Anak-anak kehidupan…

Anak-anak kehidupan…

Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.  
They come through you but not from you,  
And though they are with you yet they belong not to you.  
……..
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu  
mereka adalah putra-putra dan putri-putri kehidupan, yang menginginkan dirinya sendiri.  
Mereka lahir melaluimu, namun bukan darimu  
dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu   
…….

Tulisan Kahlil Gibran mengenai “anak” itu benar-benar aku ingat ketika akan memberi nama anakku yang pertama. Aku tidak akan memberinya nama yang mengandung namaku dan/atau nama istriku. Istriku sudah pesan nama “Clarissa”, mungkin karena sering nonton telenovela.  Seorang teman sudah meminjamkan buku nama-nama bayi, akupun sudah membeli sebuah lagi.  Aku lihat daftar nama-nama dan artinya, aku cocokkan dengan “neptu” kelahirannya.  Akhirnya nama Clarissa Gitta Aprilia menjadi namanya.

Malam ini aku menulis tentang anak, karena aku bersyukur bisa bersama mereka, putri-putriku.  Bagaimanapun keadaan mereka, aku bersyukur. Minggu yang lalu anakku yang bungsu baru genap berusia 3 tahun.  Tadi sore, ia minta dibelikan sepeda, karena sepeda ‘warisan’ kakaknya rusak. Setelah aku perbaiki sebentar, dan bisa dipakai lagi, dia bilang, “tidak usah beli saja”, akupun tersenyum.

Tidak banyak yang akan aku tuliskan disini, walau sebenarnya ada banyak cerita yang aku dengar tentang anak-anak. Tentang anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya, tentang anak yang kelahirannya tidak dikehendaki, tentang anak yang lahir dalam kondisi kurang baik, tentang anak yang kondisi kesehatannya tidak bagus, dan tentang anak yang meninggalkan dunia, karena sakit maupun kecelakaan, mendahului orang tuanya.

Aku teringat kisah yang diceritakan oleh adikku, tentang temannya, yang juga aku kenal.

Seorang lelaki dengan satu istri dan satu putri.  Sebelum menikah lelaki ini suka bermain dengan perempuan, dan memiliki beberapa perempuan langganan,  dan diantara para langganannya, ada juga yang cantik.

Suatu kali, ketika relasi dengan istrinya kurang baik, lelaki  ini kebetulan juga dihubungi oleh salah satu perempuan mantan langganannya, untuk diajak ‘main-main’ lagi.  Dengan menyusun agenda palsu yang bisa diterima oleh istrinya,  ia bersiap pergi menjumpai wanita idaman lain-nya di sebuah rumah penginapan di kawasan wisata berhawa dingin.  :)

Putrinya yang masih balita, menyaksikan ayahnya akan pergi, dan ketika sudah siap berangkat, si putri melambaikan tangannya sembari berkata, “da da papa… hati-hati ya…”.

Sang ayah pun berlalu meninggalkan rumah.  Tak jadi menemui wanita yang sudah menunggunya, namun hanya berjalan-jalan hingga kemudian berhenti di sebuah warung, menyulut rokok sambil merenungkan hidupnya.  Tak tega ia mengkianati putrinya sendiri.

Aku ingat nasihat Kitab Suci untuk para ayah: “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”  Kitab Amsal juga memberi petunjuk, “Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.” dan “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Salatiga, 12 Oktober 2011

RT Wijayantodipuro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: