Ke Telomoyo bersama Icha

Hari ini, aku memenuhi janjiku mengajak Icha ke Gunung Telomoyo.  Karena naik motor (Shogun 110, tahun 2003, dengan angka ordometer 9000-an km), dari rumah sudah aku pesan supaya tidak tidur di jalan, tapi aku juga siapkan tali tas, kalau-kalau di tertidur, maka badannya akan aku ikat ke badanku.  Ternyata pergi-pulang Icha tidak tidur, walau sejak berangkat hingga sampai rumah, kira-kira hampir 4 jam (karena banyak berhenti dan lihat-lihat pemandangan, termasuk berhenti beberapa saat di Salib Putih, melihat excavator, buldozer, dump truck bekerja membuat jalan lingkar Salatiga.

Seperti yang sudah aku duga, karena ini hari Minggu, ternyata memang banyak anak muda yang naik ke Telomoyo untuk pacaran.   Tetapi ternyata, setelah sampai di atas, ada juga beberapa keluarga yang mengajak anak kecilnya ke Telomoyo.

Bagiku Telomoyo tidak sekedar gunung, namun sebuah gunung yang cukup berarti.  Beberapa kenangan di Telomoyo, diantaranya, dulu pernah suatu ketika, jam 1 pagi, aku berangkat dari Salatiga, setelah makan sate kambing di Jl. Pemotongan, dengan GL PRO ’94  milik adikku, aku menuju Telomoyo bersama Lik Yono (sekarang ganti nama menjadi Budi), dengan rencana melihat matahari terbit ketika fajar. Jam 3 pagi, sudah tidak kuat dinginnya, dan kami putuskan untuk pulang.  Oh ya, aku juga ingat seorang teman yang mati kecelakaan ditabrak bis di perempatan Pasar Sapi, ketika hendak berangkat ke Telomoyo, di suatu pagi.

Masih dengan GL PRO milik adikku,  suatu saat, (kalau tidak salah ingat) aku pernah mengajak calon istriku untuk naik ke Telomoyo.  Yang ketiga, bersama seseorang yang “penting”, aku pernah ke Telomoyo di suatu malam.  Saat itu kami ber-8 naik KIA Sedona, berangkat dari Salatiga jam 8 malam, dan pulang jam 1 pagi.  Itu adalah perjalanan spiritual, karena dari kesaksian seorang teman, perjalanan malam itu sudah “diramalkan” kira-kira sebulan sebelumnya, dari sebuah “penglihatan” ketika beberapa teman berdoa.  Bagiku, perjalanan itu menjadi sedikit bukti bahwa gunung Telomoyo memang sebuah gunung yang penting, seperti yang (kata seorang saksi mata), pernah diungkapkan oleh Dr. Mohamad Yamin, di saat melakukan peletakan batu pertama  sebuah gedung di UKSW.

Ke”penting” an Gunung Telomoyo memang berbeda-beda. Bagi perusahaan telekomunikasi, jelas Telomoyo adalah tempat yang strategis untuk menempatkan beragai antena.  Bagi muda-mudi, Telomoyo, menjadi tempat favorit untuk berpacaran.  Bagi spiritualis, Gunung Telomoyo, bukan sekedar tanah yang tinggi.  Ah., tapi aku tidak tahu yang sebenarnya, karena menurut “penglihatan” temanku yang pendeta, Telomoyo adalah …., sedangkan menurut temanku yang paranormal, Telomoyo adalah …….  Aku tidak tahu mana yang benar, tapi yang jelas ketika aku naik ke Telomoyo, aku dapat merasakan betapa kecil diri ini yang mungkin akan dengan mudah lenyap andaikan jatuh ke salah satu jurangnya.

One response to this post.

  1. Hi, Icha.. mana photo mama dan adik kamu, saya mahu lihat. Awas jangan tinggi-tinggi nanti jatuh…Eh…tanya sama Papa kamu, kenapa tak boleh gemuk macam kamu.
    Bye,bye Icha,salam kenal dari makcik

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: