KEMATIAN: hanya soal WAKTU dan CARA

Sudah sering aku mendengar berita kematian.  Beberapa temanku di FB-pun, sekarang sudah tidak bisa meng-update status lagi, karena sudah meninggalkan dunia ini. Bahkan ada yang sempat berdebat denganku, kurang dari sebulan sebelum kematiannya.  Bagiku, kematian adalah hal yang biasa.

Dua puluh tahun yang lalu, aku menjadi orang terakhir yang menyaksikan salah satu nenekku hidup, beliau meninggal sesaat setelah aku periksa matanya yang (ternyata benar) sudah tidak memantulkan bayangan wajahku.  Sampai saat ini, dua kali aku menyaksikan orang sekarat, meregang nyawa di jalan raya.  Beberapa kali menyaksikan mayat di jalan, dan entah sudah berapa kali ikut mengantar jenasah sampai ke liang kubur.

 

Aku tidak kaget ketika mendengar berita kematian.  Ketika nenekku (yang satu) sakit  di rumah sakit, aku tidak sempat menjenguknya, namun aku sudah pesan ke adikku, kalau nenek meninggal, tolong aku segera diberi tahu, karena tanda-tandanya, nenek sudah tidak akan lama lagi hidup di dunia.  Ketika seorang temanku mendadak meninggal karena kecelakaan lalu lintas, aku juga tidak kaget, hanya teringat, ketika kami sama-sama mengerjakan tugas kuliah, dan juga ingat, ketika kami sama-sama nonton film bersama teman-teman lain.  Aku juga masih ingat caranya tersenyum. Ada beberapa kenangan ketika dia masih hidup.

 

Ada banyak cara mati, karena manusia hidup ini memang ‘ringkih’ (lemah/rentan).  Kedua nenekku mati karena sudah tua, satu kakekku juga mati karena tua. Satu kakekku, menurut cerita ayah, mati karena dibunuh oleh orang  yang iri kepada beliau.  Beberapa temanku mati karena sakit, beberapa yang lain, mati karena kecelakaan lalulintas.  Ada orang yang aku kenal, mati karena tersengat listrik, ada juga yang mati karena bunuh diri.  Ada orang yang aku kenal, cara matinya “tidak elit”,  karena bersepedamotor, ngebut  dan…….  nabrak dokar, dadanya kena pijakan kaki di bagian belakang dokar itu.

 

Kemarin, aku mendengar, ada orang mati dibunuh, dibunuh oleh temannya sendiri, gara-gara “rebutan” pacar.  Sayangnya, pembunuhannya  “tidak rapi”, sehingga mudah diketahui polisi, urusan jadi panjang.  Ketika mendengar berita pembunuhan itu, aku komentar, “Mengapa tidak  pakai santet saja, kalau hanya ingin orang lain mati?”  Sama-sama membunuh, dengan santet,  polisi akan lebih sulit mencari pembunuhnya,  karena kemungkinan kecil dukun santet akan mengaku telah  membunuh seseorang. Lagi pula, orang mati karena santet, paling-paling dianggap mati karena sakit, bukan dibunuh.

 

Ah, cerita tentang pembunuhan, itu hal yang dilarang Tuhan. Ada perintah yang jelas di Kitab Taurat, “JANGAN MEMBUNUH”. (Keluaran 20:13 Jangan membunuh) Tapi dasar manusia, walau mengaku percaya Tuhan, ternyata juga tidak taat pada perintahNYA, masih saja ada yang membunuh sesamanya.  Setiap pembunuhan pasti ada alasannya.  Ada alasan yang “sepele”, ada juga alasan yang “masuk akal”.

 

Membunuh orang  gara-gara rebutan cewek (pacar), itu alasan yang terlalu sederhana.  Ada banyak perempuan bisa di-pacari,  mengapa tak memilih perempuan lain?  Membunuh orang yang mengganggu istri, masih lebih masuk akal.  Bahkan  Kitab Amsal-pun mencatat bahwa geram seorang laki-laki bisa “berbahaya”. (Amsal  6:34 Karena cemburu adalah geram seorang laki-laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam;)

 

Ada orang yang berniat membunuh, karena merasa harga dirinya “terinjak-injak”.   Aku pernah diajak menagih hutang, salah seorang dari ‘kami’ membawa belati. Aku ingat, ketika kami berbincang-bincang, belati itu diletakkan di meja tamu, salah satu dari kami berkata, “kalau hutang tidak segera kamu bayar, belati itu yang akan bicara”.  Setahuku, beberapa hari kemudian hutang itu dibayar lunas.  Aku juga pernah mendengar, orang yang siap membunuh seseorang, jika seseorang itu menipunya.  Kata orang itu, “Aku masuk penjara tidak apa-apa, asal orang itu mati.”  Ini masalah membela harga diri sendiri, bukan dalam rangka membela Tuhan. (Aku heran dengan orang yang membunuh untuk membela Tuhan, apakah Tuhan masih perlu dibela?  Jika Tuhan masih suka dibela oleh umatNya, sesungguhnya tidak pantas  jadi Tuhan.)

 

Yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanyaku, jika orang mati karena dibunuh, atau karena kecelakaan, apakah mereka itu “dipanggil Tuhan”, atau sebenarnya belum dipanggil namun sudah menghadap?  Ketika ada teman yang memberitahukan berita kematian:  ” ‘Si Anu’ pulang ke rumah Bapa”, aku bertanya, “Apa dia tahu jalan pulang ke rumah Bapa?”  Temanku tersenyum, bingung mau menjawab apa.  Akupun ikut tersenyum.  Masih ada banyak misteri kematian.  Ketika salah satu kakek buyutku mati, saat aku masih kanak-kanak,  tidak ada satupun foto wajahnya yang ‘jadi’, semua film yang seharusnya memuat wajahnya, “terbakar”.  Sayangnya foto-foto dan film-filmnya sekarang sudah rusak, tidak terawat dan kemudian hilang, tidak bisa aku tunjukkan ke anak-anakku,  jika besok aku menceritakannya.

 

Aku salut dengan orang yang bisa tahu kapan kematiannya tiba.  Ada orang yang aku kenal, sebelum mati  mandi dulu, mempersiapkan tidur panjangnya.  Dari cerita ayah, kakek buyutku, sudah memberitahukan saat kematiannya, beberapa bulan sebelumnya.   Akupun kadang berpikir, ingin tahu kapan kematianku tiba, agar beberapa hal bisa dipersiapkan sebelumnya. Jika aku bertanya ke Tuhan, kapan DIA akan memanggilku, dengan cara bagaimana,  apakah DIA akan menjawabnya?  Aku sudah bertanya, dan menunggu jawabanNya.

 

Bagaimana dengan anda?

 

Salatiga, 6 Agustus 2011

(RT Wijayantodipuro)

 

from: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150261890463551

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: