Ki Tri Kadarsilo, telah meninggal…

Siang kemarin aku mendapat SMS, mengabarkan bahwa Pak Tri masuk ICU. Aku sudah biasa mendengar kabar seperti itu, orang kecelakaan, orang masuk rumah sakit, orang masuk ICU, orang mati. Tak ada yang mengagetkan, sudah lama aku belajar mempraktekkan kata-kata leluhur “aja kagetan, aja gumunan”.

Ketika membaca status Facebook Adiatman Gunadharma, anak Pak Tri, “mohon maaf atas pelayanan yang kurang baik dan keterlambatan service di redline comp & photography,karena papa saya masuk RS,semua pelayanan service akan segera diselesaikan secara cepat & profesional,harap maklum,terima kasih.”, aku tidak berkomentar apa-apa. Walau ada yang berkomentar “cepat sembuh ya…”, aku tidak melakukannya. Ketika aku bersama kedua orang tuaku dan Satria Anandita, menengok Pak Tri di RS Elisabeth – Semarang, beberapa waktu yang lalu, sebelum Pak Tri masuk ke rumah sakit yang kedua, saat itu ayahku mengajakku berdoa, aku bilang, “Bapak saja.”. Saat itu aku tidak tahu, apakah Pak Tri akan menjadi kembali sehat, atau akan meninggal, tetapi memang tidak ada “krenteg” untuk mendoakannya.

Sekitar jam 23.00, hari Minggu, aku membaca status Facebook Adiatman, mengabarkan bahwa ayahnya meninggal pukul 22.35, akupun berkomentar, “nderek belasungkawa”. Aku tidak tahu, apakah harus merasa kehilangan atau tidak, aku tidak memiliki Pak Tri, sehingga tak ada alasan untuk merasa kehilangan, tetapi hari ini, Pak Tri Kadarsila memang sudah pergi, tak ada lagi seperti kemarin-kemarin.

Aku mengenal Pak Tri sejak tahun 1997, saat itu Pak Tri datang ke rumah orang tuaku, menyampaikan ke ayahku, mengajakku menjadi pencari data untuk penelitian Dampak Sosial Ekonomi Waduk Kedung Ombo. Pak Tri memang teman kuliah ayahku, aku masih ingat, gambar Pak Tri ada di salah satu foto pernikahan orangtuaku, walau foto itu sekarang sudah rusak. Orang tuaku bukan orang yang “rapi” dalam menyimpan foto, walau dulu ayahku suka memotret dengan kamera Yashica Elektro 35GX-nya, namun sayang, kini tak ada foto yang tersisa. Yang tersisa hanya ‘image’ foto-foto yang masih tersimpan di memori otakku, dan kameranya yang sekarang sudah rusak. Sejak kamera itu rusak, fokusnya tidak bisa tepat, karena terjatuh ketika dipinjam seorang kerabat, ayahku ‘malas’ memotret-motret lagi. Kamera rusak itu sekarang masih aku simpan, sebagai pengingat, bahwa dulu ayahku pernah menjadi “tukang foto”.

Dari ajakan Pak Tri itu, aku bisa “mengenal” Waduk Kedung Ombo, dari berbagai sisi. Walau sekarang sudah agak lupa, jalan-jalan yang dulu aku tempuh, tapi aku masih ingat, “rekor”-ku menyusuri desa-desa sekitar Kedung Ombo, dalam sehari pernah menempuh perjalanan lebih dari 200 km bersepedamotor. Bekal pengalaman “hafal” jalan-jalan di Kedung Ombo, dulu aku pernah mengajak pacarku, Ririn, dolan ke Kedung Ombo, dan pulang dengan basah kuyub, karena kehujanan.

Perkenalan berikutnya dengan Pak Tri, terjadi lagi tahun 2006 (kalau tidak salah), sejak Ki Ismunandar mengajakku ikut belajar Kawruh Jiwa di tempat kakak Pak Tri. Ternyata Pak Tri “tokoh” Kawruh Jiwa di Salatiga. Walau Ki Wagiman yang mengajarkan secara cepat apa itu “Kawruh Jiwa”, tetapi Pak Tri yang mengajarkan kepadaku “mengambil jarak” dari Kawruh Jiwa. Aku sepakat dengan Pak Tri, agar lebih obyektif memandang Kawruh Jiwa, perlu mengambil jarak, melihat dari berbagai sisi. Pak Tri yang menyebut Kawruh Jiwa sebagai “logikopsikologi” (Jawa), melihat Kawruh Jiwa sebagai cara berpikir yang “masuk akal”/logis, bukan sebagai ‘keyakinan’ atau ‘kepercayaan’ apalagi ‘klenik’.

Dengan adanya Pak Tri, pembelajaran Kawruh Jiwa di Salatiga, konon termasuk yang paling “terarah” dibandingkan dengan di kota-kota lain. Pak Tri yang membuat topik-topik yang dibahas dalam junggringan tiap bulan. Pertemuan terakhirku dengan Pak Tri di Kawruh Jiwa, adalah pada Junggring Saloka Agung di Jogjakarta bulan Mei 2010 yang lalu. Sejak bulan Mei itu memang aku tidak rutin datang junggringan, karena berbagai kerepotan di hari Minggu.

Pak Tri juga yang pernah meminjamkan kepadaku buku “Serat Centhini” yang tidak sempat aku baca secara detail.

Ya sudah…., hari ini aku akan datang melayat, mungkin akan aku ikuti sampai tanah pemakaman. Aku belajar beberapa hal dari Pak Tri, dan sekarang guru itu telah tiada, sebelum aku sempat belajar beberapa hal, lebih banyak lagi dari dirinya. Namun kematiannya kali ini juga mengajarkan kepadaku untuk bertanya, walau mungkin sulit terjawab: kapan aku akan mati, dengan cara bagaimana, dan apa yang akan aku ajarkan kepada orang lain sebelum kematianku tiba?

NB.
untuk Adiatman Gunadharma,
Maaf, aku tidak datang ke pesta pernikahanmu tanggal 5 Desember yang lalu. Aku baru terima undanganmu hari Rabu tanggal 8 Desember. Jadi, waktu kita bertemu di kafe di Jalan Monginsidi tanggal 6 Desember sore itu, aku ya belum terima/lihat undangan darimu.
OK, yang penting pernikahanmu lancar, dan menjadi awal dari sebuah keluarga yang baik.

Salatiga, 20 Desember 2010
LANGGENG BUNGAH SUSAH…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: