SANGIRAN, one of world heritage (number 593)

23 November 2009 siang, sepintas aku membaca tulisan di selembar kertas, bahwa masih dibuka pendaftaran untuk Seminar “On the origin of Species”, aku mengirim SMS ke nomor HP salah satu panitia, agar namaku didaftar. Alasan utama aku berminat ikut seminar itu, karena ada sesi kunjungan lapangan ke Situs Sangiran, yang sejak aku masih SD sudah mendengarnya, tapi hingga anakku sudah SD, aku belum pernah ke Sangiran. Cerita tentang Sangiran hanya sedikit pernah aku dengar dari salah seorang kerabat, yang pernah kunjungan studi wisata ke sana. Esok paginya aku mengikuti seminar tentang Evolusi Manusia itu di BU-UKSW. Bagiku,daripada membaca sendiri hal-hal seputar evolusi, lebih enak mendengar dari para ‘pakar’ tentang hal itu. Aku menikmati acara-acara seminar itu. Memang enak jadi peserta.

25 November 2009, rombongan peserta dan panitia seminar pergi ke Sangiran, berangkat dari Salatiga dengan 5 bis kecil + 1 minibus (eh.. apa bedanya bis kecil dan minibus? bis kecil=bis dengan kapasitas 25 orang penumpang, minibus disini = Kijang Inova hehehe..). Aku satu bis dengan salah seorang guru SMA-ku dulu, eh.. beliau juga mengaku bahwa belum pernah ke Sangiran. Ternyata setelah sampai Sangiran, ada peserta yang sudah disana menggunakan mobil sendiri. Jadi total kendaraan yang dipakai rombongan ada 5 bis kecil, 1 Kijang Inova, 1 Kijang Super, 1 Starlet, + 1 Yaris, nanti dalam kunjungan ke ‘lapangan’, ditambah 1 Rush, mobil dinas kepala ‘museum’ , itu yang aku tahu.

Singkat cerita, kami mendapat pelayanan istimewa, setelah bersama-sama menonton film singkat tentang situs Sangiran, kami boleh mengunjungi semua bagian museum, tidak hanya ruang pameran, tetapi juga ruang kerja dan laboratorium. Bahkan ke ruang-ruang yang belum 100% selesai. Kami-pun dipandu langsung oleh Dr. Harry Widianto, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, kami juga diantar dan dipandu di lokasi-lokasi yang agak jauh dari museum, dijelaskan tentang lapisan-lapisan tanah tempat ditemukannya fosil-fosil.

Yang istimewa lainnya, kami disana dijamu dengan minuman dan makanan-makanan kecil khas ‘ndesa’, dan masing-masing kami juga diberi sebuah buku luks berjudul “SANGIRAN MENJAWAB DUNIA” yang dicetak terbatas. Menurut informasi, sekuens dari buku itu sedang disiapkan, dan aku berharap, besok bisa mendapat buku lanjutannya, apalagi kalau ‘gratis’ lagi….

Ada banyak hal yang aku dapat selama 2 hari, 1 hari seminar dan 1 hari kunjungan. Dalam satu sesi seminar, dibahas tentang ‘hubungan’ evolusi dan iman (agama), dan seperti selama ini aku pahami, ditegaskan bahwa Kitab Suci hendaknya tidak dipahami hanya secara tekstual, Kitab Suci juga bukan buku ilmu pengetahuan ‘ilmiah’. Bahwa penciptaan Adam dan Hawa yang termuat dalam Kitab Suci hanyalah “cerita” untuk memudahkan bangsa Israel mendapatkan identitas asal-usulnya. (Ingat bahwa kisah penciptaan tertulis jelas dalam Kitab Kejadian, dan ribuan tahun sesudahnya, Quran juga menceritakan hal yang sama, walau kalah detail jika dibandingkan dengan Kitab Kejadian). Ini tentu akah menimbulkan diskusi dan debat dengan orang-orang yang terbelenggu oleh doktrin dan dogma agama. Apalagi dengan orang-orang yang beriman bahwa Kitab Suci itu “turun dari langit”, ditulis oleh Tuhan sendiri. Hm.. jadi ingat kata Nietzche, “Iman berarti tidak ingin mengetahui apa yang benar”.

Ada peserta seminar yang menyatakan bahwa semakin ia mempelajari evolusi, semakin yakin dengan kebenaran Kitab Suci, karena semua terkonfirmasi dengan ayat-ayat Kitab Suci. Dalam hati aku tersenyum mendengar pernyataan itu, sebab bagiku, ayat-ayat Kitab Suci itu ada banyak sekali, dan kita bisa memilih ayat-ayat yang akan mendukung pendapat kita. Jadi.. sudah pasti ayat-ayat Kitab Suci akan sesuai dengan yang kita ‘yakini’.

Hal lain yang aku dapat dari seminar, adalah yang dipahami selama ini bahwa manusia itu bernenek-moyang kera, ternyata tidak sesederhana itu penjelasannya. Aku kesulitan menjelaskannya, tapi salah satu yang patut dicatat adalah bahwa teorinya, evolusi itu terjadi pada level populasi, bukan pada level individu. Sayangnya, tidak banyak orang yang sempat atau mau membaca buku tebalnya Darwin: The Origin of Species (1859), jadi kalau teori evolusi Darwin dipahami secara keliru disimplifikasi “manusia itu keturunan kera”, dapat dimaklumi.

Satu hal yang aku kagum, dan tetap belum mengerti (mungkin juga selamanya tidak akan mengerti), adalah bagaimana seorang muda Eugene Dubois yang terpesona oleh teori Darwin, kemudian yakin bahwa mising link sejarah evolusi manusia itu ada di daerah tropis, sehingga ia memutuskan berangkat ke Indonesia, untuk mencari jawaban atas mising link evolusi itu. Semula ia mencari di goa-goa di Sumatra, tidak berhasil menemukannya, kemudian pindah ke Jawa, setelah mendengar ada temuan fosil manusia ‘Wadjak’ di Tulungagung, kemudian dia bisa ke Trinil dan selanjutnya ke Sangiran dan mengumumkan penemuan pithecanthropus erectus. Sangiran hanyalah nama sebuah dusun kecil, tempat Dubois menginap. Fosilnya sendiri, pertama kali ditemukan tidak di dusun Sangiran. Apakah sebuah kebetulan, obsesi seorang Dubois di Belanda, terjawab dari pencariannya di tanah Jawa? Entahlah, itu akan tetap menjadi misteri, apakah kebetulan belaka, atau memang sudah diatur oleh DIA, sehingga rahasia-rahasia itu dapat diungkap sedikit demi sedikit, melalui sebuah obsesi seorang anak manusia. Jadi ingat di film Knowing ada 2 aliran yaitu randomness dan deterministic dalam memahami kejadian-kejadian di alam semesta ini. Sampai saat ini aku menganut ‘deterministic’, walau tak sanggup menjelaskan keterhubungan satu keadaan’/kejadian dengan keadaan/kejadian lainnya.

Oh ya…, satu hal yang tidak dibicarakan dalam perbincangan ‘ilmiah’ tentang evolusi, adalah soal “roh” manusia. Urusan roh mungkin memang cukup dibahas bukan dalam forum ‘ilmiah’, sebab sampai saat ini sesuatu dapat disebut ilmiah bila dapat dimengerti dengan logika atau dapat dikenal lewat panca indera kita. Roh atau ada yang menyebut bagian terkecil dan ‘halus’ dalam tubuh ini dengan istilah ‘citta’, mungkin hanya dapat dipahami lewat pengalamah ‘rohani’ atau spiritual dan supranatural.

Kini aku berharap, semoga suatu hari nanti aku dapat mengajak anak-anakku berkunjung ke Sangiran untuk melihat kisah perjalanan “nenek moyang” mereka, hahaha… Tidak perlu dalam waktu dekat, sebab sampai tahun 2010 Sangiran masih berbenah, untuk mewujudkan obsesinya menjadi tempat tujuan wisata ilmiah yang tidak kalah dengan tempat sejenis di China atau Afrika. Aku juga ingin melihat seperti apa patung yang berharga ratusan juta rupiah, yang konon biaya pengepakannya saja lebih dari 1.000 uero, yang saat ini masih dipesan dari Paris. Mungkin setelah tahun 2012, jika dunia (aku) belum kiamat.

baca juga: http://www.telegraph.co.uk/news/newstopics/religion/4588289/The-Vatican-claims-Darwins-theory-of-evolution-is-compatible-with-Christianity.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: