Membuang ayam di sungai

Kemarin aku pergi ke Semarang, bersama-sama rombongan saudara yang akan diunduh mantu di keluarga besan.  Dan aku tahu ada rencana membuang sepasang ayam di Sungai Tuntang.  Dan benar, semua mobil rombongan berhenti di dekat jembatan Kali Tuntang, beberapa orang keluar dari mobil dan melepaskan sepasang ayam yang sudah disiapkan untuk dibuang.

Eh.. ternyata, ketika mobil pertama (ayam ada dimobil ini) dari rombongan berhenti, kemudian didepannya berhenti sebuah angkutan pedesaan, dan sopirnya keluar menunggu pelepasan ayam, dan ketika ayam dilepas, dengan sigap sopir angkudes tadi menangkap ayam yang baru saja dilepaskan.  Ya… jadi nggak seru ‘pembuangan’ ayam tadi. Nampaknya sudah biasa terjadi pembuangan sepasang ayam di kali Tuntang itu, buktinya, ketika ada rombongan mobil pengantin (semua mobil rombongan diberi pita), yang berhenti di dekat jembatan kali Tuntang, sudah ada orang yang tahu bahwa akan membuang ayam.

Aku tidak mempersoalkan seru-tidak seru-nya pembuangan ayam tersebut, tetapi mengapa harus/perlu membuang ayam di kali Tuntang?  Setahuku, itu akibat mitos dan gugon tuhon, untuk membuang sial jika rombongan pengantin “mbesan” melintasi sungai.  Aku ngerti hal ini pertama kali ketika belajar mengenai okultisme dan penyembahan berhala pada Pak Sis.  Ya.. disana dibicarakan mengenai mitos-mitos yang masih dipegang oleh masyarakat hingga sekarang.

Aku bukan orang yang menentang adanya mitos dan gugon tuhon apapun, atau menentang orang yang masih melakukan sesuatu karena mitos-mitos dan gugon tuhon, tetapi aku orang yang berpikir rasional dan jika aku sedang tidak rasional adalah karena imanku pada Tuhan yang aku percayai.  Bagiku, kekuasaan Tuhan lebih besar daripada semua kuasa yang didatangkan oleh mitos-mitos dan gugon tuhon apapun. Aku kadang mempelajari, mengapa mitos-mitos tertentu muncul, aku juga mempelajari isi beberapa primbon Jawa, dan kini aku dapat mengambil kesimpulan bahwa pada semua tindakan simbolis lebih baik tidak aku ikuti, kecuali yang bermakna spiritual, pun makna spiritual bagiku adalah yang ada hubungan dengan Tuhan yang aku percayai, bukan hubungan dengan tuhan-tuhan lain.   Pengenalanku kepada Tuhan, lebih berarti dari pada mitos/gugon tuhon dan semua rumusan dari primbon yang pernah aku pelajari.

Apalagi kalau mitos-mitos itu dikaitkan dengan orang yang sudah mati atau kekuasaan setan/jin/gendruwo/danyang.  Hi hi .. Aku sama sekali tidak takut sama orang mati, tidak takut sama setan/jin/gendruwo atau jenis apapun.  Bukannya aku tidak mengakui keberadaan setan dan dunia gaib, justru aku mengakuinya, dan aku lebih senang dikenal di dunia gaib sebagai orang yang hanya takut pada Tuhan yang aku percaya, bukan orang yang mau tunduk pada kemauan mereka para penguasa gaib itu, apalagi yang hanya melalui mitos-mitos dan gugon tuhon yang berkembang di masyarakat.

Bagaimana jika setan dan penguasa alam gaib marah dan membawa petaka, karena tidak dihormati?  Ha ha… setan juga harus menghormatiku sebagai manusia milik Tuhan, aku bukan “warga negara” gaib milik setan yang mau tunduk pada kekuasaannya.  (aku tahu kalau kadang penguasa di alam gaib marah dan membawa petaka pada manusia, dari cerita seorang rekan yang ‘luar biasa’ yang bisa berkomunikasi dengan jin, (bahkan kadang dia mampu menyuruh jin melakukan pekerjaan-pekerjaan yang mustahil dikerjakan oleh manusia normal). kadang jin juga tega membunuh manusia yang tidak menghormatinya)

Masih banyak mitos lain, selain membuang ayam di sungai, misalnya jika menabrak kucing, kucing itu harus dikuburkan baik-baik, jika melewati daerah angker harus bunyikan klakson, jika ke laut selatan jangan pakai pakaian warna hijau, jika bikin rumah pasang bendera, tanam uang di rumah, masukkan jarum dan ubarampe lainnya di ari-ari bayi yang ditanam di samping pintu, olesi kapur pada anak kecil yang diajak melayat, ambil bunga pengantin untuk anak kecil biar tidak kena sawan, tidak membawa anak kecil keluar rumah pada waktu maghrib, dan lain-lain masih banyak sekali mitos-mitos dan gugon tuhon yang melekat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.  Aku hanya mau melakukan sesuatu yang alasannya dapat “masuk akal” bagiku. Yang tidak masuk akal? No way…

2 responses to this post.

  1. kayaknya saya udah pernah ikutan acara ini deh mas,…..

    salam kenal…

    Reply

  2. Posted by wit on 2008/07/21 at 3:16 pm

    salam kenal juga…
    sebenarnya lebih baik mbuang “kucing rembes” dari pada membuang ayam sehat…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: