Menikah dalam roh, bersetubuh dalam daging? (masih tanda tanya)

KONON kabarnya, pada suatu hari di masa yang telah lewat, ada seorang laki-laki hamba Tuhan, seorang pengkotbah yang populer, seorang gembala dari sebuah gereja ‘besar’, telah melamar seorang perempuan, juga hamba Tuhan untuk menjadi istrinya “DALAM ROH”.  Laki-laki hamba Tuhan ini sudah beristri, dan perempuan hamba Tuhan itu juga sudah bersuami, dan konon juga, pernikahan “DALAM ROH” ini disetujui oleh ayah dari perempuan yang juga seorang hamba Tuhan. Jelas, suami perempuan itu tidak setuju terhadap hal ini,, namun tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya jengkel dan melampiaskan kejengkelannya dengan beberapa aksi tertentu.  Itu semua masih KONON lho….

Seandainya “berita” di atas TIDAK BENAR, maka tulisan ini hanyalah fiksi, dan “jika ada kesamaan nama dan tempat, itu hanya kebetulan semata”, namun, jika kabar tersebut benar-benar terjadi, maka tulisan ini adalah pandangan seorang Kristen awam, yang belajar prinsip-prinsip pernikahan (ala) Kristen.

 

Pernikahan Kristen, didasarkan antara lain pada ayat ini: (ayat-ayat saya kutip dari Kitab Suci Indonesian Literal Translation Edisi ke-2)

 

Kejadian 2:24-25   Itulah sebabnya, seorang pria akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan akan bersatu padu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Dan mereka telanjang, baik manusia itu maupun istrinya, tetapi mereka tidak merasa malu.

 

(catatan dari ayat tersebut: istrinya, bukan istri-istrinya)

Sepasang suami-istri, akan telanjang dan tidak merasa malu satu sama lain.  (Ini bukan hal yang ‘ajaib’, kalau kita lihat di internet, banyak orang juga tidak malu berpose telanjang di depan publik, hehehe… ). Mereka akan bersetubuh (bersatu padu) dan menjadi “satu daging”.  Ini adalah “gama” (aturan/peraturan) dalam pernikahan, maka persetubuhan (suami-istri) disebut sanggama.  (Silakan baca tulisan ini: “Aku mencari arti agama” di http://www.facebook.com/note.php?note_id=422084223550) Persetubuhan adalah bagian dari ‘aturan’ kehidupan.  Sanggama menjadi awal dari kehidupan (generasi) selanjutnya. Sebuah “aturan alamiah”, untuk melestarikan jenis.

 

Pernikahan tanpa persetubuhan, tidak mungkin bertahan lama.  (Bagi manusia yang ‘berbudaya’, persetubuhan bukan hanya aktivitas untuk prokreasi, namun juga rekreasi.)  Kalau dapat bertahan, itu hanya kepura-puraan demi memenuhi tuntutan pergaulan sosial.  Pernikahan dengan persetubuhan yang baik  (“baik” di sini relatif, tiap-tiap pasangan bisa memiliki preferensi sendiri bagaimana dan seberapa sering persetubuhan dilakukan), berpeluang besar untuk bertahan dalam kondisi baik.  Bahwa pernikahan bukan hanya urusan persetubuhan, jelas “YA”, namun hal ini tidak bisa ditinggalkan, “tidak diurus”.

 

Kembali ke “konon” pernikahan DALAM ROH seorang laki-laki hamba Tuhan dengan seorang perempuan hamba Tuhan di atas, memunculkan pertanyaan, “Apakah mereka juga bersetubuh DALAM ROH?”.  Jika “YA”, bagaimana mungkin, namanya bersetubuh, itu secara “etimologi”, antara tubuh satu dengan tubuh lainnya.  Jika mereka bersetubuh dalam daging (benar-benar bersetubuh layaknya suami-istri dalam pernikahan normal, artinya mereka BERZINAH.  Artinya, pernikahan DALAM ROH yang dilakukan itu, hanya untuk melegitimasi PERZINAHAN yang mereka lakukan.  Atau mereka menikah (dalam roh) tanpa bersetubuh (dalam daging)?

 

Mereka boleh saja berdalih “ini kehendak Tuhan”, atau “ini bisikan Roh Kudus”, saya juga bisa bilang, saya terbangun malam-malam untuk menulis tulisan ini juga karena “bisikan Roh Kudus”, hahahahaha….  Bahkan tidak hanya Roh Kudus, roh-roh lain di alam semesta ini juga membisiki saya untuk menulis ini, sehingga saya memutuskan untuk meninggalkan istri di tempat tidur, bangun, membuka laptop dan menulis ini.  Saya tidak akan mengklaim “ini kehendak Tuhan”, sebab menulis ini adalah kehendak saya sendiri, sebab, walau dibisiki Roh Kudus, kalau saya tidak mau bangun, saya akan tetap memeluk istri saya di tempat tidur.

 

Sekarang ini, banyak pengajaran yang “aneh” masuk ke dalam gereja. (Aneh karena belum terbiasa, kalau sudah biasa, tidak lagi aneh, namun persoalannya bukan aneh-nya, tetapi bagaimana ajaran itu ditinjau dari TAFSIR atas ayat-ayat Kitab Suci — sebab mereka yang mengajarkan yang “aneh” itu, juga memakai ayat-ayat Kitab Suci untuk membenarkan ajaran mereka.)

 

Ayat-ayat Kitab Suci memang secara DINAMIS dapat dipakai untuk menuntun kehidupan manusia, namun ada PRINSIP-PRINSIP yang perlu dipegang teguh, supaya “keteraturan kehidupan” dapat terwujud di dalam dunia yang makin tidak teratur ini. Tentu “keteraturan” menurut (TAFSIR) Kitab Suci. (Ada teman yang bilang bahwa ayat-ayat Kitab Suci tidak perlu ditafsirkan, tetapi cukup dimengerti/dipahami.  Bagi saya, untuk mengerti atau memahami, perlu ditafsirkan. Tentu maksud “tafsir” ini, bukan menggunakan jurus tafsir mimpi 1001 malam, dengan mengutak-utik ayat-ayat untuk mencari pembenaran atas sikap dan perilaku kita.)

 

Saya tidak tahu, ayat mana di Kitab Suci yang dipakai sebagai dasar “pernikahan dalam roh” tersebut di atas.  Tetapi, kalau misalnya, umpama, seandainya hamba Tuhan tadi bersedia secara terbuka mengumumkan “pernikahan dalam roh”-nya ke publik, maka atas nama pribadi, sebagai seorang Kristen, secara terbuka saya akan menentang “ajaran” mereka itu. Saya tidak peduli mereka hamba Tuhan “besar” dengan gereja yang megah dan besar.  Justru karena mereka hamba Tuhan, lebih mudah mengkritiknya, karena mereka mestinya tidak akan marah-marah, kalaupun marah, tentu tidak akan marah sampai matahari terbenam.  Dan kalau mereka menganggap saya bersalah, tentu mereka akan bersedia mengampuni saya, bahkan mungkin akan mendoakan saya supaya saya bertobat dan diberkati Tuhan …… (sudah sering saya diminta bertobat oleh beberapa orang di Facebook, setelah mereka membaca tulisan-tulisan saya,  yang dianggapnya menyesatkan.)

 

Saya dapat MENDUGA, mengapa laki-laki hamba Tuhan tadi melamar perempuan yang juga hamba Tuhan menjadi istri “dalam roh”nya.

Kemungkinan pertama: hamba Tuhan laki-laki itu, kurang bisa menikmati kehidupan pernikahan dengan istrinya, sehingga masih membutuhkan pendamping yang dapat “lebih mengerti” dirinya. (profesinya, kesibukannya, pemikiran-pemikirannya).  Kebutuhan suami atas istri, adalah istri yang “dapat mengerti”, “tidak banyak menuntut”, “dapat mengurus anak-anak”, “dapat mengurus rumah” dan tentu juga “teman bicara”, selain istri juga perlu menjadi partner hubungan seks yang ‘hangat’.  Perbedaan sifat maskulin (suami) dan feminin (istri), kadang menimbulkan masalah dalam pernikahan, apa yang dianggap benar oleh suami/istri kadang ditanggapi dengan salah oleh istri/suami, dan hal ini seringkali menimbulkan kekecewaan dalam pernikahan.  Kekecewaan ini kadang disikapi secara ‘salah’, bukannya membina (lagi) pernikahan yang bermasalah itu, tetapi malah lari ke “pihak ketiga”, sebagai pelampiasan kekecewaan di rumah.

Saya menduga, “pernikahan dalam roh” dengan perempuan lain, itu MUNGKIN juga pelampiasan dari kekecewaan yang terpendam terhadap istri di rumah.  Dan “celakanya” hamba Tuhan perempuan mau menerima “suami dalam roh”, itu juga MUNGKIN karena kecewa dengan suaminya, sebab, jika ia “tunduk” pada suaminya, tak akan hamba Tuhan perempuan itu “menundukkan diri” pada suami perempuan lain.

 

Kemungkinan kedua: Hamba Tuhan (laki-laki dan perempuan) yang menikah dalam roh itu, ingin memuaskan EGO-nya, memperbesar jangkauan “pelayanannya”, juga memperbesar “gerejanya”, dengan membangun SINERGI/KOLABORASI yang (menurut mereka) akan saling menguntungkan.  Dengan status “suami-istri dalam roh” mereka lebih bebas melakukan “pelayanan bersama” kepada jemaat-jemaat di mana saja, tidak hanya di kota tempat tinggal mereka.  Dengan status “suami-istri dalam roh”, bisa lebih bebas saling melayani (maksud saya BUKAN urusan seks lho..) sehingga “pelayanan” mereka lebih efektif, tanpa beban ada “kecemburuan” dari istri/suami mereka ‘di rumah’. (asumsinya, istri dan suami mereka di rumah sudah “pasrah” menerima kondisi ini.)

Celakanya, kalau misalnya, hamba Tuhan tadi ingin memuaskan EGO-nya untuk lebih bisa menikmati hidup (termasuk seks), karena merasa BERHAK sebagai “hamba Tuhan”. (Siapa yang berani melawan kehendak “hamba Tuhan”?  Kebanyakan takut kena kutuk, kalau sampai berani “mengkritik” hamba Tuhan.)

 

Kemungkinan ketiga: (pikirkan sendiri ya……)

 

Jika benar ada “PERNIKAHAN DALAM ROH”, apakah “istri dalam roh” itu juga menjadi ‘teman pewaris anugerah kehidupan’? Jadi siapa yang jadi “teman pewaris anugerah kehidupan”, istri dalam roh, atau istri di rumah? (1 Petrus 3:7 Para suami, dengan cara serupa, ketika hidup bersama dalam kebijaksanaan, haruslah menunjukkan rasa hormat kepada istri seperti kepada bejana yang lebih lemah, dan selaku teman pewaris anugerah kehidupan, supaya doa-doamu tidak terhalang.)

Apakah “menikah dalam roh” dengan perempuan lain, itu salah satu perwujudan “kasih” suami terhadap istrinya? (Efesus 5:25 Para suami, kasihilah istri kamu sendiri, sebagaimana juga Kristus telah mengasihi gereja dan telah menyerahkan diri-Nya sendiri demi dia,)

 

Masih banyak pertanyaan lain, jika seandainya “pernikahan dalam roh” itu benar, termasuk bagaimana tanggapan “para saksi” di “pernikahan dalam roh” itu.  KONON saksinya juga seorang hamba Tuhan yang lain.  Mengingat seorang dengan nama besar “Benny Hinn” saja bisa jatuh ke dalam perselingkuhan, dan sampai digugat cerai oleh istrinya, (menurut berita di internet), maka tidak mengherankan jika “hamba Tuhan”  yang ini, juga bisa jatuh ke dalam hal-hal yang “sesat”.  Sayangnya, jemaat kadang kala merasa “berhutang budi” pada hamba Tuhan, sehingga tidak berani menyalahkan “kelakuan” hamba Tuhan yang (sebenarnya) sudah mulai menyimpang dari Firman Tuhan, karena kadang hamba Tuhan mulai berfirman sendiri, mengatasnamakan Tuhan.

 

Tetapi, pengampunan orang-orang Kristen memang patut di “Like” (diacungi jempol), karena kalaupun mengetahui seorang hamba Tuhan “jatuh”, yang ada adalah “pemakluman”, karena mungkin saja hamba Tuhan itu sedang “dicobai”, karena setan nggak suka dengan kesuksesan pelayanannya.  Doa orang Kristen terhadap orang  yang dianggap bersalah, adalah khas seperti doa Yeshua (bukan Yudas lho…) di kayu salib, “Ya Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat“.  Saya masih ingat beberapa orang di Facebook yang “membela” Benny Hinn, ketika berita perselingkuhan dan gugatan cerai istrinya di link di wall Facebook.

Untuk hamba Tuhan dalam cerita tersebut diatas, MUNGKIN saya akan berdoa, “Ya Bapa, JANGAN ampuni mereka karena mereka TAHU apa yang mereka perbuat.”

 

Semoga….., KONON “pernikahan dalam roh” tersebut di atas tidak benar, sehingga tulisan ini hanya menjadi fiksi yang tidak perlu menjadi bahan perbincangan.

 

Ayat penutup:

Matius 18:7  Celaka bagi dunia karena sandungan-sandungan itu. Sebab, memang perlu sandungan-sandungan itu muncul, tetapi celakalah bagi orang yang olehnya sandungan itu muncul.

 

[Terima kasih untuk @Julia Ekajati dan @Hai Hai Bengcu Sibugil, yang dari perbincangan kita, dorongan untuk menulis hal ini makin kuat.]

 

Salatiga, 13 Juli 2011

Petrus Wijayanto (RT Wijayantodipuro)

 

from: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150241641293551

2 responses to this post.

  1. like this yooo…

    Reply

  2. @Dany Anhony:
    tks.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: