Mau berpikir dan berani berpikir (apakah berpikir itu dosa?)

Ketika aku berkunjung ke Ki Wagiman, bersama STR dan Bejo untuk ngobrol-ngobrol tentang kehidupan ini, ada beberapa hal yang kembali mengingatkanku. Salah satu yang masih ku catat adalah tentang berpikir. Untuk dapat belajar dengan benar, seseorang perlu: mampu berpikir, mau berpikir, berani berpikir dan tekun.

Aku tidak hendak pusing dengan kemampuan berpikir, sebab diakui atau tidak, setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda, demikian juga tentang ketekunan, tekun yang tidak selalu dalam ukuran lama waktu, tetapi juga konsentrasi, tiap orang memiliki kadar tekun yang berbeda-beda. Persoalannya adalah mau berpikir dan berani berpikir.

Pertanyaan pertama adalah apakah berpikir itu dosa? Pasti ada pendapat yang bertentangan tentang hal ini, berpikir jorok atau jahat ada yang menganggap dosa, apalagi orang-orang Kristen (laki-laki) yang sangat phobia dengan wanita cantik dan selalu ingat kata-kata Yeshua di Matius 5:28 ”Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Hm.., mengingininya saja sudah berzinah, bukankah mengingini hanya ada dalam pikiran? Berpikir saja sudah berdosa. Ya itu satu pendapat, tapi pasti ada pendapat yang lain, yang menafsir ayat tersebut tidak secara hurufiah. Ah.. aku belum berminat berpikir tentang dosa, karena kalau kita hendak berpikir tentang dosa, pertanyaan pertama adalah ”Dosa itu apa?” Mungkin akan dijawab dengan mudah, ”Dosa adalah segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan” Lha.. ”Tuhan itu apa, siapa, bagaimana?” (hm.. ini hanya contoh keberanian berpikir, bahkan ”Tuhan”pun dipertanyakan).

OK, pertama tentang kemauan berpikir. Maukah kita berpikir, ketika dihadapkan pada persoalan-persoalan yang belum kita pahami? Atau kita pasrah saja dan puas dalam keadaan tidak mengerti, puas berada dalam keadaan bingung? Aku kadang heran dengan beberapa mahasiswaku yang begitu ’santai’, tidak mau mencari dan membaca buku untuk mencari tahu, ketika tidak paham pelajaran di kelas kuliah. Santai saja ketika akhirnya di tes, tidak dapat menjawab pertanyaan, bukan karena lupa, atau kehabisan waktu, tetapi karena memang sama sekali tidak tahu maksud pertanyaan itu. Ini bukan masalah kemampuan berpikir. Seorang mahasiswa, sudah pasti punya bekal ’mampu’ berpikir (walau mungkin memang tidak semua ’sangat mampu’, tetapi jelas adalah masalah kemauan berpikir. Ternyata mau saja sulit.

Yang kedua, adalah keberanian berpikir. Setiap keberanian pasti mengandung risiko. Berani pada api, berisiko kepanasan atau terbakar. Berani pada air, berisiko basah atau tenggelam. Berani pacaran berisiko putus dan patah hati. Berani pada setan, berisiko kalah dan kerasukan setan. Berani pada Tuhan berisiko berdosa. Hm.. dosa lagi… Lantas apa risiko berani berpikir?

Risiko berani berpikir adalah dianggap kurang kerjaan dan lebih parah dianggap SESAT, karena mempertanyakan dan menguji hal-hal yang ”sudah biasanya begitu dan tidak ada masalah”. Siapa yang pernah protes pada pelajaran anak SD yang selalu mengajarkan ”ini budi”? Bukankah yang benar adalah ”ini gambar budi” (itupun kalau yang digambar di buku pelajaran kelas 1 SD itu adalah benar-benar Budi). Atau lebih tepat lagi adalah, ”menurut pengarang buku, ini adalah gambar budi”. Ini hanya contoh kecil, mungkin tidak berdampak pada kehidupan kita, walau pelajaran kelas 1 SD itu telah berhasil membuat anak-anak sekarang tidak berani berpikir (tidak kritis), karena indoktrinasi dan superioritas guru di mata muridnya.

Anak pertamaku HARUS mengisi titik-titik dengan kata ”menundukkan” dalam sebuah soal pelajaran agama: ”Jika berdoa kita harus ……….. kepala”. Padahal di dinding depan meja belajarku ada gambar Yeshua (Yesus.. kalau yang belum biasa pakai kata Yeshua – Yeshua adalah nama asli-nya) yang sedang berdoa dengan pose menengadahkan kepalaNya. Ketika ada PR dan diminta membuat kalimat dengan kata ”memasak”, anakku dengan cepat membuat kalimat ”Ibu memasak di dapur”. Dia ’marah’ ketika aku minta menjawab PR itu dengan kalimat ”Bapak tidak bisa memasak” atau ”Kamar tidur bukan tempat memasak”. Itu tidak sesuai dengan ’kebiasaan’. Apalagi ketika PR itu menghendaki dia juga membuat kalimat dengan kata-kata: ’menggoreng’ ’merebus’. Dia otomatis membuat kalimat, ”Ibu menggoreng telur” dan ”Ibu merebus air”. Dia tidak mau ketika aku minta menjawab PR itu dengan satu kalimat saja: ”Menggoreng dan merebus adalah jenis-jenis memasak”.

Keberanian berpikir seringkali menimbulkan ’perselisihan’, karena ada yang berani mengambil risiko menjadi ’aneh’ dan ada yang merasa sudah nyaman dengan keadaan yang ada. Apalagi tentang agama dan keyakinan, umat bahkan seakan ’tidak boleh’ bertanya, tafsir tokoh agama terhadap kitab (yang dianggap) suci, adalah ’kebenaran’, tak boleh dipertanyakan.

Ketika di sebuah forum diskusi Kristen aku mempertanyakan tentang UFO (unidentified flying object), seseorang yang sangat dikenal di forum itu meng-cut diskusi dengan kalimat, (kira-kira) ”Saya tidak perlu memikirkan hal-hal seperti itu, yang penting saya membaca Alkitab dan melakukan kehendak Tuhan”. Ketika aku posting tulisan tentang ”jenglot” hanya sedikit yang berkomentar. Sangat berbeda ketika yang didiskusikan adalah tentang doktrin dan dogma gereja, mereka kebanyakan sangat bersemangat.

Ketika aku lontarkan topik tentang kemungkinan Yeshua ke Tibet dengan beberapa argumentasi, aku dianggap bukan orang Kristen. Padahal bagiku ini persoalah penting dalam kekritenan, dimana dan melakukan apa saja Yeshua dalam usia 12-30 tahun, mengapa tidak diceritakan dalam Kitab Suci? Bisakah orang Kristen menjelaskannya? Beranikah orang Kristen mempertanyakan Kitab Sucinya, mengapa tidak menjelaskan tentang Yeshua diusia 12-30 tahun? (ya aku sedang merenung tentang hal ini, dan berharap suatu ketika aku dapat menuliskan hasil perenunganku dan pergumulanku).

Banyak bahkan sebagian besar orang Kristen tidak berani berpikir yang ’aneh-aneh’. Kebanyakan sudah puas dengan berdoa tiap hari, bergereja tiap minggu, ditambah sekali atau beberapa kali dalam seminggu ikut persekutuan doa atau Pemahaman Alkitab. Tapi masalahnya, seumur hidup menghadiri kebaktian minggu dan mengikuti pertemuan Pemahaman Alkitab, tapi nggak paham-paham isi Alkitab. Bahkan banyak orang Kristen yang ”nama Bapa” saja tidak tahu dan tidak peduli, padahal selalu mengucapkan doa Bapa Kami:”… dikuduskanlah nama-Mu ….”. Aku pikir, ini karena banyak orang Kristen yang tidak mau atau tidak berani berpikir. Sembilan puluh sembilan persen temanku yang aku tanya ”Siapa nama Bapa?”, menjawab, ”Allah”. Aku nggak tahu itu jawaban karena tahu, karena merasa tahu atau karena tidak tahu, sebab tidak ada satu ayatpun di Kitab Suci yang menyatakan bahwa nama Bapa adalah Allah.

Di Islam, ada berapa banyak orang yang berani mempertanyakan, ”Bagaimana akhir hidup Nabi Isa?” Sebab di Quran (An Nisaa’ 157) diceritakan bahwa yang disalib adalah orang yang diserupakan dengan Isa (kemudian memunculkan spekulasi antara lain pendapat bahwa yang disalib adalah Yudas Iskariot). Quran tidak menceritakan kemudian kemana dan melakukan apa saja, Nabi Isa setelah lolos dari penyaliban. Beranikah kita berpikir, mempertanyakan Quran, mengapa seorang Nabi yang penting kemudian tidak diketahui akhir hidupnya? Apakah kemudian Isa, tokoh yang akan disalib dan diselamatkan oleh Allah, dengan menggantinya dengan orang lain itu kemudian dilupakan orang, sehingga tidak perlu dicatat kelanjutan ceritanya.

Beranikah kita berpikir bahwa dari peristiwa ’penggantian orang’ itu dapat diartikan bahwa Nabi Isa adalah seorang penakut yang tidak berani menghadapi penyaliban, dan Allah telah bertindak tidak adil bahkan melakukan ’pembohongan publik’ (menipu orang-orang) demi menyelamatkan Nabi Isa, karena mengganti Nabi Isa dengan orang lain yang diserupakan dengannya?

Berapa banyak orang Islam yang mempertanyakan tentang babtis menurut Quran, padahal di Kitab Al-Baqarah 138, ditulis jelas tentang shibghah yang dalam terjemahan Quran berbahasa Inggris, ada yang mengartikan shibghah adalah babtism. Beberapa teman yang aku tanya, malah tidak tahu tentang shibghah ini, beberapa yang lain hanya menjawab, ”Ya.., masuk Islam adalah shibghah itu” Hm.. ya ini sudah sangat sesuai dengan keterangan dari Surat Al Baqarah 138 : Shibghah artinya celupan. Shibghah Allah: celupan Allah yang berarti iman kepada Allah yang tidak disertai dengan kemusyrikan.

Tetapi tidak perlukah pertanyaan lebih lanjut? Celupan berarti ada yang dicelupkan dan ada tempat mencelupkan, apa yang dicelupkan, dicelupkan kemana? Ajaran Kristen tentang babtis lebih jelas, babtis artinya ditenggelamkan, sehingga dibabtis adalah ditenggelamkan. Sehingga tidak perlukah dipertanyakan kembali ketika di gereja-gereja protestan, dibabtis tetapi hanya dipercik dengan sedikit air di kepala, apalagi disemprot dengan selang, ya.. artinya tidak ditenggelamkan dong…

Ya.. itu hanya contoh berani berpikir, dan bukankah dapat diduga, kalau aku makin berani berpikir, mempertanyakan hal-hal yang ”tidak perlu dipertanyakan”, aku akan mengambil risiko besar, karena akan dianggap kurang kerjaan, dianggap sesat, bahkan bisa dianggap menghina atau menghujat sesuatu. Ini memang menjadi pergumulanku hingga saat ini, apakah aku perlu berani berpikir dengan menanggung risiko, atau yang penting aman, sluman slumun slamet, walau itu berarti aku harus meredam gejolak pikiranku?

Apakah aku masih perlu berani berpikir, mempertanyakan Yeshua itu kemana dan melakukan apa saja di usia 12-30 tahun? Apakah aku masih perlu berpikir tentang UFO? Apakah aku masih harus berpikir tentang reinkarnasi, tentang setan dan jin dan hantu, tentang surga dan neraka? Apakah aku masih perlu berpikir tentang Tuhan? Tentang kesahihan (terjemahan) ayat-ayat Kitab Suci?

Aku ingat seorang temanku yang Muslim, ketika aku ajak diskusi tentang Tuhan, menyatakan, “Ilmu langit itu nggak usah dipikir, kita nggak akan mampu.” Dia menghendaki aku nurut saja sama pendeta serta doktrin dan dogma gereja, seperti halnya dia nurut saja pada pelajaran yang diperoleh dari kyai-nya.

Ya…sedang mau (hendak) berpikir saja sudah tidak boleh…cape deh…

Aku jadi ingat hakikat pendidikan menurut Ki Ageng Suryamentaram, yaitu bahwa mendidik adalah upaya yang dilakukan pendidik pada yang dididik agar yang dididik dapat berpikir benar. Berpikir benar dimulai dari memahami diri sendiri, yakni memahami bahwa diri sendiri BELUM tahu, sehingga perlu mencari tahu. Jadi, kalau yang dididik sudah MERASA tahu, atau BELUM tahu tetapi tidak perlu mencari tahu, atau sudah puas dan pasrah dengan keTIDAKTAHUannya, ya berarti tidak perlu adanya pendidikan.

Hm.. ada tiga macam orang di dunia ini,

# yang tahu bahwa dirinya tahu

# yang tahu bahwa dirinya tidak tahu

# yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu

kemudian,

# yang tahu bahwa dirinya tidak tahu dan berani berpikir untuk mencari tahu

# yang tahu bahwa dirinya tidak tahu, tapi tidak mau tahu. (tidak berani berpikir untuk mencari tahu)—inilah orang-orang yang hidup dengan KEYAKINAN dan hidup dengan pendapat: ”pokoknya begini, pokoknya begitu”. Mereka juga tidak mau tahu bahwa ada orang lain yang (bisa) BERPIKIR tidak sesuai dengan keyakinannya itu.

Hm.. hanya tulisan ringan ketika otakku masih berani berpikir dan jari-jemariku masih rela diajak bermain di tuts keyboard, sambil ’si tukang nyawang’ tahu kalau si kramadangsa ini sedang lapar (karena belum sarapan) dan sedang gelisah karena beberapa pertanyaan belum terjawab. Beberapa hal mungkin sama dengan yang pernah aku tulis sebelumnya dengan judul tulisan yang lain. 090508

One response to this post.

  1. Posted by nikko on 2011/03/05 at 3:28 am

    Lagi malas berpikir.. Jadi ngebaca ini.. Tx buat pikiran dan waktunya utk memikirkan pikiran ini.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: