Ada, mengada dan menjadi ada

Ketika Kitab Pengkotbah di Perjanjian Lama menyatakan “tidak ada yang baru dibawah matahari”, mungkin dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini, semula sudah ada. Semua yang ada berasal dari yang ada, ke-ada-an lah yang menyebabkan segala yang ada. Ada adalah hasil proses mengada dari yang (sudah) ada.

Tapi.., bagaimana (misalnya) dengan tulisan ini, semula tidak ada, dan sekarang ada dan dapat dibaca oleh banyak orang. Ya. semula tulisan ini hanya belum saya upload ke website ini, sebelumnya ada di draft di laptopku. Bukankah sebelum di-draft tulisan ini benar-benar tidak ada. Benar, memang tulisan ini belum berbentuk susunan huruf-huruf yang dapat dibaca, namun ‘tulisan’ ini sudah ada di pikiranku. Ketika belum ada dipikiranku, bukankah tulisan ini benar-benar tidak ada? Hm.. sudah ada di “alam semesta”, dan kemudian tertangkap oleh pikiranku, tersalurkan melalui jari-jemariku,terekam di hardisk, dan kemudian tampil di layar komputer.

Einstein pernah mengemukakan bahwa energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Rumusan ini mungkin lebih mudah untuk menjelaskan bahwa yang ada, tidak dapat diciptakan dari yang tidak ada, dan yang sudah ada, tidak dapat di-tiada-kan. Bahwa semula belum tampak, atau akhirnya menjadi tidak tampak, itu tidak berarti tidak ada.

Lalu bagaimana dengan alam semesta, semula tidak ada, dan menjadi ada ketika sudah diciptakan oleh “Tuhan”, bukankah berasal dari ketiadaan? “Tuhan” adalah kata yang mudah dipakai untuk menggambarkan “Sang Pencipta” (Kang Murbeng Dumadi) – yang dipahami sendiri-sendiri oleh penganut agama yang berbeda-beda.

Orang Kristen, yang mendasarkan imannya pada Kitab Suci Perjanjian Lama (Taurat, Mazmur/Zabur, dan Kitab para Nabi) dan Perjanjian Baru (Injil dan Kitab Para Rasul), (mestinya) mengakui bahwa Tuhannya adalah YHWH (Yahweh) dan kemudian menjelma menjadi Yesus (Yeshua = YHWH Shua = YHWH Penyelamat). – namun sayang kebanyakan orang Kristen (khususnya di Indonesia) tidak lagi mengenal YHWH, melainkan hanya mengenal Yesus – bahkan tidak perduli pada YHWH — , itupun dengan anggapan bahwa Yesus adalah Anak Allah, bukannya anak YHWH, atau menganggap tidak ada perbedaan antara Allah dan Yahweh. (kontroversi kata “Allah” dalam kekristenan masih terjadi hingga saat ini, ada yang peduli ada yang tidak peduli).

Mungkin hal itu terjadi karena Alkitab terbitan LAI telah “dengan sengaja menghilangkan” YHWH dan menggantinya menjadi TUHAN (huruf besar semua) dan ALLAH (huruf besar semua). Tidak banyak orang Kristen yang mempedulikan bahwa di Alkitab terbitan LAI itu dibedakan antara Tuhan dan TUHAN, antara allah, Allah dan ALLAH.

Makanya sekarang aku pakai KS-ILT (Kitab Suci Indonesian Literal Translation) yang bukan terbitan LAI, karena lebih jelas.

Tapi ya biar saja, orang Kristen tidak peduli pada YHWH, sebab YESHUA (YESUS) sendiri pernah mengatakan di Matius 11:27 : Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.

Dan menurut Kitab Yesaya 64:8 Bapa adalah YHWH: Tetapi sekarang, ya YAHWEH, Engkaulah Bapa kami!….

Bagi orang Islam, jelas menurut Quran, tiada Tuhan selain Allah, (tidak banyak orang Islam yang mengerti apalagi mengakui YHWH, padahal menurut Kitab Taurat, YHWH adalah Tuhannya Musa, Ishak dan Yakub – tapi orang Islam menganggap Tuhan Musa adalah Allah – padahal, kalau ditilik dari sejarah, Musa adalah orang Israel, dan sampai sekarang orang Israel tetap mengakui bahwa Elohimnya adalah YHWH (sering disebut dengan kata “Adonai”)). Tapi ya entahlah.. orang Islam menyakini bahwa Tuhan adalah Allah, itu hak mereka, berdasarkan argumentasi mereka sendiri.

Ada yang menyebut Sang Hyang Widi, orang Jawa menyebutnya Gusti, Gusti kang akarya jagad. Atau secara gampang, disebut saja Tuhan itu sebagai yang Maha Kuasa. Tetapi orang-orang atheis yang tidak mengakui keberadaan Tuhan, mengakui bahwa alam semesta ini ada dengan sendirinya tanpa Sang Pencipta.

OK, sebenarnya kaum atheis-pun perlu menyadari bahwa yang ada sekarang ini, apakah “diciptakan oleh Tuhan” atau “terjadi dengan sendirinya”, tetap berawal dari sesuatu yang “ada”. Sang Ada, inilah yang mungkin kesulitan dijelaskan oleh orang atheis, namun lebih mudah dijelaskan oleh kaum theis.

Sang Ada adalah TUHAN itu sendiri, jelas disebutkan di Kitab Suci bahwa Dia adalah “Yang Awal dan Yang Akhir”. Ketika Musa bertanya kepada Tuhan, “Siapakah Engkau Tuhan?” DijawabNya, “Ehyeh Asyer Ehyeh” (“Aku ada yang aku ada”). – yang ditulis di Kitab Suci terbitan LAI menjadi “Aku adalah aku”. (Ini jarene (katanya) Kitab Taurat lho….)

Sang Ada ini dituliskan lebih jelas dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, di Kitab Yohanes 1:1: “Pada awalnya ada Firman, dan Firman itu ada bersama Elohim, dan Firman itu adalah Elohim

Kalau bukan dicipta oleh Sang Ada, pertanyaannya adalah darimana “energi” untuk meng-ada-kan segala sesuatu yang ada ini? OK, mungkin dijawab dari proses evolusi, tapi darimana datangnya “ide” untuk evolusi ini? OKlah dengan teori Bing Bang, tapi darimana “kekuatan” (atau kehendak) awal dati proses ledakan Bing Bang?

Aku pernah berbincang dengan seorang Jawa, dan bertanya, “Apa yang menyebabkan segala sesuatu ini ada?” Beliau menjawab, “Karep” (Kehendak). Aku tanya lebih lanjut, “Karep itu apa?, Beliau menjawab, “Karep itu ada, yang (memang) ada”. Jadi “karep” (kehendak) itu adalah “Sang Ada”.

Aku merenung, kok cocok dengan apa yang aku pelajari dari Kitab Suci-ku Aku menghubung-hubungkan dengan Kitab Yohanes 1:1 bahwa “Kehendak” ini dalam Kitab Suci disebut Firman, pada awalnya ada KEHENDAK, cocok dengan pada awalnya ada FIRMAN, (Tuhan berfirman = Tuhan berkehendak)

KEHENDAK adalah Sang Ada itu, cocok dengan ‘FIRMAN itu adalah Elohim’, sebab Elohim yang dijelaskan di Kitab Taurat adalah YHWH (Yahweh) yang artinya “Dia yang Ada” (dari sisi kita/manusia) atau “Aku yang Ada” (dari sisi Dia) – ini ‘evolusi’ kata dari Ehyeh Asyer Ehyeh (Aku ada yang aku ada).

So.. tidak asal aku percaya pada YHWH (dan kepada Yeshua = YHWH Shua = YHWH Penyelamat), ini sudah dengan perenungan yang ‘mendalam’, tidak asal percaya pada “Kitab Suci” atau “Kitab yang dianggap suci”, apalagi asal percaya pada “tokoh agama” yang sok mengajarkan doktrin dan dogma “pokoknya” begini “pokoknya” begitu, kalau begini akan masuk surga, kalau begitu akan masuk neraka. Mereka sok tahu tentang surga dan neraka.

Tetapi, jangan kuatir kalau anda tidak tahu atau tidak berani menyebut YHWH (Yahweh) – karena belum belajar atau belum diajari tentang “Dia yang Ada” itu, sebab, di Kitab Yesaya 65:1 tertulis:

Aku telah diselidiki oleh orang yang tidak bertanya. Aku telah ditemukan oleh mereka yang tidak mencari Aku. Kepada bangsa yang tidak berseru kepada Nama-Ku, Aku berfirman: Lihatlah Aku! Lihatlah Aku!.

Aku percaya pada YHWH karena jelas di Kitab Yesaya 42:8 ditulis: Akulah YAHWEH, itulah Nama-Ku, dan Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain, dan pujian-Ku kepada patung

Persoalannya kemudian adalah, mengapa aku percaya pada Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan bukan kepada Kitab Suci lain, sehingga aku percaya pada YHWH. Ya.. karena ‘berita’ di Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, bagiku lebih menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pernah ada dalam pikiranku, khususnya pertanyaan tentang (konsepsi) Tuhan. Konsep bahwa Tuhan adalah “SANG ADA”, bagiku lebih “masuk akal” daripada sekedar konsep Tuhan “Sang Maha Kuasa” atau “Sang Maha Besar” yang harus disembah dengan cara ini dan itu.

Tuhan memang “Maha Besar” untuk sekedar dibatasi dengan doktrin dan dogma agama. Masalahnya adalah, ketika aku berpikir diluar doktrin dan dogma, itu seringkali menjadikanku dianggap SESAT oleh para agamawan dan agamawati. Apakah aku sedang tersesat ketika mengakui bahwa Tuhan itu SANG ADA, yang ada, mengada dan menjadikan segala sesuatu ada. Apakah aku sedang sesat ketika mengakui bahwa Tuhanku adalah YHWH (dan YESHUA), dan bukan Tuhan yang lain?

Kalau aku sesat, berarti Kitab Taurat dan Injil yang menyesatkanku. Taurat-lah yang mengajarkan Tuhan itu “SANG ADA” (YHWH) dan Injil-lah yang mengajarkan bahwa YESHUA adalah YHWH Shua, YHWH Penyelamat. Perhatikan juga Kitab Wahyu 1:4 “…dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang...”. “Dia” (yang ada) di ayat 4 ini dibedakan dengan Yesus Kristus di ayat 5.

Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

FIRMAN (kehendak = Sang Ada) itu telah menjadi manusia (YESHUA).

Tulisan ini mungkin menjawab, pertanyaan beberapa teman, mengapa Religious Views-ku di Facebook, kutulis YHWH’s. Aku (merasa menjadi) milik YHWH, milik SANG ADA, milik DIA YANG ADA.

(Ayat-ayat Kitab Suci dikutip dari Kitab Suci Indonesian Literal Translation dan Alkitab LAI-TB)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: