TO THE POINT (saja)

Pada beberapa semester ini, kalau sedang masanya mahasiswa registrasi matakuliah, HP saya “dibanjiri” SMS yang dikirim oleh mahasiswa dan mahasiswi. Ada beberapa kepentingan mereka, namun semua berkaitan dengan registrasi matakuliah untuk semester yang akan berjalan.

SMS yang mula-mula masuk, selalu berkisar pertanyaan, “Kapan SIASAT-nya? (SIASAT adalah kependekan dari Sistem Informasi Akademik SATya Wacana. Kalau tidak salah ingat, nama “SIASAT” ini hasil ngobrol-ngobrol saja dari beberapa orang yang dulu pertama kali men-setup sistem registrasi dengan komputer, bahkan ONLINE, menggantikan sistem yang dulu pakai kertas. Kata “SIASAT” ini menggantikan kata “registrasi matakuliah”, dan orang di UKSW tahu, bahwa kalau disebut SIASAT, itu maksudnya registrasi matakuliah).

Untuk pertanyaan itu (ada banyak SMS yang masuk dengan pertanyaan yang serupa), biasanya saya jawab, “Lihat di website saja.”, karena saya memang tidak hafal jadwal registrasi mahasiswa, dan kadang kalau jadwal sudah pasti saya tahu, saya jawab dengan jadwal yang sudah ditetapkan.

SMS berikutnya, berisi permintaan tambahan “kuota” SKS. Ini datang dari mahasiswa-mahasiswa walian saya. Ada beberapa mahasiswa yang minta tambahan SKS, melebihi dari beban maksimum yang sudah ditetapkan oleh ‘sistem’ dalam SIASAT. Penambahan SKS, bukan perkara yang sulit, tinggal edit data dari SIASAT, lanjutkan dengan “UPDATE”, dan SKS sudah bertambah. Namun akses untuk menambah SKS memang hanya dimiliki oleh walistudi. Sudah tentu walistudi akan mempertimbangkan beberapa hal untuk mau menambah SKS atau tidak.

SMS yang lain adalah jika mahasiswa memiliki masalah seputar SIASAT-nya. Misalnya tidak mendapat kelas (kapasitas sudah penuh), atau terlambat registrasi, sehingga tidak dapat mendaftar ke kelas tertentu. Saya-pun perlu menjawab sesuai dengan yang semestinya saya jawab, misalnya, kalau yang berkaitan dengan masalah-masalah tertentu yang bukan kewenangan saya untuk “mengatasi”, saya arahkan mahasiswa untuk menemui Kaprodi. Dan kadang kemudian dari Kaprodi, mahasiswa diminta menghubungi saya (lagi). Jika demikian, saya akan minta mahasiswa ke BARA (Biro Registrasi dan Administrasi) di GAP (Gedung Administrasi Pusat), silakan menemui bagian SIASAT, dan minta “petunjuk” ke mereka, apa yang mesti dilakukan oleh mahasiswa.

Sebenarnya tidak menjadi soal ada banyak SMS masuk ke HP saya, toh kalau saya mulai malas memencet keypad HP untuk menjawab SMS-SMS itu, saya akan hidupkan bluetooth HP sehingga bisa connect ke laptop, dan saya jawab SMS itu melalui laptop. Lebih mudah.

Yang menjadi persoalan adalah, pertama, beberapa mahasiswa, ketika mengirim SMS pertama kali, tidak menyebutkan Nomor Induk Mahasiswa/NIM-nya, sehingga saya tidak tahu, pengirim itu siapa. Memang ada beberapa nomor yang tersimpan di phonebook, tapi hanya beberapa mahasiswa dan mahasiswi saja. Lainnya, nomor-nomor HP dari mahasiswa yang pernah mengirim SMS ke saya, akan tersimpan dalam “back-up SMS” yang saya simpan dalam laptop.

Kedua, mahasiswa mengirim SMS itu tidak TO THE POINT, sehingga memerlukan beberapa kali SMS-SMSan, baru tahu maksud sebenarnya.

Misalnya, ada mahasiswa mengirim SMS, “Pak Wit ada dimana, saya mau bertemu“. Mungkin terkesan “ketus”, tapi saya jawab SMS itu, “Ada perlu apa?

Dan jawabannya sederhana, “Saya mau minta tambahan 2 SKS Pak“.

Sampai sini, saya masih harus mengirim SMS lagi, “NIM-mu berapa?

Setelah mahasiswa tadi mengirimkan NIM-nya, kemudian saya mengirim SMS lagi, “Sudah“, dan mahasiswa tadi menjawab, “Terima kasih Pak“. Kadang saya jawab lagi, “OK“.

Coba seandainya mahasiswa tadi mengirim SMS demikian, “Pak, saya minta tambahan 2 SKS, nim: XXXXXXXX” dan kalau pas saya akses internet, segera saya bisa masuk ke SIASAT, dan mengupdate data, saya cukup sekali menjawab SMS itu, “Sudah“.

Ada lagi mahasiswa yang mengirim SMS ke dua nomor HP saya dengan tulisan, “Apakah benar ini nomor Pak Wit?“, dan saya jawab dari HP yang satu saja, “Benar”. (bukankah nomor HP saya sudah saya pasang di kantor, juga di website saya?)

Saya memang tidak suka basa-basi, saya lebih suka yang efisien. Kalau tidak perlu bertemu langsung, dan bisa dikomunikasikan cukup via SMS, atau email atau Facebook, ya tidak perlu/harus bertemu.

(Bukankah saya juga selalu memikirkan cara yang efisien untuk menghubungi dan beribadah kepada Tuhan?. Saya kadang merenung, ibadah kepada Tuhan banyak basa-basi-nya, terlalu banyak waktu habis untuk “persiapan” dan basa-basi lainnya. Di gereja, ketika hendak mendengarkan (yang katanya) Firman Tuhan (padahal kadang lebih banyak firman pendetanya), jemaat perlu menyanyikan lagu bermenit-menit untuk “mempersiapkan hati dan pikiran”. Lha apa ketika berangkat ke gereja itu belum menyiapkan hati dan pikiran untuk mendengarkan kotbah?)

Basa-basi yang lain, adalah ketika saya chatting dengan beberapa orang. Ada yang terlalu banyak/sering menuliskan kata, “Mas” dan saya perlu menjawab dengan tulisan, “?” dan sepanjang chatting berlangsung, kata-kata itu banyak muncul, sehingga saya juga perlu menjawab dengan, “?“. Jika saya diamkan saja, “Mas“-nya itu bisa jadi “Maaaassssssssssssss” dan saya juga akan jawab, “?????????????????????”. Lha mbok ya langsung ke pokok persoalannya. TO THE POINT (TTP) gitu lho.., supaya tidak boros menulis kata-kata.

Ah, tapi kadang basa-basi juga perlu, terutama ketika akan mengungkapkan ketertarikan pada seseorang. Kalau TTP bisa kacau balau. Perlu “prolog” yang bagus sehingga ketertarikan itu direspons seperti yang diharapkan. Demikian juga dalam negosiasi, kadang perlu berbasa-basi agar tidak terkesan “terlalu bernafsu untuk mendapatkan order”. Oh ya, katanya para pengajar sexologi, dalam hubungan seksual-pun perlu basa-basi, tidak boleh langsung TTP, karena perempuan perlu pemanasan dulu sebelum siap melakukannya.

Ya, bolehlah basa-basi, tapi tidak perlu terlalu sering berbasa-basi, apalagi kalau sudah “saling tahu”, basa-basi tidak berefek apapun. Itu menurut saya, entah anda.

Oh ya, kalau kirim SMS jangan nyasar ya..

Saya beberapa kali dapat SMS nyasar, dan yang terakhir, dari seorang mahasiswi:

Cintaquw,

Met ngband sygquw

Ati2 bwgt y sygquw ngbandna

Pkokna jgn cpek2 y luvelyquw Sygquw,

Ni ndud mw mndi dlu cintaquw Biar tmbh wngi trus tmbah cntik m manis nnti klo ktmu sygquw..hihi

Mmmmuuaaahh

Nnti plgna ati2 bwgt y sygquw

Plan2 aj djlan y sygquw

Ndud syg bwgt m sygquw

Eemmmuuaaahh”

hahaha… mesra sekali ya…..



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: