Mimpi Buruk Sang Teolog

dikutip dari http://www.nabble.com/MIMPI-BURUK-SANG-TEOLOG.-tt20828947.html

Sang teolog kenamaan, Dr. Thaddeus, bermimpi bahwa ia meninggal dunia dan berjalan menuju surga. Penelitiannya telah mempersiapkannya dan ia tidak menemui kesulitan menemukan jalannya. Ia mengetuk pintu surga, dan menghadapi pemeriksaan yang jauh lebih teliti daripada yang diharapkannya.

“Saya minta masuk,” katanya, “karena saya manusia baik dan membaktikan hidup saya demi kemuliaan Tuhan.”

“Manusia?” tanya penjaga pintu surga, “Apa itu? Dan bagaimana sebuah makhluk lucu seperti Anda berbuat sesuatu untuk meningkatkan kemuliaan Tuhan?”

Dr. Thaddeus tercengang. “Anda tentu bukan tidak tahu tentang manusia. Anda tentu tahu bahwa manusia adalah karya Sang Pencipta yang paling luhur.”

“Mengenai itu,” kata penjaga pintu surga, “saya mohon maaf kalau menyinggung perasaan Anda, tetapi apa yang Anda katakan adalah hal baru buat saya. Namun, karena Anda tampak tidak senang dan gelisah, Anda boleh berkonsultasi dengan ahli perpustakaan kami.”

Sang ahli perpustakaan, suatu makhluk bundar dengan seribu mata dan satu mulut, menyorotkan beberapa matanya kepada Dr Thaddeus.

“Apa ini?” tanyanya kepada penjaga pintu surga.

Jawab penjaga pintu surga, “Ini berkata bahwa ia anggota suatu spesies yang disebut ‘manusia’, yang hidup di sebuah planet bernama ‘Bumi’. Ia mempunyai pengertian aneh bahwa Sang Pencipta berminat khusus terhadap tempat itu dan terhadap spesies itu. Saya rasa Anda dapat menjelaskan kepadanya.”

“Yah,” kata sang ahli perpustakaan dengan ramah kepada sang teolog, “mungkin Anda dapat menjelaskan kepada saya di mana tempat yang Anda sebut ‘Bumi’ itu.”

“Oh,” kata sang teolog, “itu bagian dari Tata Surya kami.”

“Dan apa itu Tata Surya?” tanya sang ahli perpustakaan.

“Oh,” kata sang teolog dengan agak bingung, “bidang saya adalah Pengetahuan Suci, tetapi pertanyaan yang Anda ajukan termasuk bidang pengetahuan profan. Namun, saya cukup banyak belajar dari rekan-rekan saya di bidang astronomi dan dapat mengatakan bahwa Tata Surya adalah bagian dari Bima Sakti.”

“Dan apakah Bima Sakti itu?” tanya sang ahli perpustakaan.

“Oh, Bima Sakti adalah salah satu dari Galaksi-Galaksi, yang saya dengar jumlahnya beberapa ratus juta buah.”

“Baiklah, baiklah,” kata sang ahli perpustakaan, “Anda tidak bisa mengharapkan saya sengingat salahsatu dari begitu banyak. Tetapi saya ingat, dulu pernah mendengar kata ‘galaksi’ itu. Bahkan, salah seorang asisten ahli perpustakaan kami mengkhususkan diri di bidang galaksi. Marilah kita panggil dia dan lihat apakah dia bisa membantu.”

Tidak berapa lama kemudian, asisten ahli perpustakaan galaktik itu muncul. Wujudnya makhluk berbidang dua belas. Jelas bahwa permukaan tubuhnya pernah cemerlang, tetapi debu rak-rak perpustakaan telah membuatnya gelap dan buram.

Sang ahli perpustakaan menjelaskan kepadanya bahwa Dr. Thaddeus, dalam mencoba menjelaskan tempat asalnya, menyebut-nyebut ‘galaksi’, dan ia mengharapkan bisa memperoleh informasi dari bagian galaktik di perpustakaan itu.

“Yah,” kata sang asisten ahli perpustakaan, “saya rasa lama kelamaan bisa, tetapi karena ada ratusan juta galaksi, dan masing-masing mempunyai bukunya sendiri, perlu beberapa waktu untuk menemukan buku yang sesuai. Manakah yang diinginkan oleh molekul aneh ini?”

“Galaksi yang disebut ‘Bima Sakti’,” jawab Dr. Thaddeus terbata-bata. “Baiklah,” kata asisten ahli perpustakaan, “Saya akan mencarinya kalau dapat.”

Sekitar tiga minggu kemudian ia kembali, dan menjelaskan bahwa sistem kartu indeks yang amat efisien dari seksi galaktik perpustakaan itu memungkinkannya menemukan galaksi itu sebagai nomor QX 321.762. “Kami telah mengerahkan,” katanya, “seluruh kelima ribu staf seksi galaktik untuk pencarian ini. Mungkin Anda ingin bertemu dengan staf yang khusus

berkepentingan dengan galaksi yang dipermasalahkan ini?”

Staf itu dipanggil, dan ternyata merupakan makhluk berbidang delapan dengan satu mata di setiap bidang dan satu mulut di salahsatu bidang. Ia terkejut dan nanar mendapati dirinya di ruangan yang berkilauan itu, jauh dari keremangan rak-rak bukunya. Sambil menenangkan diri, ia bertanya dengan agak kemalu-maluan, “Apakah yang ingin Anda ketahui tentang galaksi saya?”

Dr. Thaddeus menjawab: “Yang saya inginkan ialah mengetahui tentang Tata Surya, suatu kumpulan benda langit yang beredar mengelilingi suatu bintang di galaksi Anda. Bintang yang dikelilingi oleh benda-benda langit itu disebut ‘Matahari’.”

“Hmmm,” kata staf ahli Bima Sakti itu, “sungguh sulit menemukan galaksi yang dimaksud, tetapi menemukan bintang yang dimaksud di dalam galaksi itu jauh lebih sulit lagi. Saya tahu ada sekitar tiga ratus milyar bintang di galaksi ini, tetapi saya sendiri tidak mempunyai pengetahuan untuk membedakan satu bintang dari bintang yang lain. Namun, saya rasa, suatu daftar dari seluruh tiga ratus milyar bintang itu pernah diminta oleh pihak Administrasi, dan mungkin daftar itu masih tersimpan di ruang basement. Jika Anda menganggap itu bermanfaat, saya akan mengerahkan tenaga dari Tempat Lain untuk mencari bintang ini.”

Maka diputuskan, karena masalah itu telah muncul dan Dr Thaddeus jelas tampak gelisah, mungkin itu jalan terbaik yang perlu diambil.

Beberapa tahun kemudian, suatu makhluk berbidang empat yang tampak amat lelah dan tidak bersemangat, datang ke hadapan asisten ahli perpustakaan bagian galaktik.

Katanya, “akhirnya saya berhasil menemukan bintang yang dicari itu, tetapi saya sama sekali tidak mengerti mengapa bintang itu membangkitkan minat begitu besar. Ia mirip dengan sejumlah besar bintang lain di galaksi yang sama. Berukuran sedang dan bersuhu sedang, ia dikelilingi beberapa benda langit yang jauh lebih kecil, disebut ‘planet’. Setelah diteliti dengan saksama, saya mendapati bahwa, setidak-tidaknya beberapa planet ini mempunyai parasit, dan saya rasa makhluk yang melakukan penyelidikan ini tentulah salahsatu dari parasit itu.”

Di situ, Dr. Thaddeus meletup dalam ratapan yang kuat dan penuh amarah:

“Mengapa, oh mengapa, Sang Pencipta menyembunyikan dari kami, penghuni Bumi yang malang ini, bahwa bukan kamilah yang mendorong-Nya untuk menciptakan Surga? Sepanjang hidup saya yang lama, saya telah melayaninya dengan rajin, dan merasa yakin bahwa Ia akan melihat layanan saya dan mengganjar saya dengan Kebahagiaan Abadi. Dan sekarang, tampak bahwa Dia bahkan tidak tahu saya ada. Anda berkata bahwa saya merupakan jasad renik yang amat kecil pada suatu benda kecil yang beredar mengelilingi salah satu anggota dari kumpulan

tiga ratus milyar bintang, yang hanya merupakan salahsatu dari jutaan kumpulan-kumpulan bintang seperti itu. Saya tidak bisa menerima itu, dan tidak bisa lagi memuja Pencipta saya.”

“Baiklah,” kata penjaga pintu surga, “kalau begitu Anda boleh pergi ke Tempat Lain.”

Lalu terbangunlah sang teolog itu. “Kuasa Setan terhadap imajinasi kita di waktu tidur sungguh mengerikan,” gumamnya.

~ Bertrand Russell.

________________________

Dari: Fact and Fiction, 1961; terjemahan: Hudoyo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: