Mengapa selalu keras?

Beberapa minggu terakhir ini adalah musim kawin eh… musim hajatan. Banyak teman yang melangsungkan pernikahan pada beberapa minggu terakhir ini. Ya.. katanya bulan baik, hari baik.. heh… itu katanya primbon…, dulu aku sok ditanya teman, tanya hari “ini” baik atau tidak untuk menikah.. ha ha.. aku sih memang “masih” bisa menghitung-hitung hari baik, mau bulan baik, minggu (wuku) baik, mau jam (wayah) baik, ya masih bisa asal buka catatan lagi…., tapi sekarang aku tidak terlalu tertarik pada “ilmu” itu. Dulu memang pernah sedikit mempelajari hitung-hitungan samparwangke, taliwangke, naga dina, naga sasi, dan sebagainya, tapi sekarang belum berminat lagi, nggak tahu besok kalau memang diperlukan lagi.

Sekarang, kalau ada yang bisa ngajari, aku mau belajar tentang “petak bumi”, ya.. itu seperti fengshui ala jawa gitu lah… Lha tapi belum ada yang dapat aku temui untuk memberikan “kursus gratis” ya nggak tahu kapan aku tahu hitung-hitungan petak bumi itu… Kalau sedikit-sedikit, bikin pintu pagar seharusnya dimana, bikin sumur seharusnya dimana, di prombon jawa juga sudah ada, tapi kalau lebih rinci hitung-hitungan panjang usuk, reng, blandar, dan sebagainya wah… gak ngerti blas…

He.. malah nglantur… maksudku, setiap kali menghadiri perta pernikahan, kenapa sound system diset sangat keras, sehingga ketika ngomong-omong dengan rekan yang sama-sama datang menghadiri pesta itu, harus dengan ‘suara ekstra’ agar tidak kalah dengan suara musik dan nyanyian yang dilantunkan. Sangat jarang ada pesta pernikahan yang sound systemnya diset pelan-pelan, sehingga para tamu dengan bebas tanpa kesulitan bercanda, ngomong-omong, dengan teman-teman yang sama-sama hadir, yang mungkin sudah lama tidak bertamu.

Jadinya pesta pernikahan bukan ajang untuk ketemu teman lama dan ngomong-omong dengan santai, tetapi cuma tempat makan yang bertarif relatif mahal + suguhan suara keras sound system yang memekakkan telinga. Ya tapi nggak semua yang hadir ke pesta pernikahan menyumbang “mahal”, ada juga yang “murah”. Aku tahu masih ada orang yang datang ke pesta pernikahan dengan memasukkan amplop berisi beberapa lembar ribuan rupiah saja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: