuhan, banyak yang yakin bahwa LAHIR, JODOH dan MATI itu di tangan Tuhan.  Kata-kata singkat “jodoh di tangan Tuhan” menjadi kata penghiburan untuk ‘menyerah’ kepada ‘nasib’,  hendak berjodoh pada siapa.  Seperti halnya kelahiran dan kematian, tergantung nasib.  Kita tidak bisa meminta lahir dimana, dalam kondisi bagaimana, tahu-tahu sudah lahir, kita juga tidak bisa menentukan akan mati kapan dan dengan cara bagaimana.  Benarkah? Pada banyak kasus, benar, tetapi selalu ada pengecualian.  Orang bunuh diri, itu menentukan sendiri jalan kematiannya. Bayi yang dipaksa dilahirkan tanggal 11-11-2011, padahal sebenarnya belum akan lahir, menjadi lahir karena dipaksa oleh orang tuanya. Apakah pemaksaan itu kehendak Tuhan, aku yakin “tidak”.  Tuhan memberi kebebasan (free will), bagi manusia untuk menentukan beberapa jalan hidupnya.  Hidup adalah tentang PILIHAN dan KONSEKUENSI.

Demikian juga tentang jodoh, kita punya kebebasan untuk memilih satu orang dari sekian banyak orang yang kita temui, untuk menjadi “calon jodoh” kita.  Kebebasan itu termasuk kebebasan kita untuk menyerahkan pilihan itu kepada Tuhan, jika kita yakin bahwa Tuhan akan memilihkan seseorang untuk kita.  Tetapi, beranikah kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan, dan membiarkan Tuhan berkehendak atas diri kita; membiarkan tangan Tuhan memilihkan seseorang untuk menjadi jodoh (garwa) kita?  Bukan hal yang mudah, menyerahkan semuanya kepada Tuhan.  Perlu kerelaan untuk mematikan keinginan/hasrat untuk “jatuh cinta” pada orang-orang yang tampak menarik, perlu kepekaan yang tinggi untuk mendengar suara Tuhan, ketika Tuhan sebenarnya sedang menunjukkan seseorang itulah jodoh kita.  Bukan mustahil, tetapi bukan hal yang mudah.  Paling gampang adalah ketika kita menemukan seseorang yang menarik hati, kemudian kita KLAIM bahwa itulah jodoh yang diberikan/dikehendaki Tuhan. (dan ketika kemudian terjadi perpisahan, apakah Tuhan sedang “mencla-mencle” (tidak konsisten) dengan kehendakNya? — aku ingat seorang teman di persekutuan mahasiswa, yang suatu kali bersaksi bahwa pacarnya adalah “jodoh pilihan Tuhan”, dan ketika kemudian mereka putus pacaran, aku bertanya ke dia, “Apakah Tuhan merubah pilihanNya?”.  Teman ini-pun tersenyum kecut.)

Tidak perlu terlalu berani meng-KLAIM “ini dari Tuhan”, kalau kita TIDAK TAHU, bahwa seseorang itu memang diberikan Tuhan untuk kita.  Bisa jadi, dan paling banyak terjadi, jatuh cinta pada seseorang hanyalah “ulah” dari dophamine di otak kita.  Dophamin adalah sebuah “neurotransmiter” di otak manusia yang memicu rasa nikmat.  Jika dophamine di otak kita bekerja, kita akan mampu membayangkan kenikmatan-kenikmatan.  Oleh karena itu, orang yang “jatuh cinta”, sangat mudah membayangkan ini-itu, begini-begitu, membayangkan hal-hal yang indah.  Jika dophamine terlalu banyak, orang akan berhalusinasi.  (aku bukan ahli otak, juga bukan ahli syaraf, tentang dophamine ini hanya dari katanya…, hehehe)

Berkaitan dengan free will, kebebasan kita untuk “menentukan” jalan hidup kita, kita bisa saja MEMINTA Tuhan memberikan kepada kita jodoh yang sesuai dengan persyaratan yang kita inginkan.  Kita boleh ingin ini-itu, dan membawa keinginan itu  kepada Tuhan, melalui doa.  Dulu aku  menyampaikan keinginan , “Tuhan, aku ingin menemukan jodoh tidak di tempat wisata, atau di perjalanan, aku ingin menemukannya di gereja atau di tempat kerja.” (Nampaknya doa itu dijawab Tuhan,  aku ‘menemukan’ istri di gereja).  Pun aku punya kriteria-kriteria tertentu untuk calon jodohku.  Satu kriteria yang mudah adalah “tidak memalukan jika diajak jalan-jalan, dan tidak mengkuatirkan jika ditinggal di rumah”.  Kriteria-kriteria yang lain, tidak perlu aku sebutkan di sini, yang jelas aku sudah lama mempelajari tentang “katuranggan wanita“, sehingga aku tahu, bagaimana ciri-ciri wanita yang baik.  [ Katuranggan berasal dari kata turangga, artinya kuda. Katuranggan adalah “ilmu” untuk mengenali ciri-ciri fisik kuda yang bagus.  Katuranggan wanita, kemudian dipakai sebagai istilah untuk menyebut “ilmu” untuk mengenali sifat-sifat seorang wanita dari ciri-ciri fisiknya. Dari ciri-ciri fisiknya, kita bisa menilai/menduga bahwa seorang wanita itu lembut atau keras kepala,  egois atau tidak,  akan memberikan anak-anak yang ‘cakep’ atau tidak, mendatangkan rejeki atau tidak, dan lain-lain.  Oh ya, juga yang cukup penting bagi pria, nikmat diajak bercinta atau tidak, hihihi…]

Jadi, menurutku, urusan jodoh, tidak semata-mata “berserah kepada Tuhan”.  Jika kita memang orang yang  diperhatikan Tuhan, bisa saja Tuhan yang memang mengurusnya.  Tetapi ingat, kita itu hanya seorang manusia, diantara sekian milyar manusia di bumi.  Bumi hanyalah sebuah planet kecil diantara sekian planet di tatasurya “matahari”.  Tatasurya ‘matahari’ ini, hanya satu di tepian galaksi Bima Sakti (Milky Way), di antara jutaan tata surya yang ada.  Bima Sakti hanyalah satu galaksi diantara milyaran galaksi.  Urusan Tuhan sangat kompleks, tidak hanya mengurus “jodoh” seorang “virus” di bumi.  Bukan mengecilkan kuasa Tuhan, karena Dia maha kuasa, tetapi perlu upaya ekstra, jika kita ingin diperhatikan oleh Tuhan, termasuk urusan jodoh ini.

Coba bayangkan, Ester adalah seorang gadis cantik, (Ester temanku, memang cantik,  entah gadis atau sudah bukan…, hehehe) ada banyak pemuda yang naksir dia. Semua pemuda yang naksir dia, berdoa kepada Tuhan, meminta kepadaNYA untuk memberikan Ester itu menjadi jodohnya, “Doa pemuda yang mana yang dijawab Tuhan?” Seandainya para pemuda itu tidak ada berdoa, apakah tidak akan ada yang menjadi suami Ester?.  Atau, misalnya ada seorang pemuda yang naksir Ester, berdoa kepada Tuhan agar Ester bisa “makin dekat”, tetapi Ester pada dasarnya tidak suka kepada pemuda itu, dan Ester berdoa agar pemuda itu “makin jauh”, doa siapa yang akan dijawab Tuhan, doa pemuda itu atau doa Ester? [tapi aku akan berdoa, supaya Ester menemukan jodohnya, dan jodohnya pasti bukan aku, karena aku sudah berjodoh dengan istriku, jauh sebelum aku kenal Ester.]

Kalau memang mau mendapat “jodoh dari Tuhan”, ingat kata-kata “jodoh di tangan Tuhan”, jadi temukan dulu Tuhan, temukan tanganNya di mana, dan temukan jodoh di tanganNya.  Konon, Yeshua pernah berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. – Matius  6:33 -.  Jika Yeshua “tidak membual”, maka jika kita sudah menemukan “Kerajaan Tuhan”, urusan jodoh itu bukan persoalan, karena pasti “akan ditambahkannya”.  Aku punya banyak teman yang tidak kesulitan cari jodoh, bahkan ada yang tidak mencari-pun, menemukan.

Aku sendiri, mungkin bukan yang termasuk mencari-cari, tetapi “tiba-tiba” menemukan.  Waktu itu aku habis jalan-jalan di malam tahun baru (ke  Solo, Tawangmangu, Candi Sukuh, Astana Giribangun, dan kemudian mandi/berenang di Pemandian Pengging – Boyolali), dengan seorang teman. Karena mengendarai mobil dari hampir jam 11 malam sampai siang hari berikutnya, aku sangat ngantuk, aku ajak temanku untuk mampir di gereja di Salatiga, istirahat, sekalian melihat acara tahun baru anak-anak Sekolah Minggu.  Aku melihat “dia” sedang berada di depan ruangan dihadapan anak-anak, dari belakang ruangan beberapa meter dari “dia” berdiri. Aku berbisik ke temanku, “aku naksir dia”.  Saat itu aku sama sekali belum mengenalnya, bahkan nama lengkapnya-pun aku belum tahu. Aku berdoa kepada Tuhan, “Jika Tuhan menghendakiku berjodoh dengannya, tolong berikan jalan untuk mengenalnya, dan bisa dekat dengannya”.  Singkat cerita, kami kenal, pacaran, tunangan, kemudian menikah dan kemudian punya anak-anak.

Tentang mengapa aku “tiba-tiba” naksir dia, itu tidak bisa dijelaskan secara singkat.  Saat itu aku punya banyak teman perempuan, beberapa diantara teman juga cantik, tetapi tidak ada yang benar-benar membuat “jatuh cinta”. Memang, beberapa bulan sebelum ‘perjumpaan itu’,  aku pernah tertarik pada seorang teman yang cantik, tetapi setelah beberapa kali  aku dolan ke rumahnya, ada satu hal yang membuatku mundur dari perjuangan “to win her heart“, rasanya tidak cocok lah… , sekalipun ketika aku tanya, “Apakah ada kesempatan buatku?”, dia jawab, “Ada tetapi kecil”.

Selain belajar tentang katuranggan wanita, aku juga baca buku-buku tentang cinta, tentang pacaran, tentang pria dan wanita, tentang “mars and venus”.  Dari yang aku baca (pelajari), aku bisa ‘agak tenang’ ketika ‘jatuh cinta’, walau waktu itu aku belum tahu tentang kerja dophamine di otak.  Dan yang aku sarankan ke beberapa temanku adalah “baca buku”, bahkan ada bukuku yang aku berikan ke teman, ketika teman itu sedang ‘jatuh cinta’. Sudah banyak orang yang berpengalaman jatuh cinta, dan kita bisa belajar darinya, bagaimana mengelola ‘rasa’ dan ‘sikap’ ketika cinta itu  hadir di hati.   Prinsipnya, manusia bukan hanya terombang-ambing oleh NALURI, namun perlu pakai otak untuk mengendalikan  diri.  Manusia bukan binatang yang hanya mengandalkan insting untuk  bercinta.

Dinamika ‘jatuh cinta’: sexual intercourse sebelum nikah.

Secara naluri, pria akan memberikan ‘cinta’ untuk mendapatkan seks dan perempuan akan memberikan seks untuk mendapatkan cinta.  Kalau hanya menuruti naluri,  cinta dan seks akan jadi paket komplit dalam relasi pria-wanita.  Beberapa perempuan (belum menikah) yang aku kenal, secara jujur mengatakan bahwa sudah tidak gadis lagi.  Sudah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya, atau dengan mantan pacarnya.  Beberapa malah ganti-ganti pasangan.  Demikian juga beberapa teman pria, sudah tidak perjaka lagi.  Bagi sebagian teman, seks dianggap hal yang biasa, ketika keinginan timbul, kesempatan ada, jalani saja dengan tanpa memperhitungkan risiko atas pilihan itu.

Bagi perempuan, risiko yang sering kali ditanggung adalah, ketika pasangan seks itu kemudian meninggalkannya, tidak lagi menjadi pacar atau calon suami. Rasa bersalah, penyesalan, dan kadang “putus asa” akan menghantuinya.  Risiko yang lain adalah kehamilan yang belum dikehendaki.  Aku punya beberapa teman yang terpaksa terlalu cepat menikah karena hamil duluan.  Memang ada beragam penyelesaian ketika kehamilan terjadi, paling banyak adalah menikahkan “pasangan” itu, tetapi juga ada yang mengambil jalan, menanggung kehamilan, kelahiran anak dan perawatan anak, tanpa pria pasangannya.  Bahkan ada teman yang ketika kehamilan terjadi, tidak yakin teman pria yang mana yang menyebabkan hamil, dan kemudian dipilihlah seorang pria untuk “bertanggung jawab” menjadi suaminya.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa yang diinginkan pria dalam sebuah hubungan khusus dengan lawan jenis, adalah seks. Itu sudah menjadi naluri pria.  Bahkan aku pernah membaca buku, seorang pria mungkin saja akan bosan pada seks dengan perempuan yang sama, tetapi akan bergairah lagi, jika dihadapkan pada perempuan yang berbeda. Itu naluri pria.  Perempuan lebih cenderung mementingkan kebersamaan, kasih sayang, perlindungan atau singkatnya “cinta” daripada seks, dan untuk mendapatkan itu, perempuan akan rela memberikan seks kepada pasangannya.  Tetapi ingat lagi, kita hidup bukan hanya karena NALURI.  Kita hidup dalam masyarakat yang berbudaya, termasuk budaya “agama” yang memberi rambu-rambu bagaimana sebaiknya relasi antar manusia (khususnya lawan jenis) dijalin.

Aku tidak akan menuliskan, ayat-ayat yang dapat menjadi rujukan agar kita lebih hati-hati dalam menjalin relasi dengan lawan jenis.  Begitu banyak ayat, sehingga kita bisa mencari pembenaran atas apa yang kita lakukan atau tidak lakukan.  Namun yang penting bukan pembenaran atas apa yang kita lakukan atau tidak lakukan, melainkan kesadaran bahwa setiap pilihan yang kita ambil memiliki konsekuensi, dan perlu tambahan kesadaran, apakah konsekuensi yang akan timbul, itu mengenakkan atau tidak mengenakkan, apakah kita tanggung dengan ringan, atau berat.  Saranku singkat, tidak perlu melakukan hubungan seks sebelum menikah, tetapi kalau sudah menikah, jangan sungkan melakukannya dengan pasangan, agar cinta tetap bergelora.  Bagi yang sudah terlanjur melakukan sebelum nikah, ya…, tanggung saja konsekuensi yang akan muncul.  Bukan soal dosa/tidak dosa, sebab dosa bisa diampuni, kesalahan bisa dimaafkan,  tetapi bahwa sebuah pilihan pasti membawa konsekuensi, dan kadang pilihan sesaat, memberi konsekuensi sepanjang waktu. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, yang ada adalah sebab-akibat (ada orang yang menyebutnya karma, ada yang menyebutnya “barangsiapa menabur akan menuai”).

Jadi, bagaimana sebaiknya?

Pasangan seks, tidak selalu pasangan yang berjodoh, jadi tidak perlu tergesa-gesa menyangka bahwa orang yang pernah menjalin hubungan khusus dengan kita, adalah jodoh kita.  Contoh, seks dengan pelacur, tentu tidak akan mengaku sedang melakukannya “dengan jodohnya”. Suami-istri yang bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga, bisa bercerai karena berbagai persoalan dan pilihan hidup, padahal dulu ketika awal menikah, sudah yakin bahwa “ini jodohku”.  Atau sebenarnya hanya “ini jodoh sementara-ku”?  Tentu akan panjang lebar jika kita bahas tentang perceraian, tetapi paling tidak, istilah “ini jodohku” itu baru akan valid, kalau sudah menikah.  Jika baru pacaran, apalagi baru “pdkt”, sangat prematur menyebutkan “inilah jodohku”, kecuali kita tahu persis memang Tuhan yang menunjukkannya.

Sekarang tergantung dari pilihan kita masing-masing, mau mencari jodoh, atau mencari pasangan seks? Mau mencari pacar atau mencari suami/istri?  Pacaran adalah tahap yang perlu dilalui sebelum masuk jenjang pernikahan, karenanya pacaran hanya dibutuhkan ketika bermaksud melanjutkannya ke pernikahan.  Jika tak berencana menikah, tak perlu pacaran, karenanya, berpacaranlah ketika sudah ada keinginan menikah.  Soal lama waktu pacaran, masing-masing pasangan bisa menentukannya sendiri, tetapi kalau pacaran tidak dimaksudkan untuk bermuara ke pernikahan, itu hal yang sia-sia, memakan banyak energi.  Tetapi jika hendak dilakukan, ya boleh-boleh saja, tidak ada larangan.

Kalau memang mau mencari jodoh (suami/istri), tentu kita boleh mengajukan beberapa persyaratan bagi calon istri/suami kita.  Tentu syarat yang realistis, diukur dengan kondisi/keadaan kita sendiri.  Kita masing-masing punya pertimbangan sendiri, mau memilih calon istri/suami yang seperti apa, yang bagaimana.  Orang lain boleh saja tidak setuju dengan pilihan kita, namun kita punya alasan tersendiri mengapa memilih “dia”.  [ If you press me to say why I loved him, I can say no more than because he was he, and I was I.  (Michel de Montaigne), modified –> If you press me to say why I loved her, I can say no more than because she was she, and I was I ].

Orang-orang dekat, memang bisa saja memberi intervensi, dukungan atau pencegahan, tetapi yang paling penting adalah yang akan menjalani kehidupan bersama itu.  Namun, ingat lagi, kita hidup dalam masyarakat yang berbudaya, dengan bermacam-macam norma, dan norma masyarakat itu yang kadang membatasi pilihan kita.  Contoh, aku sudah punya istri, sudah punya anak, betapapun aku tertarik pada kecantikan seorang gadis muda, tidak akan aku memilih “meninggalkan istri demi ketertarikan pada kecantikan gadis muda itu”.  Demikian juga jika ada perempuan yang “tertarik” kepadaku, seorang pria beristri,  norma membatasinya.  Ketertarikan dalam hati, boleh-boleh saja, tapi tidak perlu dilanjutkan dalam tindakan-tindakan yang melanggar norma yang ada.  Toh, ketertarikan itu sebagian besar hanya karena “ulah” dophamine di otak kita.

Oh ya, satu lagi, masih ada yang percaya pada ‘nasib’ dan takdir. Aku belajar primbon Jawa, hitung-hitungan tentang pernikahan, ada orang yang memang cocok jadi pasangan, ada yang tidak cocok. Ada pasangan yang jika menikah, salah satunya akan cepat mati.  Ada pasangan yang menikah, akan sakit-sakitan dan jatuh miskin, dan sebagainya.  Jika kita tahu perhitungan-perhitungan hari lahir, tanggal lahir, waktu dilangsungkan pernikahan dan lain-lain, bisa jadi perlu juga dipertimbangkan.  Tetapi memilih mengabaikan “petunjuk” seperti itu, juga boleh. Sama halnya ketika menikah tidak mendapat restu orang tua, juga boleh khan?  Prinsipnya,  setiap kita BEBAS MEMILIH, dengan konsekuensi masing-masing.  Bukankah hidup hanya soal PILIHAN dan KONSEKUENSI?

[Aku tidak mau membahas soal pelet (pengasihan) dan sebangsanya, walau aku sedikit tahu apa itu ajian Semar Mesem dan Jaran Goyang, hihihihi…]

(tulisan ini aku dedikasikan untuk seorang teman, yang sedang “bingung” cari jodoh, semoga tidak makin bingung, tetapi kalaupun makin bingung, handphone dan Yahoo Messenger-ku selalu tersedia untuknya, mungkin kita bisa berdiskusi beberapa hal.)

Lagunya ini saja:  KINI KUSADARI

—– kini kusadari sendiri
—– tak mungkin hidup menyendiri
—– tanpa kawan pendamping hidupku ini
—– tempat curahan keluhan hati…

—– ingin kuleburkan hati beku
—– kupadukan dengan cinta baru
—– kuakhiri semua kisah yang lalu
—– terbit, oh terbit cinta yang murni…

—– semua ini berakhir dariku
—– kan kutempuhi hidup yang baru
—– semoga tak kan gagal lagi
—– yang membawa kebekuan di hati…

Salatiga, 15 November 2011
RT Wijayantodipuro

One response to this post.

  1. Tulisan yang menarik

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: