8×3 = 23, Out of Court ?

copy-paste from Kis Prijono’s Note (http://www.facebook.com/note.php?note_id=213375585218)

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.

Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain

sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan

penjual kain sedang berdebat. Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu

bilang 24?”

“Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah

diperdebatkan lagi”.

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa

minta pendapatmu?

Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah

Confusius yang berhak mengatakan”.

Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?”

Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong

untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”

Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu”. Keduanya sepakat untuk

bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan

Hui sambil tertawa: “3×8 = 23.

Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia.” Selamanya Yan Hui

tidak akan berdebat dengan gurunya.

Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia

berikan kepada pembeli kain.

Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui

menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa

Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.

Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati

Yan Hui dan memberi cuti padanya.

Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali

setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : “Bila hujan

lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”

Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2

angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan

Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan

dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia

meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu

hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam

dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya.

Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang,

dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi

di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya.

Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius,

jangan membunuh.

Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah

adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata:

“Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”

Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun

hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah

pohon.

Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru

mengingatkanmu agar jangan membunuh”.

Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.”

Confusius bilang: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan

keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.

Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan

kehilangan jabatanmu.

Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah

dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.

Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih

penting?”

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih

utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun.

Murid benar2 malu.” Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu

mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita: Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh

dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.

Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah

kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.

Banyak hal ada kadar kepentingannya.

Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya

malah menyesal, sudahlah terlambat.

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah

yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

(Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat

penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (suami

tidak betah di rumah)

Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

(Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman).

Barangkali cerita ini mengilhami pengambilan keputusan Out of Court

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: