Natal identik dengan “nothol”

Sore tadi dua orang perempuan, datang ke rumah, minta sumbangan uang untuk tambahan biaya perayaan Natal di gerejanya.  Mereka adalah anggota sebuah gereja kecil, sebuah gereja perintisan di Kota Salatiga.  Dalam sebuah pertemuan, saya pernah berjumpa dengan pendetanya.  Saya tahu persis alamat gerejanya, berada di sebuah rumah kontrakan milik seseorang yang saya kenal, dan dulu kadang saya datang ke rumah itu untuk beberapa keperluan.

Karena lembaran proposalnya tidak untuk ditinggal, saya periksa sebentar anggarannya, berikut ini daftarnya:

Konsumsi:         Rp1.000.000
Dekorasi:           Rp100.000
Dokumentasi:    Rp150.000
Transportasi:     Rp150.000
Lain-lain:            Rp100.000
Total:                       Rp1.500.000

Dana yang tersedia: Rp500.000
Masih kurang:           Rp1.000.000

Jelas sebuah rencana Natalan yang jauh dari kemewahan, namun jika dicermati, ada yang memprihatinkan, yaitu anggaran untuk konsumsinya mencapai 2/3 dari total biaya.

Pada sebuah surat proposal permintaan sumbangan dana Natalan oleh sebuah gereja lainnya (ini gereja yang sudah memiliki gedung gereja sendiri, dengan beberapa puluh jemaat), yang saya terima awal Desember 2010 yang lalu, dari total anggaran Rp2.500.000, untuk konsumsinya Rp1.500.000, atau 3/5-nya.  Inipun memprihatinkan.

Memprihatinkan, karena proporsi terbesar dalam acara Natal adalah untuk konsumsi, kebutuhan perut sekali waktu saja.  Kalau hanya untuk makan-makan, mengapa tidak berkumpul saja di sebuah rumah makan, makan-makan sambil mendengarkan lagu-lagu Natal.  Kotbah Natal? Tidak penting, karena setiap tahun, isi kotbah Natal ya itu-itu saja, soal kelahiran Yesus (mestinya “Yeshua”), bahwa kelahiranNya itu untuk menebus dosa manusia (mestinya menebus manusia dari dosa), karena begitu besar kasih Allah (mestinya Elohim) kepada dunia ini.

Berita Natal juga selalu sama, dibacakan ayat-ayat Injil yang menceritakan malaikat yang memberitahu kepada para gembala di padang, tentang lahirnya seorang anak manusia di Betlehem.  Kadang ditambah dengan pembacaan silsilah Yesus (Yeshua) hingga datangnya orang-orang Majus yang membawa emas, mur dan kemenyan.

Ya, itulah ritual tahunan hampir semua gereja Kristen (dan Katholik) di seluruh dunia.  Ritual yang diciptakan oleh kekaisaran Romawi, sebuah “inkulturasi” (karena tidak mau disebut sinkretisme) budaya perayaan pagan, penyembahan  kepada Dewa Matahari yang konon lahir tanggal 25 Desember.  Romawi yang pernah menjajah Yahudi, memang nampak bahwa “antisemit” dan mewarnai kekristenan dengan tradisi Romawi yang pagan.  Bukankah Paskah-an di Jumat Agung di bulan April, juga adalah peringatan kematian Dewa Mithra yang disembah Kaisar Romawi?  Sebab, Paskah yang sebenarnya, hingga saat ini-pun, dirayakan orang Yahudi pada pada tanggal 14 bulan Nisan menurut kalender Yahudi.  Tanggal 14 Nisan juga waktu ketika Yeshua mengadakan perjamuan Paskah bersama murid-muridNya, sebelum kemudian ditangkap dan disalibkan.

Romawi memang telah mendominasi warna kekristenan di dunia.  Orang Kristen sekarang tidak banyak yang peduli, bahwa tradisi-tradisi kekristenan dewasa ini adalah hasil “rekayasa” kekaisaran Romawi.  Perubahan hari ibadah Sabat menjadi ibadah Minggu, juga hasil “kerjaan” Romawi.  Orang Kristen secara tidak langsung banyak yang “membela” Romawi, dengan memberi pembenaran-pembenaran yang nampaknya Alkitabiah, terhadap hal-hal yang sebenarnya menyimpang dari tradisi Yahudi/Israel, tempat dimana kekristenan (seharusnya) berakar.

Ketika ada yang berusaha kembali ke akar Ibrani, seringkali dianggap menjadi ke-yahudi-yahudi-an, sambil tidak menyadari bahwa selama ini kekristenan yang diikutinya ke-romawi-romawi-an atau ke-yunani-yunani-an.

Nampaknya ayat ini: Ibrani  7:14 Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu Musa tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam, tidak banyak diperhatikan oleh orang Kristen. (kata Tuhan di ayat itu adalah Kurios, artinya Master, Lord, (Inggris) atau Gusti (Jawa) atau Adonai (Ibrani))

Jika “Gusti” orang Kristen dari Yehuda, tidak akan bernama Yesus, sebab “Yesus” adalah nama ‘turunan’ dari nama Ioseus (Yunani).  Di suku Yehuda yang berbahasa Ibrani atau Aram, yang ada adalah nama Jehoshua atau Yeshua.  Yeshua menjadi Ioseus kemudian menjadi Yesus karena transliterasi, perubahan abjad.

Seorang teman yang pernah bertanya hal ini kepada saya, terpaksa saya jelaskan dengan contoh yang mirip. Jika seseorang bernama Fauzy, dan harus ditulis (ditransliterasi) dalam huruf Jawa, pasti akan menjadi Pausi atau Pahusi.  Dalam huruf Jawa tidak ada abjad F dan Z (juga tidak ada Q, X, dan V).  Namun sekarang seluruh dunia mengenal abjad LATIN, dan orang Jawa bisa menulis dan membaca “Fauzy”. Orang Jawa  (juga orang manapun) kini dapat menulis dan membaca “Yeshua”.  Memang terserah kita, mau tetap pakai Yesus atau kembali ke Yeshua.

Dulu, saya sempat hampir protes ke penerbit sebuah buku rohani berbahasa Indonesia dari Korea, karena menulis Jeshua untuk “Yesus”. Waktu itu saya mau protes, bahwa di Indonesia bukan Jeshua, tetapi Yesus.  Tapi, email yang sudah saya persiapkan tidak jadi saya kirim, karena justru saya terusik untuk mencari tahu, mengapa disebut Jeshua. Dan kini, sayapun memilih “Yeshua” daripada Yesus.  Seorang teman yang pernah “protes” pada saya, akhirnya mengakui “Yeshua”, setelah menonton film “Passion of Christ”, sebuah film yang sangat populer karena begitu “hebat” menggambarkan penderitaan Yeshua. Panggilan “Yeshua” muncul di film itu.  Tentu bukan atas pertimbangan yang sembrono, sutradara film itu menggunakan kata “Yeshua”.

Jadi, walau memprihatinkan, tetapi memang “aja kagetan, aja gumunan” ketika isi terbesar dari Natalan adalah makan-makan. Penyimpangan sudah terjadi sejak awal kekristenan yang (sayangnya) didominasi oleh Romawi-Yunani yang kental dengan budaya pagan. Dan karena itu, sekarang-pun saya memaknai Natalan juga sebagai acara untuk makan-makan saja.  Saya senang menghadiri acara Natalan, karena ada makan-makan, ada hiburan (show), dan ada perempuan-perempuan yang berdandan cantik.  Saya tidak lagi kecewa jika tidak ada pemberitaan Firman Tuhan yang “menyentuh” di acara Natal.  Saya tidak lagi kecewa jika melihat orang sibuk  menjadi seperti “Martha” dan bukan seperti “Maria”. Semuanya biasa saja, memang begitulah Natal, identik dengan “nothol” (Jawa = mematuk/ mematuk makanan).

Selamat nothol eh… natal.

Salatiga, 21 Desember 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: