Siapa idola kita?

Dalam junggringan para pelajar Kawruh Jiwa di Salatiga, tadi sore (21 Mei 2011), pambahureksa Ki Wagiman Danu Rusanto bercerita:  dulu Ki Ageng Suryamentaram (KAS) belajar beberapa hal pada beberapa  guru.  KAS belajar Katholik, KAS belajar ilmu-ilmu kesaktian (kanuragan), KAS juga belajar tentang Islam, dan lain-lain.  Bahkan KAS juga “belajar sendiri” menjadi petani, juga pedagang.

Salah satu guru yang sempat dikagumi/diidolakan oleh KAS adalah KH Ahmad Dahlan, yang mengajari KAS tentang Islam.  Namun kekaguman KAS sirna, setelah suatu saat mendapati istri KH Ahmad Dahlan menangis.  Ditanya oleh KAS, “mengapa ibu menangis?”, dan ternyata “Bu”  Ahmad Dahlan menangis sedih karena KH Ahmad Dahlan berencana beristri lagi.

 

Ki Wagiman bercerita hal tersebut, untuk menunjukkan, bahwa ternyata tidak ada orang yang sempurna.  Manusia “UKURAN KE-4”  yang  “tanpa tenger” (sudah bebas dari kemelekatan) yang dikonsep di Kawruh Jiwa, hanya ada dalam TEORI, sebab dalam prakteknya, selalu saja ada kelemahan seseorang. Kramadangsa tidak bisa bebas dari kemelekatan.

 

KH Ahmad Dahlan di cerita sore tadi, yang semula dikagumi oleh KAS, karena kebijaksanaannya, karena pengajarannya yang bagus, ternyata bagi KAS, masih “sewenang-wenang” terhadap istrinya. (Mohon jangan salah tangkap dengan kata “sewenang-wenang” di sini.  Di Kawruh Jiwa, “sewenang-wenang” adalah istilah untuk mewakili salah satu sifat “ego”, selain sifat-sifat ‘ego’ yang lain, misalnya, ingin dipuja,  ingin selalu dianggap benar, ingin menguasai, dan lain-lain)

 

Saya tidak kaget dengan cerita tersebut, karena dari yang pernah saya baca, KH Ahmad Dahlan memang ber-poligami.  Saya pernah baca, ada 5 istri KH Ahmad Dahlan, entah benar atau tidak informasi yang saya baca tersebut, sebab ada juga yang menulis bahwa KH Ahmad Dahlan punya 4 istri. (tapi saya belum nonton film “Sang Pencerah”, belum tahu bagaimana di film itu juga ditunjukkan istri-istri KH Ahmad Dahlan?)

 

Tadi sore, salah satu yang datang di junggringan adalah seorang pendeta Hindu di Salatiga, bernama asli Bibit, dan beliau memperkenalkan diri sebagai “Mangku Bibit”.  Beliau menyampaikan, bahwa di dalam agama Hindu, konsep manusia “UKURAN KE-4” (manusia ‘tanpa tenger‘), juga ada.  Menurut beliau, ketika seseorang “diangkat” menjadi Pendeta Hindu, seseorang harus melepaskan ke-aku-an-nya, (melepaskan ego) bahkan juga melepaskan NAMA aslinya, sehingga beliau cukup hanya dipanggil Pak “Mangku” saja. (Mangku adalah sebutan untuk pendeta Hindu).

 

Saya tidak sampai selesai menghadiri junggringan tadi sore. Jam 4 saya pulang untuk menjaga anak-anak di rumah.  Saya pulang sambil merenung, bahwa salah satu yang diinginkan orang-orang Kristen adalah “makin menjadi serupa dengan Kristus”, artinya orang-orang Kristen meng-idola-kan Yesus (Yeshua), sebagai sosok yang patut diteladani.

 

Pertanyaan saya (dalam hati), apa yang di-idola-kan orang-orang Kristen dari Yeshua?

Kasih-nya?

Kelembutan-nya?

Ketegasan-nya?

Kuasa-nya?  atau “Kesaktian“-nya?🙂

Pengorbanan-nya?

 

Kesederhanaan-nya?

Ke-gondrong-an-nya? (walau ada yang menyatakan bahwa Yeshua ‘mestinya’ tidak gondrong, karena konon, pada masa Yeshua hidup, tidak pantas laki-laki berambut panjang *), tidak banamun di banyak lukisan, Yeshua digambarkan berambut gondrong)

Ke-selibat-an-nya?

Usia-nya yang pendek? (hanya 33 tahun)

atau apanya?

 

*) I Korintus  11:14 Bukankah alam sendiri menyatakan kepadamu, bahwa adalah kehinaan bagi laki-laki, jika ia berambut panjang,

 

Kalau saya, salah satu yang saya pikir sampai sekarang, apakah bisa meniru Yeshua berjalan di air tanpa tenggelam (bukan dengan trik sulap).  Kalau berjalan di bara api atau di pecahan kaca, itu “relatif mudah”, karena ada teorinya bagaimana bara api tidak akan membakar telapak kaki, dan bagaimana pecahan kaca tidak akan melukai telapak kaki.  Tetapi, berjalan di air tanpa tenggelam?  Wah… harus bisa melawan hukum gravitasi dulu.

 

Sudah tentu, ketika orang Kristen berharap “makin serupa dengan Kristus”, adalah serupa dengan Yeshua sebagai MANUSIA, sebab mustahil menjadi serupa dengan Tuhan.  Bagaimana mungkin manusia bisa serupa dengan Tuhan yang “tan kena kinaya apa, tan kena winirasa; cedhak datan senggolan, adoh tanpa wangenan” (tidak bisa diserupakan dengan apapun, tidak bisa dirasakan (dengan panca indera); dekat tanpa bersinggungan, jauh  (tak terkira) tanpa batas).  Bagi saya, mempersonifikasi Tuhan yang “tan kena kinaya apa” itu dalam sosok manusia Yeshua, hanyalah upaya untuk mempermudah memahami Tuhan.  Sebab tanpa “model” seorang Yeshua, bagaimana manusia bisa memahami Tuhan?

 

Bahkan dengan “model” seorang Yeshua-pun, tidak ada kesepakatan mengenai Yeshua.  Misalnya, orang Kristen mempercayai bahwa Yeshua mati di salib, orang Islam mempercayai bahwa yang disalib adalah orang yang diserupakan dengan Isa (Asumsinya  Isa = Yeshua lho…., kalau Isa =/= Yeshua, ya berarti memang beda orang yang diceritakan di Injil dengan orang yang diceritakan di Quran)

 

 

Nah.., apalagi memahami Tuhan yang “tidak tampak”, pasti banyak perbedaan KONSEP tentang Tuhan.

Ada yang bilang Tuhan tinggal di surga (wah.. berarti Tuhan lebih kecil daripada surga,  kalau lebih besar, mana bisa masuk surga?).

Ada yang bilang Tuhan itu di Arasy (tentang Arasy-pun banyak pendapat berbeda –> http://ms.wikipedia.org/wiki/Arasy

Ada yang berpendapat Tuhan dimana-mana.  Jika dimana-mana ada Tuhan, apakah Tuhan juga ada di Neraka? (eh.. neraka itu ada atau tidak ya?)

Ada yang berpendapat Tuhan itu ada di urat nadi kita, ada yang bilang Tuhan itu di hati kita, di dalam diri manusia.

Nah.. beda-beda khan?

Jadi, kalau ada orang yang “mengatasnamakan Tuhan”, saya selalu berpikir, “Tuhan yang mana?”  Mungkin Tuhan mereka berbeda dengan Tuhan kita.  Lha… padahal konon Tuhan itu Esa, bahkan menurut Pancasila, Maha Esa, sudah Esa pakai Maha pula.. mungkin maksudnya SANGAT Esa.

 

 

Ah.. nggak usah membahas Tuhan lah…, tulisan ini khan tentang  IDOLA, tentang orang yang kita kagumi.  Pertanyaannya, siapa yang kita kagumi, atau menjadi idola kita di dunia ini?

(saya menduga, ada yang akan menjawab, “Yesus”, mungkin ada yang akan menjawab “Nabi Mohammad”, mungkin  ada yang akan menjawab “Budha Gautama”, atau mungkin ada yang akan menjawab “Sai Baba”).

Kalau mau NARSIS, ya mengidolakan diri sendiri saja, hehehehe…

 

Pertanyaan selanjutnya, apakah dari orang yang kita kagumi, tidak ada hal yang mengecewakan? (Misalnya contoh di atas, KAS yang semula kagum pada KH Ahmad Dahlan, menjadi tidak kagum lagi, setelah melihat dan tahu alasan Bu Ahmad Dahlan menangis)

 

Di Kawruh Jiwa, saya belajar untuk “tanpa dhemen; tanpa sengit” (tanpa memuja, tanpa membenci.) Tidak ada orang yang perlu dipuja.  Jika sudah ‘dhemen‘ (suka, terpesona) pada seseorang, yang tampak HANYA kebaikan-kebaikannya. Dalam pepatah Jawa disebut “wingka katon kencana” (pecahan gerabah, terlihat seperti emas).  Sebaliknya, tidak ada orang yang perlu dibenci. Kalau sudah “sengit” (benci) pada seseorang, yang tampak adalah keburukan-keburukannya. “Kencana katon wingka” (emas, tampak seperti pecahan gerabah).

 

Jadi… siapa manusia di dunia ini yang menjadi IDOLA anda?

Dalam diri orang tersebut, apakah ada hal yang mengecewakan anda, atau ada hal yang tidak ingin anda contoh?
Salatiga, 22 Mei 2011

from: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150189478383551

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: