Belajar “tentang”

tanda tanya

Dalam kekagumannya pada Sang Buddha, ‘Ananda’ berkata kepada Sang Buddha, “Belum pernah ada guru sebesar engkau dan tak akan pernah ada seorang guru sebesar engkau di masa mendatang.”

Sang Buddha lalu bertanya, “Apakah engkau mengenal semua yang telah mengalami pencerahan, para buddha di masa lampau?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Apakah engkau mampu mengetahui semua buddha di masa depan?”

“Tidak, Yang Mulia.”

“Dan apakah kau mengetahui sepenuhnya pikiran buddha yang satu ini?”

“Tidak Yang Mulia. Aku bahkan tidak sepenuhnya mengetahui pikiranmu.”

“Lalu, bagaimana mungkin engkau berani membuat pernyataan seperti itu? Lebih baik kau bicara hal yang engkau ketahui daripada menebak-nebak dengan bodoh.” (Majjhima Nikaya)

Sebelum aku membaca tulisan diatas, aku sudah sering heran dengan beberapa teman diskusi ketika beradu argumentasi membuat statement yang menunjukkan seolah-olah bahwa dirinya ‘sangat tahu’ atas suatu hal. Bahkan dengan yakinnya menyatakan bahwa pandanganku keliru, salah atau sesat, seakan mereka tahu semua yang aku pikirkan dan rasakan hanya dari membaca tulisan atau mendengar kata-kataku. (Kalaupun mereka memang tahu, — tepatnya merasa tahu, –bukankah setiap orang berhak punya pandangan tertentu terhadap sesuatu, dan boleh berbeda dengan pandangan orang lain? Dunia ini tidak harus diseragamkan dengan satu pandangan tertentu yang menurut sekelompok orang adalah ‘yang paling benar’).

Orang bisa membaca dengan teliti tulisanku, boleh mendengar dengan cermat yang aku ucapkan, tapi tidak bisa mengetahui (semua) isi pikiranku yang sebenarnya. Ketika menulis aku bisa saja bercanda, atau pura-pura, dan kalau aku sedang bercanda atau pura-pura, bukankah tulisan itu semua adalah kebohongan? (baca tulisan STR: Aku tukang bohong)

Ketika aku menulis ‘kebohongan’ adalah bukan kebohongan itu sendiri, melainkan ‘tentang’ kebohongan. Apa beda antara kebohongan dengan ‘tentang’ kebohongan? Apa beda antara sesuatu dengan ‘tentang’ sesuatu. Inilah yang ingin aku uraikan disini.

Pertama kali aku belajar ‘tentang’, ketika beberapa tahun lalu berkunjung untuk ngangsu kawruh kepada Ki Wagiman Danurusanto, Ketua Pusat Paguyuban Pelajar Kawruh Jiwa, yang tinggal di Dusun Gombang, Desa Segiri, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. Aku sudah lupa bagaimana Ki Wagiman menjelaskan, tapi yang aku tangkap saat itu aku perlu membedakan antara kenyataan dan yang bukan kenyataan, yang nyata dan ‘tentang’ yang nyata itu. Ilustrasinya sederhana, ketika aku menulis ‘sapi’ dan menjelaskan segala sesuatu tentang sapi dengan sebuah boardmarker di sebidang white board, misalnya aku jelaskan bahwa sapi adalah binatang berkaki empat, punya tanduk, makan rumput, dan sebagainya, itu bukan sapi yang sebenarnya, tetapi hanya ‘tentang’ sapi. Sapi yang sebenarnya ada di kandang atau di pasar sapi (lihat tulisanku sebelum ini “Katanya”).

Berikutnya, ketika aku disuguhi gambar kartun “Fish a fish”, oleh seorang fasilitator dalam sebuah penataran. Fish a fish adalah kartun yang dibuat sekian puluh tahun yang lalu, entah oleh siapa, aku sudah lupa. Gambar kartun itu bercerita tentang persahabatan antara berudu dan ikan-ikan kecil dalam sebuah kolam. Dalam Fish a fish, ketika berudu sudah menjadi katak, dan ikan kecil sudah menjadi ikan besar, mereka sering berbagi cerita, khususnya katak dengan bangganya menceritakan apa yang dilihat di luar kolam, karena ia bisa meloncat dan berjalan-jalan di daratan.

Katak melihat sapi, diceritakanlah ‘tentang’ sapi itu kepada ikan, katak melihat burung, diceritakanlah ‘tentang’ burung dan katak melihat manusia, diceritakanlah ‘tentang’ manusia itu kepada ikan. Kartun itu menggambarkan bahwa yang dipahami oleh ikan ‘tentang’ sapi, ‘tentang’ burung dan ‘tentang’ manusia, berbeda dengan sapi, burung dan manusia yang diceritakan oleh sang katak.

Kartun itu sering dipakai sebagai ilustrasi bahwa yang diajarkan oleh guru (katak), seringkali ditangkap berbeda oleh muridnya (ikan), sehingga guru/pengajar harus semaksimal mungkin berusaha agar anak didiknya mengerti dengan benar apa yang dimaksud oleh pengajar. Kartun ini kadang aku tampilkan di awal kuliah, untuk menghibur mahasiswa, bahwa mereka bisa jadi menangkap pelajaran tidak seperti yang aku maksudkan, namun tentunya aku akan berusaha sebaik mungkin menyampaikan sesuatu agar ditangkap sebagaimana mestinya. Kalau belum tahu dan ingin tahu lebih lanjut Fish a fish, seperti apa gambar kartunnya, siapa pelukisnya, kapan dibuat, mendapat penghargaan apa, dan sebagainya, silakan googling sendiri saja. Tinggal ketik “google.com” terus ketik kata kunci “Fish a fish”, mudah khan..

Pesan penatar berkenaan dengan Fish a fish, adalah bahwa persepsi mempengaruhi daya tangkap siswa/mahasiswa, sehingga dosen/guru harus lebih dulu membangun persepsi yang sama sebelum mengajarkan sesuatu. Aku menangkap hal yang sedikit berbeda dari penjelasan penatar tentang Fish a fish. Dengan mengingat wejangan dari Ki Wagiman, mengenai ‘tentang’, aku berpikir bahwa ikan tidak menangkap apa yang disampaikan oleh sang katak, karena katak hanya bercerita ‘tentang’ sapi, ‘tentang’ burung dan ‘tentang’ manusia, sedangkan sapi, burung dan manusia-nya ada di tempat lain, bukan di ‘ruang’ cerita sang katak, sehingga wajar bila ikan tidak bisa ‘melihat yang sebenarnya’, melainkan ‘melihat’ sapi, burung dan manusia dengan persepsinya sendiri, persepsi yang terbangun dari akumulasi pengalaman hidup ikan itu selama di dalam air kolam.

Anda mungkin pernah tahu kisah seorang anak yang belum pernah melihat zebra, kemudian diminta menggambar seekor zebra, dengan diberi informasi bahwa zebra itu seperti kuda, dengan warna kulit belang-belang hitam dan putih. Anak itu benar-benar menggambar binatang dengan postur kuda,tetapi dengan warna kulit belang-belang seperti papan catur. (Jadi ingat, “Bagaimana membedakan zebra jantan dan zebra betina dengan tidak melihat alat kelaminnya? Lihatlah belangnya, zebra jantan berwarna hitam berbelang putih, dan zebra betina itu berwarna putih berbelang hitam.ha ha ha….)

Di kelas kuliah, aku mengajar matakuliah Manajemen Operasi, itu sebenarnya juga (hanya) ‘tentang’ Manajemen Operasi, sebab Manajemen Operasi yang sesungguhnya adalah yang ada di pabrik atau di perusahaan, ketika praktik-praktik pengelolaan operasi/kegiatan pabrik dilakukan oleh manajer operasi dan pegawai-pegawai perusahaan itu. Aku mengajarkan tentang ‘layout’ (tata letak), itu hanya ‘tentang’ layout, layout yang sebenarnya ada di pabrik, yaitu pengaturan mesin-mesin dan alat kerja sedemikian rupa untuk menunjang kelancaran dan efisiensi produksi.

Itu semua ini adalah soal ketelitian. Ketika anak kelas 1 SD diajari membaca “ini budi”, yang benar adalah “ini gambar budi”. Itupun kalau benar yang digambar adalah “anak yang bernama budi”. Anak-anak sejak kecil diajarkan tidak teliti, dan ini secara tidak sadar terus berlanjut, menyebabkan ketika remaja dan dewasa, menjadi kurang teliti ketika menghadapi, mengamati atau menganalisis sesuatu. Menganggap sesuatu itu “A” padahal itu hanya gambaran tentang “A”. Contoh konkritnya adalah “cinta”, ketika seorang cowok bersikap baik pada seorang cewek, maka si cewek kadang ke-gr-an, dan menyimpukan bahwa cowok itu sedang jatuh cinta padanya. Bisa saja benar, tapi tidak jarang itu sebuah kesalahan pengambilan kesimpulan.

Kadang orang tidak teliti, terlalu cepat membuat generalisasi, terlalu cepat menghakimi atau menghubungkan ini dan itu, sehingga tampaknya seolah-olah ada hubungan yang sahih antar hal, padahal bisa jadi tidak ada hubungan sama sekali, tidak ada hubungan sebab-akibat, bisa jadi hanya co-incident saja. Dalam regresi, walau secara statistik bisa dibuktikan ada hubungan yang signifikan antar variabel dependen dan independen, tapi tidak boleh ada kesalahan konsep, tidak boleh menghubungkan sesuatu yang mestinya tidak berhubungan.

Ketika aku beberapa kali mengutip tulisan Buddha, ada yang menganggap aku bukan lagi orang Kristen. (Apakah kutipan dalam tulisan menunjukkan ‘agama’ seseorang?). Ketika aku mempersoalkan ‘tentang’ Tuhan, ada yang menganggap aku menganut panteisme. (Jika dalam diskusi aku mempersoalkan tentang konsep Tuhan, apakah itu berarti aku tidak percaya pada (keberadaan) Tuhan?). Hm..mengapa orang begitu mudah mengambil kesimpulan? Ya.., karena orang tidak teliti, kurang teliti, tidak mau teliti atau memang tidak bisa teliti, karena pikirannya sudah diisi dengan keingingan tertentu, dan mengambil kesimpulan yang sesuai dengan keinginannya. Sebab akan menyakitkan mengambil kesimpulan yang tidak sesuai dengan keinginan.

Sampai hari ini seingatku hanya satu orang yang pernah bertanya kepadaku, tentang keyakinanku terhadap ‘sesuatu’ (kira-kira), “Mengapa Mas Wit percaya hal itu?”, dan aku menjelaskan kepadanya sebagian alasan percayaku. Banyak orang yang lain menghakimi: “Anda itu memang bebal, sesat, dan menyesatkan.” Mereka yang tidak setuju dengan pendapat dan pandanganku, kadang mengutip ayat-ayat Kitab (yang dianggap) Suci untuk memojokkanku, dan untuk menakut-nakuti agar aku ‘bertobat’, dan mengikuti pandangan mereka. Salah satu ayat favorit dari seseorang yang sangat tidak setuju denganku diambil dari I Timotius 4:1 “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan.” Aku dianggapnya murtad, mengikuti roh penyesat dan ajaran setan. Hm….(seolah-olah orang itu tahu segala sesuatu)

Aku sangat kagum pada Raja Salomo, ketika ditawari Tuhan untuk meminta sesuatu, ia meminta hikmat. Ya.. hikmat itu tidak bisa diajarkan, bahkan dengan teknologi pendidikan model apapun, hikmat atau kebijaksanaan itu tidak dapat diajarkan. Pengajaran ‘tentang’ hikmat hanya akan menghasilkan pemahaman ‘tentang’ (atau konsepsi) hikmat, tetapi bukan menghasilkan hikmat atau kebijaksanaan. Menurut Buddha, kebijaksanaan yang sempurna tidak dapat dipelajari atau dibedakan atau dipikirkan atau ditemukan lewat indera-indera, tidak pula dapat diketahui secara intelektual. Kebijaksanaan yang sempurna dapat ditemukan ketika tidak ada pembelajaran atau pencarian, ketika tidak ada konsep atau kata-kata biasa.

Tentang hikmat/kebijaksanaan, menurut Kitab Suci: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN” (Amsal 10:9, Mazmur 111:10). Tetapi hal ‘takut akan TUHAN’, lebih populer Amsal 1:7 yaitu “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” yang juga dikutip oleh Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, sebagai motto-nya.

Sayang, ditulis di UKSW di beberapa tempat dengan teks yang berbeda-beda. Di kaca atas Gedung Administrasi Pusat (GAP), juga di dinding timur Balairung yang baru, ditulis : “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”, sekian tahun yang lalu sudah ditulis di dinding Gedung G UKSW: “TAKUT AKAN TUHAN ADALAH PERMULAAN PENGETAHUAN”. Ditulis di sebuah stand banner di lorong perpustakaan: “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan”. Aku juga masih ingat, dalam sebuah kebaktian awal semester yang diselenggarakan oleh Campus Ministry, –sebuah ‘’unit’ di UKSW yang bertanggungjawab atas kerohanian kampus,– tema yang diusung: “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan”. Nampaknya tidak ada masalah, namun jika diteliti, tulisan di Amsal 1:7 itu “TUHAN”nya huruf besar semua, bukan Tuhan (hanya ‘T’-nya yang besar).

Ini hanya soal kecil “mengutip” ayat, lha kok ya tidak tepat. Ya.. bisa jadi karena pengutip tidak memahami perbedaan antara TUHAN dan Tuhan di dalam Kitab Suci terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Dipukul rata (generalisasi) ‘pokoknya’ Tuhan, padahal jika teliti, ada beda antara Tuhan dan TUHAN. Tetapi memang itu agak membingungkan, karena jika diucapkan Tuhan dan TUHAN bunyinya sama saja. Apakah kita akan berdoa dengan mengucapkan: “Ya TUHAN yang huruf besar semua..”?

[Aku tidak akan menjelaskannya disini, tapi…. kalau anda beragama Kristen, mungkin perlu belajar lebih lanjut jika belum paham beda antara Tuhan dengan TUHAN, atau beda antara ilah, allah, Allah dan ALLAH di Kitab Suci yang diterbitkan oleh LAI. Baca lagi dengan teliti Alkitab anda, hingga bagian KAMUS di halaman-halaman terakhir. (termasuk beda antara El, Eloah dan Elohim dalam bahasa Ibrani – aku sangat prihatin, ketika ada seorang pendeta meneleponku dan bertanya, “Elohim itu apa?”). Kalau anda bukan Kristen, pahamilah bahwa konsepsi Tuhan, dan Allah dalam komunitas Kristen, itu berbeda dengan konsepsi Tuhan yang anda pahami. Bahkan orang-orang Kristenpun memiliki konsepsi yang berbeda-beda tentang Tuhan dan Allah.]

Nah kembali mengenai ‘tentang’, jika yang diajarkan atau yang dipelajari adalah hal-hal fisik, kasat mata, audible, bisa ditangkap indera, maka berbagai metode pengajaran modern (misalnya dengan gambar, audio video, model miniatur, dan sebagainya) bisa menjelaskan ‘tentang’ dengan baik sehingga pemahaman antara pengajar dan pelajar bisa sama. Namun berbeda dengan misalnya pengajaran tentang hikmat , tentang kebijaksanaan atau tentang Tuhan eh.. TUHAN. Adakah teknologi pengajaran yang secara efektif dapat membantu pengajar untuk menyampaikan ‘tentang’ hikmat, ‘tentang’ kebijaksanaan atau ‘tentang’ TUHAN, sehingga hikmat, kebijaksanaan, atau TUHAN yang dipahaminya dapat ditangkap secara ‘benar’? Nampaknya tidak ada. Hikmat, kebijaksanaan dan TUHAN, tidak dapat didokumentasikan dengan audio-video, tidak juga dapat dibuat model miniatur.

Jadi ingat tulisan Kahlil Gibran dalam Sang Nabi, perihal Mengajar: “Pakar perbintangan mungkin bicara padamu tentang pengertian ruang angkasa, tapi dia tak dapat memindahkan pengertiannya kepadamu. …………… Dan dia yang berpengalaman dalam ilmu anga dapat menjelaskan tentang bagian-bagian dari berat dan ukuran, tapi dia tiada dapat membawa engkau pada pengertian hakikat kebenaran.”

Ini bukan berarti aku menganggap bahwa tidak ada metode yang dapat digunakan, namun setiap metode pasti memiliki keterbatasan. Ketika aku menjelaskan TUHAN, itu bukan Tuhan yang sebenarnya aku pahami, pikir dan rasakan keberadaanNya, melainkan hanya konsepsi ‘tentang’ TUHAN yang aku sampaikan dengan keterbatasan kata-kata yang dapat disalahmengerti, apalagi oleh orang-orang yang (sudah) memiliki konsepsi tertentu tentang TUHAN. Termasuk ketika seorang rohaniawan menjelaskan surga dan neraka, itu hanya ‘tentang’ surga dan ‘tentang’ neraka. TUHAN, surga dan neraka yang sesungguhnya mungkin baru akan kita pahami ketika kita sudah ‘menikmati’ kehadiran TUHAN, atau ketika kita sudah menikmati ‘suasana’ surga atau neraka. Itupun jika TUHAN, surga dan neraka itu memang benar-benar ada. (hm.. jangan-jangan anda terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa aku tidak percaya pada TUHAN, dan tidak percaya adanya surga dan neraka.)

Aku jadi ingat sulitnya memahami ‘Aku’ yang dimaksud oleh Yesus di Kitab Suci.

Yohanes 14:8-9 Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

Filipus yang sudah sekian lama bersama Yesus, ternyata tidak tahu siapa ‘Aku’. ’Aku’ yang dimaksud Yesus dalam pernyataan-pernyataannya memang bukan hal yang mudah dijelaskan, sebab di tempat lain Yesus mengatakan: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yohanes 8:58). Di bagian lain di Kitab Suci, ditulis bahwa Yesus menyatakan: “Aku dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30), di bagian lain lagi Yesus mengajarkan berdoa kepada Bapa (Doa Bapa Kami – Matius 6; Lukas 11). Hm.. bukankah akan rumit jika dijelaskan, apa/bagaimana/siapa ‘Aku’ dan ‘Bapa’ yang dimaksud Yesus itu. Sangat besar kemungkinan terjadi beda pemahaman antara orang yang menjelaskan dengan orang yang kepadanya dijelaskan, lebih-lebih jika orang yang menjelaskannya-pun hanya berbekal pengetahuan ‘tentang’. Apalagi yang ‘tentang’ itu-pun dari “katanya”.

Sekarang dapat dimengerti bahwa belajar memasak berbeda dengan belajar tentang memasak, belajar mengemudi berbeda dengan belajar tentang mengemudi. Belajar tentang berpacaran berbeda dengan belajar berpacaran. Belajar bercinta berbeda belajar tentang bercinta.

Nah, pertanyaan untuk diri kita masing-masing (misalnya):

# Apakah kita sudah belajar etika atau belajar tentang etika,

# Apakah kita sudah belajar mengasihi atau belajar tentang mengasihi.

# Apakah kita sudah mengenal TUHAN atau mengenal (konsepsi) tentang TUHAN?

Jangan sampai ketika baru belajar ‘tentang’ sesuatu, dan mengetahui ‘tentang’ sesuatu, namun mengambil kesimpulan, bersikap dan bertindak seolah-olah sudah tahu ‘segala sesuatu’, seperti kesimpulan ‘Ananda’ terhadap Sang Buddha di atas.

Hm.. jadi ingat bahwa banyak orang bercerita tentang ‘kebenaran’. Bukankah itu semua hanya TENTANG kebenaran, dan bukan kebenaran itu sendiri? “Kebenaran sesungguhnya tidak pernah dikotbahkan oleh Sang Buddha, sebab seseorang harus menyadarinya di dalam diri sendiri.” (Lamkara Sutra). Menurut Kitab Suci, Yesus menyatakan sebagai ‘kebenaran’. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6). Lantas, ‘kebenaran’ seperti apa yang kita pahami? Kebenaran atau tentang kebenaran?

OK, tentang Belajar ‘tentang’, cukup sekian dulu.

One response to this post.

  1. […] Ingat…. “TENTANG” Tuhan yang esa, bukan Tuhan yang esa itu sendiri. (lihat di sini: Belajar TENTANG ) […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: