Kadyo siniram wayu sewindu lawase

Kadyo siniram wayu sewindu lawase

 

Konon kata-kata itu diucapkan oleh Presiden Soekarno dalam Pidato HUT Proklamasi tahun 1964.  (saya belum membaca naskah lengkap atau mendengarkan rekaman pidatonya)

Yang saya dapatkan dalam beberapa site, adalah kutipan berikut:

===“Aku Lebih suka lukisan samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari

pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “kadyo siniram wayu sewindu lawase”===

 

Tulisan ini saya buat, untuk memberi penjelasan, bagi khususnya yang asing dengan bahasa Jawa, karena ada beberapa yang belum tahu makna “peribahasa” tersebut.  Saya juga menemukan di internet, ada yang bertanya seperti ini:

 

==”Seperti tersiram wahyu delapan tahun lamanyaRT @GNFI: “Kadyo siniram wayu sewindu lawase” – Pidato Soekarno di HUT Proklamasi 1964 . Ada yg tau artinya?”==

(http://www.twitlonger.com/show/ai7190)

 

Wayu itu bukan wahyu, Mbak….

 

Pepatah tersebut lengkapnya adalah “kadyo siniram banyu wayu sewindu”, kalau diartikan secara LITERAL, adalah:

kadyo = seperti

siniram = tersiram

banyu = air

wayu = basi

sewindu = sewindu (8 tahun)

 

Tetapi, dalam pepatah itu, kata “wayu” tidak berarti basi, melainkan ‘sudah lama’, sehingga “banyu wayu sewindu”, maksudnya air yang sudah (diam selama) sewindu, artinya air yang sudah sangat dingin/sejuk.

 

Jadi, “kadyo siniram banyu wayu sewindu”, artinya  seperti tersiram air yang sudah (di)diam(kan) selama sewindu, maksudnya terasa dingin atau sejuk atau segar.

 

Peribahasa “kadyo siniram banyu wayu sewindu”, dapat dipakai untuk menggambarkan 2 hal:

pertama: rasa dingin (dalam arti suhu/temperatur), misalnya “awake anyep, kadyo siniram banyu wayu sewindu” (badanya dingin)

kedua: (pe)rasa(an) sejuk (dalam arti  ‘tenteram’, atau rasa ‘damai’)

 

Kalau benar peribahasa itu diucapkan oleh Soekarno dalam rangkaian kalimat ” Aku Lebih suka lukisan samodra yang bergelombangnya memukul, mengebu-gebu, dari pada lukisan sawah yang adem ayem tentrem, “kadyo siniram wayu sewindu lawase”,  maka saya menduga, yang dimaksud oleh beliau adalah bahwa lukisan sawah yang adem ayem itu “terasa dingin”,  berbeda dengan lukisan samodra yang bergelombang.

 

Mengapa untuk menyatakan “dingin”, perlu diilustrasikan dengan air yang didiamkan selama sewindu?

 

Ya.., dulu khan belum ada KULKAS🙂

(jadi ingat…., televisi tetap disebut “layar kaca” walau sekarang sudah tidak lagi pakai kaca, karena sudah pakai LCD dan LED)

 

Demikian uraian singkat saya, semoga jelas.

Terima kasih khusus buat @Lieslies Mulyani yang menanyakan ini kepada saya.

 

Salatiga, 14 Agustus 2011

(RT Wijayantodipuro)

 

from: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150268551338551

One response to this post.

  1. Thanks ya mas…pengertian ne (y)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: