“Ucapan” terima kasih

Kemarin, aku menerima sesuatu dari mahasiswa yang sekarang sudah lulus, sebagai “ucapan” terima kasih karena telah aku “bimbing” selama pembuatan skripsi. Aku terima dengan senang hati (masa sedih sih..), karena aku memang sangat jarang menolak pemberian orang lain. Apalagi diberi “ucapan terima kasih”, lha wong diberi caci maki, umpatan, dan kata-kata sumpah serapah, karena beda pendapat dengan aku pun aku terima kok

Tetapi…

Sering aku sampaikan ke para mahasiswa di awal kuliah, bahwa aku tidak menolak pemberian apapun dari mahasiswa (apalagi mahasiswi he he he…), tetapi, aku tidak mengharapkannya, dan segala pemberian itu tidak akan mempengaruhi nilai. Bagiku, membantu mahasiswa, membimbing adalah kewajiban yang melekat dari pekerjaanku saat ini, dan aku sudah digaji untuk melakukan itu semua.

Ya.. pernah ada mahasiswi cantik (serius.. cantik beneran…) yang ‘jengkel’ sama aku, gara-gara kiriman parcel natal yang aku terima, tetap menghasilkan nilai “D” buat dia. Aku juga ingat, dulu ada mahasiswa yang datang ke kantor “minta tolong” agar lulus mata kuliah dengan menyodorkan ‘amplop tebal’ kepadaku. Waktu itu aku kaget ‘setengah mati’ kok berani-beraninya mahasiswa ‘menyuap’ dengan uang ‘sebanyak’ itu (maksudku ‘sedikit’, kalau benar-benar banyak, mungkin aku pertimbangkan… setelah itu keluar dari kampus he he he…. ya.. misalnya disuap Rp 1 milyard, untuk sebuah nilai A dari satu matakuliah, ha ha ha.. dengan senang hati, malah aku beri A ++++ (ayo siapa mau coba …). Tapi kalau cuma ratusan ribu, jutaan, puluhan juta…, hah… harga diri lebih berarti dari puluhan juta rupiah. (itu yang diajarkan oleh orang tuaku…– dan aku bangga dengan ‘integritas’ mereka — )

Eh.. yang membuat aku ‘gemes’, mahasiswa tadi bilang, “katanya mas wit bisa menerima seperti ini”. Hah.. aku tanya “katanya SIAPA?”. Mahasiswa tadi nggak bisa jawab. Selanjutnya aku berharap mahasiswa tadi di-skors, karena telah melakukan “perbuatan tidak menyenangkan”, tetapi itu tergantung keputusan fakultas, yang pasti dia dapat “E” untuk matakuliah yang dia harapkan dapat nilai “lulus” dariku.

Ya.. karena aku begini, maka ketika aku mengurus partai politik, dan berhubungan dengan KPU Kota Salatiga, aku juga nggak akan memberi “ucapan terima kasih” seandainya partai-ku lolos menjadi peserta pemilihan umum. Bukankah memang sudah tugas dari para pegawai KPU untuk memverifikasi partai politik?! Sekalipun aku dengar saran dari teman-teman yang pernah mengurus partai baru di tahun 2004 yang lalu, supaya “mengucapkan terima kasih” kepada petugas KPU agar partai ini lolos. Ha ha… daripada partai-ku lolos karena “mengucapkan terima kasih” aku pilih lolos tanpa itu. Ha ha ha… kelihatannya lolos kok…(kalau tidak lolos ya..nasib… sudah aku dan teman-teman usahakan sebaik mungkin kok…)

Aku hanya berharap, semoga ‘niat baik’ ku tetap terjaga hingga akhir nanti, supaya jika hidup ini berakhir, tidak banyak catatan ‘hitam’ yang tertoreh di pusara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: