Browser baru: Google Chrome

Kemarin pagi mulai aku pakai browser Google Chrome, ya coba-coba, mau tahu gimana kinerjanya. Secara umum aku anggap sangat bagus, tampilannya simple, kecepatannya ya OK. Aku badingkan dengan Mozilla Firefox, yang sudah aku speedup dengan Fasterfox, aku test bersama-sama (selisih sedikit waktu nge-kliknya) masih lebih cepat Google Chrome dalam menampilkan halaman web.

Sedikit kelemahan yang aku rasakan, adalah jika akan membuka Favorit eh Bookmark, harus buka New Windows atau New Tab dulu, tapi ini tidak terlalu menyulitkan. Kelemahan yang lain adalah baris keterangan aksi/status di bagian bawah, kurang panjang (di Firefox sepanjang layar..) jadi ketika menampilkan alamat website, ketika mouse berada di teks/image yang ber hyperlink, untuk alamat website yang panjang, tidak semua teks terbaca. Juga jika komputer tiba-tiba mati, ketika komputer dihidupkan kembali, di Firefox ada option untuk restore session, sedang di Google Chrome, tidak ada. Tapi dari segi besar file intallernya, Goggle Chrome sangat efisien.

Kecanggihan Google Chrome yang aku rasakan antara lain ketika aku gunakan laptop untuk mengakses internet dengan koneksi berbeda, tidak perlu mengatur lagi connection setting-nya, sepertinya Goggle Chrome punya kemampuan autodetect connnection.

Terima kasih, untuk orang-orang yang bekerja demi kemajuan dunia ini.

Terus terang, membaca kata Chrome, justru aku ingat ketika suatu kai seharian aku ke Semarang mencari tempat “hard chrome” yang dapat memperbaiki as powersteering mobilku yang ‘terluka’, yang ternyata biayanya agak mahal, sekitar Rp 400.000 untuk menambal sedikit goresan yang dapat membocorkan oli.  Ya tapi itu jauh lebih murah, dibandingkan jika aku membeli as yang baru seharga hampir 2 juta rupiah.  Gara-gara ‘hard chrome’ itu aku jadi tahu, jika powersteering rusak, kadang lebih hemat jika dibelikan powersteering bekas yang utuh, daripada diperbaiki bagian-demi bagian.  Dulu aku habis sekitar 2,5 juta untuk memperbaiki power steering dan ‘kaki-kaki’ mobilku, yang ternyata jika dibelikan bekas utuh, semua itu hanya akan habis sekitar 1,5 juta rupiah.  Pengalaman memang mahal harganya….

3 responses to this post.

  1. Saya agak telat satu hari memakai browser teranyar yang sedang menarik perhatian dunia ini. Dirilis tanggal 2 September kemarin, saya baru mengunduh dan meng-install-nya sehari setelah itu. Cukup menarik sekali untuk melihat software yang masih versi beta ini sudah mampu mendukung berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia, walaupun masih terasa aneh dan konyol (bayangkan saja, ada sesuatu yang diberi nama ‘Di bawah terpal’ !!!).

    Sepintas pada visual, ini adalah browser dengan tampilan yang sangat minimalis dan menawan. Saya nyaris tidak bisa melihat tombol atau gambar apapun yang terserak di interface / antarmuka-nya yang berwarna biru langit tersebut. Sepertinya Google benar-benar serius dengan komitmen mereka untuk memberikan keunggulan dalam kecepatan dan ketepatgunaan. Saya sedikit perlu penyesuaian ketika melihat tampilan tab yang agak nyeleneh dibanding dengan browser lainnya, tapi dalam lima belas menit saya sudah jatuh cinta dengan tampilan Google Chrome.

    Sayangnya keunggulan penampilan tersebut masih belum dibarengi dengan kelengkapan fungsi yang memadai. Misalnya saja pada engine blog wordpress saya, http://hitmansystem.com/blog , tidak bisa menampilkan visual rich-text editor. Yang dimunculkan adalah box teks yang perlu di-edit secara html manual atau copy-paste dari dreamweaver atau software sejenisnya.

    Saya pikir, Chrome sangat memerlukan kekuatan komunitasnya untuk menciptakan plugins yang membuat para peselancar dunia maya menjadi kasmaran berat dengannya. Seharusnya tidak perlu waktu lama untuk mereka mulai mengembangkan plugins itu atau istilah mereka ‘gears’ tersebut, tapi saya juga tidak terlalu yakin Chrome akan mengantisipasi banyak gears karena tujuan utama mereka adalah keringanan dan kecepatan.

    Selama ini saya adalah pengguna browser Maxthon yang menurut saya pribadi sangat memuaskan dari segi keringanan, kecepatan, dan keluasan fungsi. Bergantian dengannya, saya juga masih memakai Firefox untuk keperluan mengakses situs yang kaya akan AJAX dan fungsi-fungsi skrip dinamis lainnya (seperti Facebook, Google Reader, atau Meebo) karena di Maxthon hal tersebut masih kurang terakomodasi dengan baik selain perlu loading yang lama. Kehadiran Chrome sepertinya yang serba cekatan menangani skrip sepertinya merupakan penyatuan yang sempurna dari Maxthon dan Firefox. Terbukti saya yang sekarang sudah uninstall Firefox, tertinggal Chrome sebagai default browser yang disusul oleh Maxthon sebagai alternatif yang sampai sekarang masih sulit saya tinggalkan. Perlu waktu yang lama bagi saya dahulu untuk memutuskan pindah dari Firefox ke Maxthon. Ketika saya melihat Chrome, hanya perlu waktu beberapa jam saja.

    Sekalipun demikian, Chrome sepertinya tidak begitu dianjurkan untuk mereka yang menggunakan internet dengan bandwidth terbatas karena sampai saat ini tidak bisa memblok atau menonaktifkan gambar-gambar yang biasanya menyedot resource bandwidth. Akibatnya, berselancar dengan Chrome akan menghabiskan biasa yang cukup besar. Situs-situs populer di Indonesia seperti Detik.com, Kaskus.us, HitmanSystem.com, Okezone.com, ataupun manca negara seperti MSN.com dan BoingBoing.net memiliki begitu banyak materi gambar yang akan terasa merampok peselancar yang menggunakan dengan limited bandwidth.

    Bagi saya, ada dua fitur yang paling menarik dari Chrome. Yang pertama adalah Incognito Window. Ini adalah ide mungil yang cukup cerdas; saya sangat terkejut Google mengantisipasi kebutuhan ini dengan serius, sampai-sampai dimunculkan sebagai mekanik tersendiri dalam browser mereka. Fitur kedua adalah Omnibox yang membuat segala sesuatunya lebih singkat dan lancar. Jenius!

    Google telah menyewa seorang komikus untuk mengerjakan komik pendek yang bisa dibaca di sini. Saya adalah penggemar Scott McCloud lewat karyanya Understanding Comics, jadi saya memiliki harapan yang tinggi untuk hasil kerjasamanya dengan Google ini. Sayang sekali, komik Chrome tidak berhasil memuaskan harapan tersebut, karena penyampaiannya yang masih terasa kaku, prematur dan tidak serius. Anyways, pengguna Chrome, atau malah pencinta Chrome, rasanya akan tetap menikmati karya tersebut sebagai tutorial mekanik dari masa depan sebuah browser.

    Reply

  2. Posted by wit on 2008/09/05 at 6:45 am

    Kelebihan yang lain yang saya rasakan dari Google Chrome adalah dalam mengingat password, saya punya beberapa account di gmail dan di wordpress, oleh Google Chrome, tiap-tiap account diingat passwordnya satu-per satu, ini tidak dilakukan oleh Firefox

    Reply

  3. Posted by wit on 2008/09/09 at 9:36 am

    kelemahan Google Chrome yang aku temukan adalah jika untuk mengedit halaman wordpress, kadang-kadang tulisan yang sudah rapi malah jadi berantakan hanya menjadi satu paragraf. Pertama aku tidak menyangka ini karena GC-nya, tetapi ketika aku coba buka halaman editor yang sama pakai MF, tidak ada masalah.. O… berarti GC-nya yang bermasalah…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: