Mengapa kita disebut ‘sesama’ (manusia)?

Suatu ketika aku chating dengan seseorang, melalui Yahoo Messenger, berdiskusi soal manusia. Satu pertanyaanku yang tidak tuntas terjawab adalah, “Mengapa kita disebut sesama manusia?” Jawaban mudahnya adalah, karena kita sama-sama manusia. Pertanyaanku selanjutnya adalah, “mengapa kita disebut manusia?”

Ada banyak jawaban yang muncul, dan paling mudah, adalah ‘definisi’ bahwa manusia adalah mahkluk ciptaan Tuhan. (hm.. Tuhan? Tuhan itu apa? siapa? bagaimana? ada dimana?

[OK… tulisan ini tidak hendak membahas tentang Tuhan, asumsinya kita sepakat bahwa Tuhan itu ada (atau paling tidak, ada KONSEP tentang Tuhan), entah Tuhan yang dikonsep sebagai person atau dipersonifikasi, sehingga DIA punya mata, telinga, tangan dan sebagainya. Atau ‘Tuhan’ yang dikonsep sebagai suatu ZAT yang Maha Kuasa (entah zat padat, cair atau gas?), atau Tuhan yang dikonsep sebagai ‘kekuasaan tertinggi’ atau ‘kehendak tertinggi’, atau “kesadaran tertinggi”. Entah Tuhan yang (dianggap) punya nama atau yang tidak punya nama, ANGGAP saja (ASUMSIKAN dulu) Tuhan itu ADA.]

Jika manusia hanya didefinisikan ‘ciptaan Tuhan’, tumbuh- tumbuhan dan binatang-binatang juga ciptaanNYA, berarti masih tidak tepat.

Jika manusia didefinisikan, mahkluk Tuhan yang punya perasaan dan pikiran, bukankah binatang juga punya perasaan dan pikiran. Manusia itu mahkluk yang punya jiwa, apakah binatang tidak punya jiwa? Lagipula, jiwa itu apa? (apa mungkin kita mengklaim bahwa binatang itu tidak punya jiwa, hanya karena kita tidak tahu ke-jiwa-an binatang?) Jika disebut manusia itu punya roh, apakah binatang tidak punya roh?

Jika manusia didefinisikan “ciptaan Tuhan yang paling sempurna”, Hm.. bukankah itu klaim sepihak dari manusia sendiri? Lha UFO/alien itu apa kalah sempurna dibandingkan manusia? Bukankah mereka juga ciptaan Tuhan?

Apakah ‘manusia’ itu seperti ‘pornografi’, yang tidak bisa didefinisikan, tetapi kita tahu ketika sudah melihatnya. Kita semua dapat dengan mudah membedakan manusia dengan binatang (misalnya) ketika kita melihatnya, sama halnya kita akan dapat menilai apakah sesuatu itu porno atau tidak, ketika kita sudah melihatnya.

Mengapa kita disebut ‘sesama’? Apa yang sama di antara kita?

Jika kita memang sudah ‘sesama’, apakah kita masih perlu mencari-cari berbagai kesamaan untuk dapat hidup rukun dan damai?

Bukankah yang (disebut/dianggap) kafir’ itu juga sesama manusia? Bukankah yang tidak seiman dengan kita juga sesama manusia? Bukankah yang beda pendapat dengan kita juga sesama manusia? Bukankah yang menentang pandangan kita juga sesama manusia?

Saya menduga, orang-orang yang masih memiliki rasa benci, rasa tidak suka pada orang lain, bahkan yang ingin melenyapkan manusia lain, karena dianggap sebagai musuhnya, mungkin karena belum tahu atau belum menyadari bahwa manusia lain itu adalah sesama, kalaupun bisa mengakui bahwa mereka adalah sesama, namun tidak dapat menjelaskan dengan tepat, ke-sesama-an-nya itu apa/bagaimana?

Apa yang anda pahami tentang sesama manusia? Apa yang sama antara saya dan anda ? Apa yang sama antar manusia? Apakah ke-sesama-an itu belum cukup untuk membuat kita hidup damai berdampingan di satu dunia ini?

Apakah kita perlu membenci orang yang berbeda pendapat dengan kita? Jika kita MERASA ber-Tuhan, apakah harus membenci terhadap yang kita anggap tidak ber-Tuhan, atau yang Tuhan-nya berbeda dengan Tuhan kita?

Tuhan-pun membiarkan SETAN berada dan bekerja di bumi ini, apakah Tuhan ingin melenyapkan sebagian manusia, mahkluk ciptaanNya sendiri?

Jadi.., saya sangat tidak percaya jika Tuhan (yang benar) memerintahkan kita untuk memerangi / membunuh sesama kita.

Tuhan yang saya kenal adalah Tuhan yang salah satu perintahNya adalah “Jangan Membunuh….”, Tuhan yang saya kenal adalah Tuhan yang tidak beragama dan tidak menciptakan agama, demikian juga, Tuhan yang saya kenal adalah Tuhan yang tidak menjadikan ‘agama’ sebagai syarat untuk mencapai surgaNya. Dan saya memahami bahwa bukan ke-agama-an kita yang paling penting dihadapan Tuhan, tetapi ke-manusia-an kita.

Sudahkah kita menjadi manusia yang benar-benar manusia, dan sadar bahwa orang lain adalah ‘sesama’ kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: