Kreativitas Redaksi …

Bagiku kreativitas seseorang dapat dilihat dari kemampuannya atau kemauannya mengerjakan sesuatu yang tidak dikerjakan oleh orang lain. Akupun sangat menghargai kreativitas orang lain, yang tentunya kreativitasnya itu dimaksudkan untuk tujuan tertentu, bisa untuk “kepuasan diri”, bisa untuk kebaikan bersama, bisa untuk menimbulkan sensasi dan lain-lain.

Kali ini, kreativitasku mengirimkan foto “aneh” ke Majalah Liberty, (aku memang sering sewa majalah antara lain Liberty untuk aku baca di waktu-waktu senggang, untuk menambah wawasanku tentang dunia gaib, dunia paranormal, sebagai pembanding dengan konsepsiku tentang Tuhan dan setan yang selama ini aku pelajari), ditambah kreativitas Redaksi Liberty, menyebabkan aku bingung ketika seorang teman kantor bertanya, “Mas Wit, itu foto yang dikirim ke Liberty kok bisa seperti semar itu bagaimana?” “Hah… semarrrr???, seingatku aku tidak menulis tentang semar, ketika aku mengirim foto itu,” jawabku. Karena penasaran, aku pinjam Majalah Liberty yang ditunjukkan temanku.

Hah.. aku agak tertegun ketika melihat foto kirimanku beberapa waktu yang lalu dipasang di halaman belakang Majalah Liberti, seperti ini:

Wah…, ternyata foto dan namaku terpampang sangat jelas… nggak apa-apa sih.. tapi ya cuma gimana gitu…. aku pikir redaksi minta foto untuk meyakinkan bahwa pengirimnya nggak main-main..eh ternyata untuk dipasang…, tahu gitu aku beri bikan pas foto seperti itu…

Padahal, “redaksional” yang aku kirim ke Liberty via email pada 31 Maret 2008 yang lalu, adalah seperti ini:

Yth. Liberty,

Saya adalah pembaca Liberty, dengan ini mengirimkan sebuah foto yang saya pikir “aneh”
foto itu diambil tanggal 29 Maret 2008, pukul 20.05 (bisa dilihat di “properties”-nya)

itu adalah foto anak kedua saya (usia 1 tahun), yang sedang saya pangku, dan foto diambil oleh kakaknya yang berusia 5 tahun, ketika menghadiri “selamatan” kematian seseorang (orang meninggal pagi hari, kami datang malam hari)

saya anggap aneh, karena foto-foto lainnya saat itu, (yang semua diambil oleh anak 1 saya yang usianya 5 tahun) normal.

terima kasih

Untung emailku masih tersimpan di sent item, jadi bisa dibuktikan bahwa tulisan di Majalah Liberty itu adalah kreativitas Redaksi Liberty sendiri, bukan semata-mata tulisanku.

Tapi ya gimana lagi, sudah terlanjur begitu. E e… ndilalah-e, sekitar 2 minggu sebelum Majalah Liberty itu terbit, aku beli sticker gambar semar di trotoar jalan Jendral Sudirman, Salatiga, dan sudah aku pasang di kaca belakang mobil. Wah… jangan-jangan nanti ada teman mengira aku pasang gambar semar karena diilhami oleh penampakan “semar” (menurut Liberty) itu.. ha ha ha…., biar saja orang mengira begitu…

Padahal, aku memang suka dengan keunikan tokoh semar, sebab semar adalah dewata yang menyamar sebagai rakyat jelata. Kalau diperhatikan di dalam cerita wayang, para punakawan sangat hormat pada para ksatria (ditunjukkan dengan bahasa “krama inggil” yang dipakai), para ksatria sangat hormat pada para dewata, dan para dewata sangat hormat pada seorang anggota punakawan yaitu Semar. Aku dapat dan boleh saja mengintepretasi Semar seperti halnya Yesus yang adalah Tuhan namun mau merendahkan diri menjadi manusia.

Aku nggak kaget dengan kreativitas Redaksi Liberty seperti itu, sebab aku juga pernah mengirim tulisan ke sebuah surat kabar sebanyak 4 halaman, setelah dimuat hanya jadi 1 halaman saja, diedit dan diringkas oleh Redaksinya. Kadang aku kirim Surat Pembaca ke surat kabar, yang dimuat di koran, kadang juga berbeda dengan tulisan “asli”ku, sehingga aku pernah “dibodoh-bodohi” oleh seorang pembaca Surat Pembaca yang aku tulis, aku bengong, tidak tahu maksudnya, e.e.e…. ternyata setelah aku baca sendiri Surat Pembacaku, ternyata memang ada beberapa kata yang hilang, yang menyebabkan makna kalimat itu menjadi tampak “bodoh”.

Ya.., tapi ya wis piye…, tidak perlu disesali adanya peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan karena salah paham akibat tulisan yang terlalu banyak atau kurang lengkap, tidak seperti aslinya. Akupun nggak tahu apakah “klarifikasi” dalam tulisan ini juga dipahami secara benar oleh pembaca? Entahlah…

Seseorang komentar kepadaku, “Mas…, kok ya ngirim ke Liberty segala, apa ya nggak konflik sama ‘perjuangan’ Mas untuk menyampaikan berita tentang Tuhan?” He he… aku memang sering memberitakan tentang Tuhan, tapi apa ya nggak boleh jika aku juga memperhatikan hal-hal tentang “gaib”, “paranormal”, “setan”. Dan salah satu hal yang sering aku sampaikan ke teman-temanku adalah bahwa “kita itu perlu dikenal di dunia gaib, supaya mereka yang ada dialam gaib itu tidak mengganggu kita, karena mereka sudah tahu bahwa kita itu adalah milik Tuhan”. Dan bahwa aku adalah “pengikut Tuhan” itu juga yang aku sampaikan kepada teman-temanku yang “paranormal”, yang “dukun”, dan mereka tahu bahwa aku tidak mengikuti “cara” mereka.

2 responses to this post.

  1. Posted by STR on 2008/08/16 at 2:56 pm

    Wah, Mas Wit saiki terkenal tenan ….😀

    Reply

  2. @STR
    he he… aku pikir, suruh kirim foto diri itu untuk menunjukkan “niat” dan “orisinalitas” foto kirimannya ternyata malah dipasang seperti itu…,

    tapi ya wis gak pa-pa, prinsip dari kawruh jiwa yang aku pelajari, “aku gelem, saiki, kaya ngene, neng kene”, wis gak perlu dipikir begini-begitu…, dijalani saja….

    Besok kalau dapat foto “aneh” akan aku kirim lagi.. gitu aja kok repot… (wong ngirimnya ya cuma di-attach via email, nggak repot kok…)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: