Malu

malu“Ibu-ibu, bapak-bapak, siapa yang punya anak. Bilang aku, aku yang tengah malu sama teman-temanku, karna cuma diriku yang tak laku-laku …”

Lagu ‘Kisah kasih di sekolah’-nya Obbie Mesakh juga ada ‘malu’nya:

“..malu aku malu, pada semut merah, yang berbaris di dinding menatapku curiga, seakan penuh tanya sedang apa disini? Menunggu pacar jawabku…”

Lagu T2, malah berjudul “Malu”

Dulu juga ada lagu yang bersyair “Malu dong, malu dong ah..”

Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, terbitan Balai Pustaka tahun 1976, ‘malu’ adalah “merasa sangat tak senang (rendah, hina, dsb) karena berbuat sesuatu yang kurang baik, bercacat, merasa berkekurangan, dsb.” Arti yang lain adalah perasaan kurang senang (rendah, hina, dsb), cela (cacat, aib, dsb.) yang menimbulkan rasa kurang senang. Malu berbeda dengan memalukan berbeda pula dengan kemaluan. Memalukan adalah kondisi yang membuat malu, atau malu tentang sesuatu; sedangkan kemaluan walau dapat berarti mendapat malu atau merasa malu, atau hal malu atau sesuatu yang menyebabkan malu, namun kini orang lebih biasa menyebut kemaluan untuk arti aurat, baik laki maupun perempuan.

Orang cenderung merasa nyaman ketika keadaannya sama dengan ‘pada umumnya’ atau dianggap lebih baik daripada yang umum, namun akan merasa tidak nyaman ketika kurang daripada ‘pada umumnya’. Menjadi berbeda memang butuh keberanian, keberanian untuk dikatakan ‘beda’ atau ‘tidak umum’ atau bahkan ‘nyentrik’ dan ‘aneh’.

Seorang rekan (sebut saja Bp. X) dari Madiun, Jawa Timur, sangat berani menjadi berbeda dengan orang lain. Berikut ini adalah kisahnya ketika orang tuanya meninggal dunia, di malam hari, setelah beberapa saat sakit. Saat orang tuanya meninggal, adalah ketika giliran Bp. X yang menunggui, menggantikan istrinya.

Pagi hari setelah bangun tidur, terkejut karena ayah mertuanya sudah tidak ada ditempat biasanya terbaring, istrinya bertanya, “Bapak dimana?” “Sudah selesai,” jawab Bp. X. “Selesai bagaimana?” tanya istri Bp.X. “Bapak sudah selesai aku kubur di belakang rumah!”, jawab Bp.X dengan santai. Istrinya kebingungan dan peristiwa itu kemudian menggegerkan para tentangga, hingga aparat desa, hingga polisi. Singkat cerita polisi mengambil tindakan atas peristiwa tersebut, kuburan dibongkar kembali, jenasah divisum oleh dokter untuk memastikan apakah kematiannya wajar atau tidak.

Kesimpulan dari dokter, kematiannya adalah wajar, sesuai dengan kesaksian Bp. X bahwa ayahnya memang meninggal dunia, baru kemudian dikuburkannya, setelah sebelumnya dimasukkan ke dalam peti mati yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, bahkan ketika memaku peti matinya-pun dilakukan dengan kepala paku diganjal kain, agar benturan dengan palu tidak menimbulkan bunyi yang keras, agar istrinya tidak terbangun. Polisi tidak bisa menerima begitu saja kisah penguburan diam-diam itu,karena itu tidak wajar (tidak umum), dan Bp. X diinterograsi di kantor polisi. (ya dialognya tidak seperti berikut ini, tapi kurang lebih demikian:)

Polisi: Orang tua meninggal, mengapa langsung dikuburkan sendiri, tidak lapor RT?

Bp. X: Lha saya itu RT-nya!

Polisi: #^%^?

Polisi: Mengapa langsung dikuburkan, tidak dimandikan dulu?

Bp. X: Jaman PKI dulu, tidak ada mayat dimandikan ya tidak apa-apa.

Polisi: Mengapa dikuburkan di tanah sendiri, tidak di pemakaman umum?

Bp. X: Bu Tien Soeharto itu ya dikuburkan ditanah sendiri (Astana Giribangun), ya tidak masalah.

Polisi: Ya.. tapi dibelakang rumah itu khan tidak umum?!

Bp. X: Tidak umum itu khan karena belum banyak yang mengikuti, nanti kalau sudah banyak yang ikut ya jadi umum. Lagi pula ayah saya pesan kalau meninggal supaya dikuburkan dibelakang rumah saja.

Polisi: Ya.., tapi khan tetap tidak umum itu Pak.

Bp. X: Apa yang umum itu pasti benar? Dulu jaman PKI, umumnya orang-orang ikut PKI, ternyata kemudian mereka malah diciduk. Saya yang tidak ikut, malah selamat.

Polisi: Hm.., Bapak ini sekolahnya apa, kok pintar menjawab?

Bp. X: SD saja tidak lulus Pak.

Polisi: Berguru dimana, kok bisa seperti ini?

Bp. X: Tidak punya guru, tapi kalau teman punya banyak di berbagai kota.

Polisi: (kebingungan tidak dapat menyalahkan Bp. X)

Para tetangga tetap tidak dapat menerima apa yang dilakukannya, dan kemudian menguburkan kembali jenasah ayah Bp. X, di pemakaman umum. Pada malam hari, Bp. X pergi ke pemakaman umum, menuju kuburan ayahnya dan membalik salah satu patok (tenger) di kubur ayahnya itu. Esok harinya, ada tetangga yang melihat salah satu patok kubur dalam keadaan terbalik, menyangka bahwa Bp.X sangat teguh pendiriannya, dan tadi malam kembali memindahkan jenasah ayahnya dari pemakaman umum ke belakang rumahnya, dan karena tergesa-gesa hingga patok kuburnya dikembalikan secara terbalik. Bp. X-pun tidak menjelaskan bahwa dia sengaja ke kuburan hanya untuk membalik patok, bukannya mengambil jenasah ayahnya, namun dia tidak meralat pemahaman para tetangganya yang menyangka Bp. X mengambil kembali jenasah ayahnya. Bp. X bilang, “Masyarakat itu senangnya kalau ditipu kok.., jadi ya biar saja salah sangka”

Kisah di atas sungguh terjadi, dan aku dengar dari seorang teman yang kenal baik dengan Bp. X. Aku-pun jika ada kesempatan, suatu kali akan mengunjungi Bp. X di Madiun. Bp. X ini adalah contoh ekstrim dari sebuah keberanian untuk berbeda dengan orang lain. Bp. X tidak malu disebut ‘tidak umum’ bahkan ‘aneh’ oleh para tetangganya. Pendiriannya teguh, tidak terpengaruh oleh penilaian masyarakat sekitar. Apa yang diyakininya benar, dilakukan begitu saja.

Orang yang tidak percaya diri, atau kurang percaya diri akan sering merasa malu, merasa rendah diri jika berhadapan dengan orang lain. Inilah akibat orang banyak terarah menjadi seperti yang diinginkan orang lain (jadi ingat tulisan Bejo Saputro: BT ; Kudu Misuh***), bukan menjadi diri sendiri yang madeg mandireng pribadi. Banyak orang ingin seperti orang lain yang sudah terbukti ‘dihargai’ oleh masyarakat, bukan menjadi dirinya sendiri. Mengindentifikasi diri seperti tokoh idolanya adalah gejala kurang percaya diri. Ikut-ikutan orang lain adalah tanda tidak percaya diri. Bukan berarti tidak boleh seperti orang lain, tetapi jika potensi diri diarahkan untuk menjadi seperti orang lain, untuk ikut-ikutan (Jawa=tiru-tiru), itu adalah hal yang tidak sehat, sebab setiap manusia diciptakan sebagai individu yang unik, diciptakan sebagai dirinya sendiri, bahkan orang kembar-pun memiliki perbedaan.

Mengapa perlu malu jika berbeda dengan orang lain? Apakah kita harus sama dengan mereka? Juga apakah perlu mempermalukan orang lain yang berbeda dengan kita, atau berbeda dengan ‘pada umumnya’? Anggaplah perbedaan itu sebagai hal yang wajar, terima perbedaan sebagai keniscayaan dalam hidup, maka kita tidak perlu malu atau mempermalukan orang lain. Bukankah sesungguhnya tidak menjadi soal apakah seseorang itu sama atau berbeda dengan orang lain, selama orang itu tidak membawa kerugian, atau kecelakan, atau penderitaan pada orang lain?.

Aku senang dengan lagu-lagu yang bagus, tapi kalau syairnya mengajarkan hal yang tidak benar, ya perlu dicermati baik-baik. Jika mau cari pacar karena malu, bukankah nanti akan malu juga jika pacarnya kalah cantik atau kalah dalam hal lain dibandingkan pacar teman-temannya, dan ini akan berlanjut terus, karena ukuran pencapaian diri adalah ‘seperti teman-teman’.

Bukan berarti tidak peduli pada orang lain, tetapi menjadi diri sendiri itu lebih berharga daripada memaksakan diri menjadi seperti orang lain. Semakin berusaha mengidentifikasi diri dengan orang lain, akan semakin besar peluang untuk merasa malu. Mari menjadi diri sendiri dan tidak perlu malu. Malu pada siapa? Teman-teman, orang-orang lain, masyarakat itu ya sama dengan kita, sama sama manusia, sama-sama ciptaan Tuhan yang sangat sangat sangat kecil dibandingkan dengan semesta alam ini. (coba lihat : “Manusia kecil mungil”, bayangkan besarnya alam semesta, sehingga mungkin benar bahwa manusia ini hanya seperti ‘virus’ kecil di alam semesta – silakan baca “Mimpi buruk Sang Teolog”)

Kita tidak perlu malu pada mereka yang lebih pintar, lebih kaya, lebih cantik, lebih terhormat, lebih berani, dan lebih-lebih yang lain, dan sebaliknya kita juga tidak perlu mempermalukan mereka yang kurang pintar, yang kurang berharta, yang kurang rupawan, dan yang memiliki kekurangan-kekurangan lainnya dibandingkan dengan kita. Dengan demikian kita akan dapat hidup dengan kedamaian sejati, berdampingan dengan orang-orang yang berbeda.

(hm.. tapi ada juga yang merasa malu bukan karena kekurangan, melainkan kelebihannya lho.. . Apa hayo? )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: