Katanya

katanya

orang tua bersusah payah

banting tulang mencari nafkah

kadang tangan dibuat kali demi cintanya untuk anak yang tersayang

tapi apa kenyataannya anak manja salah pergaulan

dilarang malah melawan

dinasihati orang tua, malah tertawa ha ha ha

lho malah tertawa…,

katanya belajar malah keluyuran

spp kebobolan enam bulan

ingat masa depan jangan dulu pacaran

malah nekat ngajak pergi tanpa pesan

lho kok malah minggat..2x

dst

Itu petikan lagunya Arie Wibowo, berjudul ”Lho…” yang dulu (entah kapan tepatnya aku tidak ingat) ada dalam album bersama lagu-lagu lainnya misalnya ”Madu dan Racun” yang sangat populer. (aku ingat Arie Wibowo, karena ’katanya’ dia dari Salatiga, dan temanku dulu pernah punya istri yang ’katanya’ saudara dari Arie Wibowo.)

Aku tidak ingin membahas lagu, tapi itu satu-satunya lagu yang aku ingat ada kata ”katanya”, ketika hendak menulis tentang ”katanya”, yang sudah lama pernah muncul di salah satu sudut otakku, dan menjadi semakin jelas setelah membaca tulisan STR berjudul ”Aku tukang bohong”.

Sejak kecil kita hidup karena ’katanya’. Bahkan sejak dalam kandungan, kita sudah diberi ’treatment’ karena ’katanya’. Dua minggu lalu, adikku mengadakan acara mitoni (7 bulan kehamilan), aku yakin, itu dilakukannya karena ’katanya’ orang hamil yang sudah memasuki bulan ke-7 perlu disyukuri (dislameti), biar nanti bisa sampai bulan ke-9 tetap dalam keadaan baik. Tetapi dulu, aku tidak pernah mengadakan acara mitoni untuk kemamilan istriku.

Aku merasa tidak perlu melakukan acara khusus seperti itu, bukankah tiap malam aku sudah berdoa kepada ”DIA” untuk kebaikan ibu dan anak dalam kandungannya, apakah masih perlu doa khusus di bulan ke-7?! Apakah bagi DIA ada yang ’doa umum’ dan ’doa khusus’? Tidak cukupkah doa-doa kepada DIA aku ucapkan dalam hati dalam diam dan keheningan, atau haruskah doa diucapkan lantang seperti ketika mengusir setan.

Dulu, ari-ari anakku yang pertama, aku tanam didekat dinding depan kamar, dan aku beri lampu, karena ’katanya’ lampu dapat menjauhkan dari gangguan roh jahat. Nyatanya anakku yang pertama pernah kerasukan roh jahat. Ketika pemahamanku tentang Tuhan dan setan, berubah, ari-ari anakku yang terakhir (terakhir sampai saat ini), aku tanam dekat ari-ari kakaknya, tanpa lampu, dan hingga kini anak itu baik-baik saja, belum pernah manampakkan tanda-tanda kerasukan roh jahat.

Jika ’katanya’ itu dari orang-orang yang kita hormati, maka kita cenderung meng-ya-kan tanpa (berani) bertanya lebih lanjut, ”Apa benar demikian?”. Hm.. akupun mengakui sampai sekarang masih menyimpan beberapa catatan ’katanya’ beberapa orang tua, yang belum dapat aku buktikan benar/salahnya, dan itu aku tuliskan dalam buku kecil yang aku beri tulisan ”untold” di sampulnya. Tidak banyak catatan disana, dan aku hanya menulis yang aku pikir perlu, ketika diberi ’wejangan’ oleh seseorang, atau mendengar sesuatu dari seseorang. Walau tetap dengan tanda tanya ”apa iya?”, namun aku catat itu, dan mungkin berguna di suatu saat nanti.

Aku memang sudah membuktikan, aku nurut pada salah satu ’untold” itu, dan hasilnya anak pertamaku lahir dengan mudah, tanpa masalah sama sekali. Waktu itu, setelah mengantar istri ke rumah bersalin kira-kira jam 16.30, aku ke kampus dan mengajar mata kuliah Manajemen Operasi jam 17.00-18.00 (mestinya sampai jam 19.30, tapi aku pulangkan awal dan bilang ke mahasiswa, ”ada kepentingan mendadak”), selesai kuliah aku langsung ke rumah bersalin, dan kemudian pulang ke rumah untuk mandi, karena perawat bilang ”masih lama”. Selesai mandi, aku datang lagi ke rumah bersalin, anakku sudah lahir. Satu hal yang belum aku lupakan, ketika pertama kali melihat anakku di ruang bayi, anak itu tersenyum, dan bagiku ini aneh, karena katanya, penglihatan bayi masih kabur, bagaimana dia bisa tersenyum ketika aku memandangnya? Entahlah, waktu itu adikku yang menemaniku juga heran. Malam hari hingga dini hari, aku sibuk mencari nama, sambil menghitung-hitung angka, karena ’katanya’ nama anak harus disesuaikan dengan angka neptu hari lahirnya.

Anakku berikutnya juga tidak mengalami kesulitan ketika dilahirkan, bahkan anak terakhir lahir hanya 17 menit sejak aku berangkat ke rumah bersalin. Apakah itu semua karena sebuah ’untold story’ yang aku yakini, atau karena hal lain, aku tidak tahu. Tapi ketika aku sarankan sesuatu kepada seseorang, yang ketika itu menurut dokter, anak dalam kandungan istrinya yang berusia 6 bulan ”tidak berkembang”, dan nyatanya anaknya lahir normal setelah 9 bulan. Ya, itu semua ’katanya’…

’Katanya’, (dalam bahasa Jawa = jarene – mungkin dari kata ’ujare’) menjadi senjata bagiku untuk mempertanyakan sesuatu yang disampaikan orang lain. Beberapa teman pendeta, tahu kalau aku sering mengatakan ”iku khan jarene” (itu khan katanya), bahkan ketika kami sedang diskusi tentang Firman Tuhan. Pendeta kotbah-pun kami komentari, ”itu khan katamu”. Pelajaran tentang ’katanya’ ini membuat beberapa teman sangat hati-hati jika berbicara, setiap statement, perlu disertai argumentasi, tidak asal ngomong, apalagi jika omongan itu juga akumulasi dari ’katanya’-’katanya’-’katanya’.

’Katanya’ yang paling dapat membuat orang tidak mampu berpikir dengan baik, adalah ’katanya’ pikiran sendiri, bahwa pikiran itu adalah akumulasi dari ’pelajaran’ yang sudah kita peroleh sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan. Ketika pikiran kita ’diadu’ dengan pikiran orang lain, cenderung kita memenangkan pikiran kita. Itulah sebabnya orang sulit berubah, enggan berubah, atau bahkan tidak bisa berubah, karena sudah MERASA bahwa dirinya sudah baik, sudah benar.

Maka, aku sering mencoba belajar menggunakan pikir, bukan pikiran. Pikir adalah murni, tanpa catatan/pengalaman, seperti pikir(an) anak kecil, yang begitu polos memahami segala sesuatu yang diajarkan kepadanya. Tapi itu sungguh sulit, karena catatan dalam pikiranku, selalu menjadi hakim bagi pengetahuan/pelajaran baru. Dampaknya adalah menolak yang tidak cocok, dan menerima yang cocok dengan pikiranku. Ini berbahaya, karena penerimaan dan penolakan berdasarkan kecocokan, atau sebenarnya dengan ’kesenangan’. Kalau senang, diterima, kalau tidak senang, ditolak. Aku harus selalu berusaha, penerimaan atau penolakan hendaknya tergantung dari kebenaran ’berita’ atau ’pelajaran’ itu, bukan karena aku suka atau tidak suka, apalagi karena siapa yang menyampaikan.

’Katanya’ adalah salah satu upaya untuk menguji, apakah pelajaran baru yang disampaikan oleh seseorang itu benar atau tidak, sebab banyak kebohongan di bumi ini. Kebohongan-kebohongan yang sengaja disampaikan demi kepentingan tertentu. Anak kecil sudah dibohongi, bahwa hantu itu ada dalam gelap, bahwa hantu itu menakutkan, dan akibatnya menjadi anak yang takut gelap, dan takut hantu.

Selain STR menulis ”Aku tukang bohong”, Ki Ageng Suryamentaram, juga pernah menyampaikan, (kira-kira) ”semua yang saya katakan itu adalah tipuan” (sebab Ki Ageng Suryamentaram punya prinsip bahwa, yang diajarkan bukanlah yang dikatakan). Sesuatu menjadi ’bukan sesuatu’ ketika sudah dikatakan atau ditulis. Contoh, ketika aku mengatakan atau menulis ”sapi” maka yang aku tulis itu bukan sapi yang sebenarnya, sapi yang sebenarnya ya sapi yang di kandang atau di pasar hewan itu, dan kita akan tahu yang sebenarnya ketika sudah menghadapi sapi yang sesungguhnya, bukan tulisan ‘sapi’ atau kata-kata ‘sapi’.

Beberapa hari yang lalu aku menghadiri upacara pemakaman orang tua dari seorang teman, aku berbisik kepada temanku, “Mengapa orang mati itu ditangisi?” – ketika kami melihat seseorang turun dari taksi dan sambil menangis menuju ruang jenasah disemayamkan – Aku lanjutkan bisikanku, karena temanku diam saja, ”Karena sejak kecil anak-anak sudah diberi pelajaran, bahwa orang mati itu ditangisi, bahwa kematian adalah dukacita”. Pelajaran itu sangat melekat bagi banyak orang, sehingga percuma Rasul Paulus dalam Kitab Tesalonika, mengingatkan ”supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan”. Sangat sulit mengubah ’paradigma’ bahwa kematian sesungguhnya adalah hal yang biasa, bukan sebuah dukacita, yang perlu atau harus ditangisi. Pikiran banyak orang sudah ber-cap bahwa kematian itu dukacita yang harus ditangisi, kalau tidak menangis bisa dianggap tidak sopan, atau tidak bersimpati dengan peristiwa itu.

Mari kita uji, apakah kematian itu menyedihkan sehingga harus ditangisi? Kalau dari wejangan di Kawruh Jiwa, yang membuat sedih itu bukan kematiannya, tetapi karena harapan yang tidak tercapai. Karena kita mengharapkan ’orang itu’ tetap hidup, maka ketika ia meninggal, kita sedih, karena kita mengharapkan ia tetap bersama kita, maka ketika ia pergi, kita sedih. Sesungguhnya ketika dapat menyadari ’harapan’, dan dapat mengendalikan harapan itu, kegembiraan dan kesedihan tidak perlu muncul menjadi letupan-letupan emosi yang ’aneh’, semisal tertawa terbahak-bahak atau menangis ’gero-gero’.

’Katanya’ orang tua: orang dekat mati = menangis, dan itu tertanam melekat erat di dalam memori (otak) seorang anak kecil, hingga ketika dewasa, iapun akan menangis (melakukan hal yang sama) ketika menghadapi kematian orang-orang dekatnya, dan ini turun-temurun, tanpa pernah dievaluasi, apa benar demikian? Apakah yang dilakukan oleh banyak orang itu selalu benar? Apakah ’katanya’ orang banyak itu selalu benar?

Masih ingat ada sebuah suku di Papua, yang jika ada kematian, maka ungkapan simpati itu diwujudkan dengan memotong jari? Apakah itu benar? Ya.., benar menurut budaya di suku itu, tetapi apakah betul-betul sudah benar? Tidakkah perlu bertanya, ”Apakah kematian harus ditangisi?” Apakah menangis itu sudah betul-betul benar, dan tidak ada cara lain selain menangis untuk mengungkapkan rasa simpati. Tetapi memang, menangis adalah cara yang paling populer, dan (juga) paling mudah digunakan untuk menipu orang lain bahwa kita dapat saja menangis untuk menunjukkan seolah-olah bersimpati, padahal dalam lubuk hati yang paling dalam, bisa saja ada senyum bahkan tawa atas kematian itu.

Menangis dalam peristiwa kematian adalah contoh ekstrim dari ’katanya’ yang sudah melekat dalam otak (bahkan mungkin otak bawah sadar) kita. Sadar atau tidak sadar, dalam hidup ini ada banyak ’katanya’ yang mempengaruhi diri kita.

Dialogku dengan seorang teman:

Aku: ”Apakah berpikir itu dosa?

Yemanku: ”ya kalau berpikir jorok ya dosa.”:

Aku: ”dosa itu apa?”

Temanku: ”dosa itu melanggar perintah Tuhan, atau yang tidak berkenan bagi Tuhan”

Aku: ”Tuhan itu apa?”

Temanku: ”pencipta alam semesta”

Aku: ”itu katanya siapa?”

Temanku: ”ya katanya kakek-nenek dulu”

Aku: ”apa itu benar?”

Temanku: (*$%#) bingung dan dialog tidak berlanjut….

Hm.., lebih parah adalah ketika kita meyakini yang ’katanya’ Kitab (yang dianggap) Suci, sebab banyak orang menganggap bahwa Kitab Suci adalah kebenaran mutlak yang tidak perlu diragukan lagi. Ketika kita mempertanyakan kebenaran ’katanya’ Kitab Suci, kita dianggap murtad, mau melawan Tuhan dan sebagainya. Ada peringatannya di Kitab Wahyu pasal 22: ”Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Tuhan akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Tuhan akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

Padahal, kalau mau sedikit cermat, ketika hendak percaya pada Kitab Suci, mau percaya pada Kitab Suci yang mana? Ada banyak Kitab (yang dianggap) Suci, contoh mudah, mau Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru (KS PL&PB), atau mau Kitab Suci Al Quran, bukankah keduanya (dianggap) Kitab Suci? Itu-pun mau versi yang mana? KS PL & PB punya banyak versi terjemahan, demikian juga Al Quran punya beberapa versi.

Contoh konkrit, menurut KS PB: Yesus mati disalib, menurut Quran: Yesus tidak mati disalib, menurut KS PL: Ishak yang akan dikorbankan oleh Abraham, menurut Quran (tafsir, karena di Quran tidak ditulis secara jelas): Ismail yang akan dikorbankan Ibrahim. Menurut KS PB, Yesus itu adalah ’utusan’ terakhir, sebelum yang paling akhir adalah Roh Kudus, menurut Quran nabi (utusan) terakhir adalah Muhammad.

Sama-sama Kitab Suci, tetapi memberitakan hal yang berbeda, dan semua dianggap benar oleh masing-masing pemercayanya. Bukankah itu bukti bahwa kebenaran itu relatif, dan celakanya kita memanipulasi diri kita sendiri untuk mengatakan bahwa yang kita yakini itu yang benar, dan keyakinan orang lain adalah tidak benar atau kurang benar. Catatan ’kebenaran’ kita, menghakimi ’kebenaran’ orang lain. Catatan-catatan yang adalah hasil ’katanya’ dari yang pernah kita dengar atau baca.

Pernahkah kita berusaha menguji ’katanya-katanya’ itu, tetapi menjadi masalah serius, jika ’alat uji’ nya adalah juga ’katanya’. Lalu…, persoalannya adalah dimanakah atau apakah kebenaran yang sesungguhnya, jika bukan dari ’katanya’ dan ’katanya’ serta ’katanya’?

’Katanya’ Lamkara Sutra, ”Kebenaran sesungguhnya tidak pernah dikotbahkan oleh Sang Buddha, sebab seseorang harus menyadarinya di dalam dirinya sendiri”. ‘Katanya’ Kitab Yohanes, Yesus itulah kebenaran, sebab ’katanya’ Yohanes 14:6, Yesus sendiri berkata, ”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup, Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (teliti baik-baik jalan dan kebenaran, bukan jalan kebenaran)

Dari buku ”Inti Ajaran Buddha” yang pernah aku baca:

Seseorang bertanya kepada Sang Buddha, ”Orang terpaku pada keyakinan yang mereka sayangi. Mereka bertengkar dan mengatakan, ’Peganglah kebenaran ini dan kau akan diselamatkan, jka kau menolaknya, kau akan sesat,’ Demikianlah mereka beradu pendapat dan mengatai yang lainnya dungu. Yang manakah yang benar bila semua menganggap dirinya ahli?”

Sang Buddha menjawab, ”Jika perselisihan menunjukkan kebodohan, maka mereka semua itu bodoh karena setiap orang punya pandangannya sendiri. Tidak ada hal yang kusebut benar jika itu termasuk mengatai yang lain bodoh, karena itu berarti menganggap ’kebenaran’ sebagai miliknya.”

Tetapi apa yang mendorong para ’ahli’ ini mengotbahkan pendapat mereka dan menyebutnya kebenaran?” tanya orang itu. ”Apakah sudah merupakan warisan umat manusia untuk berbuat demikian atau hanya untuk memuaskan diri mereka?”

”Selain kesadaran,” jawab Sang Buddha, ”tidak ada kebenaran mutlak. Penalaran yang keliru menyatakan sesuatu pandangan sebagai benar dan yang lain salah. Karena senang akan keyakinan yang disayangi dan dipegang erat, mereka menegaskan bahwa siapa pun yang tidak setuju akan mengalami akhir yang mengerikan. Pencari sejati tidak ada yang mengurusi semua hal itu. Berlalulah dengan damai dan laluilah jalan tak bernoda, bebas dari segala teori, nafsu keinginan, dan dogma.” (Majjhima Nikaya)

Dari Anguttara Nikaya, (ketika Kalamas dari Kesaputta mendatangi Sang Buddha):

Karena itu dengarkan aku, Kalamas, ”Jangan percaya kabar angin dan desas-desus, juga apa yang dikatakan orang kepadamu, juga yang kau dengar dikatakan oleh orang lain, bahkan juga pemuka ajaran-ajaran, tradisi lamamu. Jangan percaya penalaran, atau suatu pengambilan kesimpulan suatu hal berdasarkan hal yang lain, atau argumen tentang suatu cara, atau percaya karena suka terhadap suatu pendapat, ataupun karena mengagumi sang guru dan menganggap kau harus tunduk kepadanya. ”Sebaliknya, Kalamas, ketika dari lubuk hatimu sendiri kau mengetahui bahwa suatu ajaran tidak baik, bahwa ketika dijalankan membawa kerugian dan penderitaan, kau harus mempercayai dirimu sendiri dan menolak ajaran itu.”

(Aku senang dengan kata-kata Paulus di I Korintus 7:12 Kepada orang-orang lain aku, bukan Tuhan, katakan:…..), ternyata Paulus sang Rasul-pun tidak mengklaim kata-katanya itu dari Tuhan.)

Hm.., ingat itu semua juga ’katanya’ lho… , sebagian ‘katanya’ orang lain, sebagian ‘kataku’, lalu… apa ‘katamu’?

2 responses to this post.

  1. Posted by Brush Mind on 2010/11/28 at 10:59 am

    baso kecebur kolam
    rembulan bergoyang

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: