<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>petrus wijayanto&#039;s notes</title>
	<atom:link href="http://pewijayanto.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pewijayanto.wordpress.com</link>
	<description>ketika jari-jemari rindu menyentuh keyboard laptop</description>
	<lastBuildDate>Fri, 20 Jan 2012 02:35:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pewijayanto.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>petrus wijayanto&#039;s notes</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pewijayanto.wordpress.com/osd.xml" title="petrus wijayanto&#039;s notes" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pewijayanto.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Siapakah jodohku?</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/278/</link>
		<comments>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/278/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 15:03:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.wijayanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewijayanto.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.  Cinta adalah kecocokan jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad. (Kahlil Gibran) Sekitar 18 tahun yang lalu, ketika itu aku (masih) aktif di kegiatan pemuda/remaja gereja, aku punya kesempatan bagus untuk berteman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=278&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.  Cinta adalah kecocokan jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad. (Kahlil Gibran)</strong></p>
<p><span id="more-278"></span></p>
<p>Sekitar 18 tahun yang lalu, ketika itu aku (masih) aktif di kegiatan pemuda/remaja gereja, aku punya kesempatan bagus untuk berteman dengan banyak pemuda dan pemudi dari beberapa gereja. Di antara beberapa pemudi yang aku kenal, tentu saja ada yang membuat &#8216;<strong>dophamine</strong>&#8216; di otakku bekerja, dan aku melihat ada kesempatan untuk bisa &#8216;dekat&#8217; dengan beberapa pemudi dari gereja-gereja yang berbeda.  Suatu kali aku bersama beberapa teman, berdiskusi suatu hal dengan seorang pendeta (entah siapa pendeta itu, sekarang-pun aku sudah lupa).  Dalam diskusi itu, aku sempat bertanya, &#8220;Bagaimana menurut Bapak, seandainya saya memiliki beberapa orang pacar, mereka tidak saling tahu, dan dari antara beberapa pacar itu, nanti saya memutuskan untuk memilih salah satu untuk menjadi istri?&#8221;. Pendeta itu menjawab singkat, &#8220;<strong>Kamu dilahirkan bukan untuk itu</strong>.&#8221;  Kemudian beliau menceritakan bagaimana kisah perjumpaannya dengan istrinya. Diawali dengan mimpi/penglihatan, dan kemudian mereka menikah.  Jawaban Pendeta itu, membuat aku mengambil keputusan &#8220;tidak&#8221; bagi &#8216;cita-cita&#8217;ku memiliki beberapa pacar sekaligus.  Dan ditahun-tahun selanjutnya, aku memang tidak berpacaran dengan siapapun, kecuali sekali dengan perempuan yang sekarang menjadi istriku.  Memang di masa itu, aku punya beberapa teman dekat, bahkan ada yang sangat dekat, namun tak pernah berstatus &#8220;pacaran&#8221;.</p>
<p>Setiap orang memiliki kisah &#8216;cinta&#8217; masing-masing, tidak ada rumus &#8220;mencari jodoh&#8221; yang paling efektif. Ada orang yang &#8216;enteng jodoh&#8217;, ada yang sulit mencari pasangan hidup, bahkan ada yang seumur hidup tidak berjodoh dengan siapapun. Ada yang punya jodoh lebih dari satu, berpasangan dengan beberapa orang, atau berganti pasangan.  Hm.. setiap pasangan dianggap &#8220;jodoh&#8221;, dan kalau ada ketidakcocokan di kemudian hari, dianggap &#8220;tidak berjodoh&#8221;.  Sebenarnya perlu jelas dulu, ini tentang jodoh (Jawa=<em>jodho</em>) atau tentang suami/istri (Jawa=<em>Bojo</em>).  Bojo (suami/istri), tidak harus berjodoh, ada banyak sebab seseorang kemudian menjadi suami-istri.  Ada yang sukarela, ada yang dipaksa, ada yang terpaksa.  Pasangan suami-istri, yang kemudian bercerai, membuktikan bahwa mereka sebenarnya tidak berjodoh (atau hanya berjodoh sementara?), sebab, kalau memang berjodoh, tak ada alasan untuk bercerai, namanya sudah jodoh, pasti &#8220;klop&#8221;.  Orang Jawa memiliki istilah &#8220;garwa&#8221; untuk suami/istri yang memang berjodoh.  Garwa itu ber-jarwadhosok &#8220;<em>siGARaning jiWA</em>&#8221; (belahan jiwa) atau ada yang menyebut &#8220;<em>sigaraning nyawa</em>&#8221; (belahan nyawa).  Di sini, aku menulis tentang jodoh (garwa), bukan sekedar suami/istri</p>
<p>Orang-orang yang percaya adanya Tuhan, banyak yang yakin bahwa LAHIR, JODOH dan MATI itu di tangan Tuhan.  Kata-kata singkat &#8220;jodoh di tangan Tuhan&#8221; menjadi kata penghiburan untuk &#8216;menyerah&#8217; kepada &#8216;nasib&#8217;,  hendak berjodoh pada siapa.  Seperti halnya kelahiran dan kematian, tergantung nasib.  Kita tidak bisa meminta lahir dimana, dalam kondisi bagaimana, tahu-tahu sudah lahir, kita juga tidak bisa menentukan akan mati kapan dan dengan cara bagaimana.  Benarkah? Pada banyak kasus, benar, tetapi selalu ada pengecualian.  Orang bunuh diri, itu menentukan sendiri jalan kematiannya. Bayi yang dipaksa dilahirkan tanggal 11-11-2011, padahal sebenarnya belum akan lahir, menjadi lahir karena dipaksa oleh orang tuanya. Apakah pemaksaan itu kehendak Tuhan, aku yakin &#8220;tidak&#8221;.  Tuhan memberi kebebasan (<strong>free will</strong>), bagi manusia untuk menentukan beberapa jalan hidupnya.  Hidup adalah tentang PILIHAN dan KONSEKUENSI.</p>
<p>Demikian juga tentang jodoh, kita punya kebebasan untuk memilih satu orang dari sekian banyak orang yang kita temui, untuk menjadi &#8220;calon jodoh&#8221; kita.  Kebebasan itu termasuk kebebasan kita untuk menyerahkan pilihan itu kepada Tuhan, jika kita yakin bahwa Tuhan akan memilihkan seseorang untuk kita.  Tetapi, beranikah kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan, dan membiarkan Tuhan berkehendak atas diri kita; membiarkan tangan Tuhan memilihkan seseorang untuk menjadi jodoh (garwa) kita?  Bukan hal yang mudah, menyerahkan semuanya kepada Tuhan.  Perlu kerelaan untuk mematikan keinginan/hasrat untuk &#8220;jatuh cinta&#8221; pada orang-orang yang tampak menarik, perlu kepekaan yang tinggi untuk mendengar suara Tuhan, ketika Tuhan sebenarnya sedang menunjukkan seseorang itulah jodoh kita.  Bukan mustahil, tetapi bukan hal yang mudah.  Paling gampang adalah ketika kita menemukan seseorang yang menarik hati, kemudian kita KLAIM bahwa itulah jodoh yang diberikan/dikehendaki Tuhan. (dan ketika kemudian terjadi perpisahan, apakah Tuhan sedang &#8220;<em>mencla-mencle</em>&#8221; (tidak konsisten) dengan kehendakNya? &#8212; aku ingat seorang teman di persekutuan mahasiswa, yang suatu kali bersaksi bahwa pacarnya adalah &#8220;jodoh pilihan Tuhan&#8221;, dan ketika kemudian mereka putus pacaran, aku bertanya ke dia, &#8220;Apakah Tuhan merubah pilihanNya?&#8221;.  Teman ini-pun tersenyum kecut.)</p>
<p>Tidak perlu terlalu berani meng-KLAIM &#8220;ini dari Tuhan&#8221;, kalau kita TIDAK TAHU, bahwa seseorang itu memang diberikan Tuhan untuk kita.  Bisa jadi, dan paling banyak terjadi, jatuh cinta pada seseorang hanyalah &#8220;ulah&#8221; dari <strong>dophamine </strong>di otak kita.  Dophamin adalah sebuah &#8220;neurotransmiter&#8221; di otak manusia yang memicu rasa nikmat.  Jika dophamine di otak kita bekerja, kita akan mampu membayangkan kenikmatan-kenikmatan.  Oleh karena itu, orang yang &#8220;jatuh cinta&#8221;, sangat mudah membayangkan ini-itu, begini-begitu, membayangkan hal-hal yang indah.  Jika dophamine terlalu banyak, orang akan berhalusinasi.  (aku bukan ahli otak, juga bukan ahli syaraf, tentang dophamine ini hanya dari katanya&#8230;, hehehe)</p>
<p>Berkaitan dengan <strong><em>free will</em></strong>, kebebasan kita untuk &#8220;menentukan&#8221; jalan hidup kita, kita bisa saja MEMINTA Tuhan memberikan kepada kita jodoh yang sesuai dengan persyaratan yang kita inginkan.  Kita boleh ingin ini-itu, dan membawa keinginan itu  kepada Tuhan, melalui doa.  Dulu aku  menyampaikan keinginan , &#8220;Tuhan, aku ingin menemukan jodoh tidak di tempat wisata, atau di perjalanan, aku ingin menemukannya di gereja atau di tempat kerja.&#8221; (Nampaknya doa itu dijawab Tuhan,  aku &#8216;menemukan&#8217; istri di gereja).  Pun aku punya kriteria-kriteria tertentu untuk calon jodohku.  Satu kriteria yang mudah adalah &#8220;tidak memalukan jika diajak jalan-jalan, dan tidak mengkuatirkan jika ditinggal di rumah&#8221;.  Kriteria-kriteria yang lain, tidak perlu aku sebutkan di sini, yang jelas aku sudah lama mempelajari tentang &#8220;<em>katuranggan wanita</em>&#8220;, sehingga aku tahu, bagaimana ciri-ciri wanita yang baik.  [ Katuranggan berasal dari kata <em>turangga</em>, artinya kuda. Katuranggan adalah "ilmu" untuk mengenali ciri-ciri fisik kuda yang bagus.  Katuranggan wanita, kemudian dipakai sebagai istilah untuk menyebut "ilmu" untuk mengenali sifat-sifat seorang wanita dari ciri-ciri fisiknya. Dari ciri-ciri fisiknya, kita bisa menilai/menduga bahwa seorang wanita itu lembut atau keras kepala,  egois atau tidak,  akan memberikan anak-anak yang 'cakep' atau tidak, mendatangkan rejeki atau tidak, dan lain-lain.  Oh ya, juga yang cukup penting bagi pria, nikmat diajak bercinta atau tidak, <em>hihihi</em>...]</p>
<p>Jadi, menurutku, urusan jodoh, tidak semata-mata &#8220;berserah kepada Tuhan&#8221;.  Jika kita memang orang yang  diperhatikan Tuhan, bisa saja Tuhan yang memang mengurusnya.  Tetapi ingat, kita itu hanya seorang manusia, diantara sekian milyar manusia di bumi.  Bumi hanyalah sebuah planet kecil diantara sekian planet di tatasurya &#8220;matahari&#8221;.  Tatasurya &#8216;matahari&#8217; ini, hanya satu di tepian galaksi Bima Sakti (Milky Way), di antara jutaan tata surya yang ada.  Bima Sakti hanyalah satu galaksi diantara milyaran galaksi.  Urusan Tuhan sangat kompleks, tidak hanya mengurus &#8220;jodoh&#8221; seorang &#8220;virus&#8221; di bumi.  Bukan mengecilkan kuasa Tuhan, karena Dia maha kuasa, tetapi perlu upaya ekstra, jika kita ingin diperhatikan oleh Tuhan, termasuk urusan jodoh ini.</p>
<p>Coba bayangkan, <strong>Ester </strong>adalah seorang gadis cantik, (Ester temanku, memang cantik,  entah gadis atau sudah bukan&#8230;, hehehe) ada banyak pemuda yang naksir dia. Semua pemuda yang naksir dia, berdoa kepada Tuhan, meminta kepadaNYA untuk memberikan Ester itu menjadi jodohnya, &#8220;Doa pemuda yang mana yang dijawab Tuhan?&#8221; Seandainya para pemuda itu tidak ada berdoa, apakah tidak akan ada yang menjadi suami Ester?.  Atau, misalnya ada seorang pemuda yang naksir Ester, berdoa kepada Tuhan agar Ester bisa &#8220;makin dekat&#8221;, tetapi Ester pada dasarnya tidak suka kepada pemuda itu, dan Ester berdoa agar pemuda itu &#8220;makin jauh&#8221;, doa siapa yang akan dijawab Tuhan, doa pemuda itu atau doa Ester? [tapi aku akan berdoa, supaya Ester menemukan jodohnya, dan jodohnya pasti bukan aku, karena aku sudah berjodoh dengan istriku, jauh sebelum aku kenal Ester.]</p>
<p>Kalau memang mau mendapat &#8220;jodoh dari Tuhan&#8221;, ingat kata-kata &#8220;jodoh di tangan Tuhan&#8221;, jadi temukan dulu Tuhan, temukan tanganNya di mana, dan temukan jodoh di tanganNya.  Konon, Yeshua pernah berkata,<em> &#8221;Tetapi carilah dahulu Kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. &#8211; Matius  6:33 </em>-.  Jika Yeshua &#8220;tidak membual&#8221;, maka jika kita sudah menemukan &#8220;Kerajaan Tuhan&#8221;, urusan jodoh itu bukan persoalan, karena pasti &#8220;akan ditambahkannya&#8221;.  Aku punya banyak teman yang tidak kesulitan cari jodoh, bahkan ada yang tidak mencari-pun, menemukan.</p>
<p>Aku sendiri, mungkin bukan yang termasuk mencari-cari, tetapi &#8220;tiba-tiba&#8221; menemukan.  Waktu itu aku habis jalan-jalan di malam tahun baru (ke  Solo, Tawangmangu, Candi Sukuh, Astana Giribangun, dan kemudian mandi/berenang di Pemandian Pengging &#8211; Boyolali), dengan seorang teman. Karena mengendarai mobil dari hampir jam 11 malam sampai siang hari berikutnya, aku sangat ngantuk, aku ajak temanku untuk mampir di gereja di Salatiga, istirahat, sekalian melihat acara tahun baru anak-anak Sekolah Minggu.  Aku melihat &#8220;dia&#8221; sedang berada di depan ruangan dihadapan anak-anak, dari belakang ruangan beberapa meter dari &#8220;dia&#8221; berdiri. Aku berbisik ke temanku, &#8220;aku naksir dia&#8221;.  Saat itu aku sama sekali belum mengenalnya, bahkan nama lengkapnya-pun aku belum tahu. Aku berdoa kepada Tuhan, &#8220;Jika Tuhan menghendakiku berjodoh dengannya, tolong berikan jalan untuk mengenalnya, dan bisa dekat dengannya&#8221;.  Singkat cerita, kami kenal, pacaran, tunangan, kemudian menikah dan kemudian punya anak-anak.</p>
<p>Tentang mengapa aku &#8220;tiba-tiba&#8221; naksir dia, itu tidak bisa dijelaskan secara singkat.  Saat itu aku punya banyak teman perempuan, beberapa diantara teman juga cantik, tetapi tidak ada yang benar-benar membuat &#8220;jatuh cinta&#8221;. Memang, beberapa bulan sebelum &#8216;perjumpaan itu&#8217;,  aku pernah tertarik pada seorang teman yang cantik, tetapi setelah beberapa kali  aku dolan ke rumahnya, ada satu hal yang membuatku mundur dari perjuangan &#8220;<em>to win her heart</em>&#8220;, rasanya tidak cocok lah&#8230; , sekalipun ketika aku tanya, &#8220;Apakah ada kesempatan buatku?&#8221;, dia jawab, &#8220;Ada tetapi kecil&#8221;.</p>
<p>Selain belajar tentang katuranggan wanita, aku juga baca buku-buku tentang cinta, tentang pacaran, tentang pria dan wanita, tentang &#8220;mars and venus&#8221;.  Dari yang aku baca (pelajari), aku bisa &#8216;agak tenang&#8217; ketika &#8216;jatuh cinta&#8217;, walau waktu itu aku belum tahu tentang kerja dophamine di otak.  Dan yang aku sarankan ke beberapa temanku adalah &#8220;baca buku&#8221;, bahkan ada bukuku yang aku berikan ke teman, ketika teman itu sedang &#8216;jatuh cinta&#8217;. Sudah banyak orang yang berpengalaman jatuh cinta, dan kita bisa belajar darinya, bagaimana mengelola &#8216;rasa&#8217; dan &#8216;sikap&#8217; ketika cinta itu  hadir di hati.   Prinsipnya, manusia bukan hanya terombang-ambing oleh NALURI, namun perlu pakai otak untuk mengendalikan  diri.  Manusia bukan binatang yang hanya mengandalkan insting untuk  bercinta.</p>
<p><strong>Dinamika &#8216;jatuh cinta&#8217;: sexual intercourse sebelum nikah</strong>.</p>
<p>Secara naluri, pria akan memberikan &#8216;cinta&#8217; untuk mendapatkan seks dan perempuan akan memberikan seks untuk mendapatkan cinta.  Kalau hanya menuruti naluri,  cinta dan seks akan jadi paket komplit dalam relasi pria-wanita.  Beberapa perempuan (belum menikah) yang aku kenal, secara jujur mengatakan bahwa sudah tidak gadis lagi.  Sudah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya, atau dengan mantan pacarnya.  Beberapa malah ganti-ganti pasangan.  Demikian juga beberapa teman pria, sudah tidak perjaka lagi.  Bagi sebagian teman, seks dianggap hal yang biasa, ketika keinginan timbul, kesempatan ada, jalani saja dengan tanpa memperhitungkan risiko atas pilihan itu.</p>
<p>Bagi perempuan, risiko yang sering kali ditanggung adalah, ketika pasangan seks itu kemudian meninggalkannya, tidak lagi menjadi pacar atau calon suami. Rasa bersalah, penyesalan, dan kadang &#8220;putus asa&#8221; akan menghantuinya.  Risiko yang lain adalah kehamilan yang belum dikehendaki.  Aku punya beberapa teman yang terpaksa terlalu cepat menikah karena hamil duluan.  Memang ada beragam penyelesaian ketika kehamilan terjadi, paling banyak adalah menikahkan &#8220;pasangan&#8221; itu, tetapi juga ada yang mengambil jalan, menanggung kehamilan, kelahiran anak dan perawatan anak, tanpa pria pasangannya.  Bahkan ada teman yang ketika kehamilan terjadi, tidak yakin teman pria yang mana yang menyebabkan hamil, dan kemudian dipilihlah seorang pria untuk &#8220;bertanggung jawab&#8221; menjadi suaminya.</p>
<p>Tidak dapat dipungkiri, bahwa yang diinginkan pria dalam sebuah hubungan khusus dengan lawan jenis, adalah seks. Itu sudah menjadi naluri pria.  Bahkan aku pernah membaca buku, seorang pria mungkin saja akan bosan pada seks dengan perempuan yang sama, tetapi akan bergairah lagi, jika dihadapkan pada perempuan yang berbeda. Itu naluri pria.  Perempuan lebih cenderung mementingkan kebersamaan, kasih sayang, perlindungan atau singkatnya &#8220;cinta&#8221; daripada seks, dan untuk mendapatkan itu, perempuan akan rela memberikan seks kepada pasangannya.  Tetapi ingat lagi, kita hidup bukan hanya karena NALURI.  Kita hidup dalam masyarakat yang berbudaya, termasuk budaya &#8220;agama&#8221; yang memberi rambu-rambu bagaimana sebaiknya relasi antar manusia (khususnya lawan jenis) dijalin.</p>
<p><img src="/backup%20fb/notes/fb%20Siapakah%20jodohku%20_files/386844_2676612873355_1197212031_33144811_910328990_n.jpg" alt="" /></p>
<p>Aku tidak akan menuliskan, ayat-ayat yang dapat menjadi rujukan agar kita lebih hati-hati dalam menjalin relasi dengan lawan jenis.  Begitu banyak ayat, sehingga kita bisa mencari pembenaran atas apa yang kita lakukan atau tidak lakukan.  Namun yang penting bukan pembenaran atas apa yang kita lakukan atau tidak lakukan, melainkan kesadaran bahwa setiap pilihan yang kita ambil memiliki konsekuensi, dan perlu tambahan kesadaran, apakah konsekuensi yang akan timbul, itu mengenakkan atau tidak mengenakkan, apakah kita tanggung dengan ringan, atau berat.  Saranku singkat, tidak perlu melakukan hubungan seks sebelum menikah, tetapi kalau sudah menikah, jangan sungkan melakukannya dengan pasangan, agar cinta tetap bergelora.  Bagi yang sudah terlanjur melakukan sebelum nikah, ya&#8230;, tanggung saja konsekuensi yang akan muncul.  Bukan soal dosa/tidak dosa, sebab dosa bisa diampuni, kesalahan bisa dimaafkan,  tetapi bahwa sebuah pilihan pasti membawa konsekuensi, dan kadang pilihan sesaat, memberi konsekuensi sepanjang waktu. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, yang ada adalah sebab-akibat (ada orang yang menyebutnya karma, ada yang menyebutnya &#8220;barangsiapa menabur akan menuai&#8221;).</p>
<p><strong>Jadi, bagaimana sebaiknya?</strong></p>
<p>Pasangan seks, tidak selalu pasangan yang berjodoh, jadi tidak perlu tergesa-gesa menyangka bahwa orang yang pernah menjalin hubungan khusus dengan kita, adalah jodoh kita.  Contoh, seks dengan pelacur, tentu tidak akan mengaku sedang melakukannya &#8220;dengan jodohnya&#8221;. Suami-istri yang bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga, bisa bercerai karena berbagai persoalan dan pilihan hidup, padahal dulu ketika awal menikah, sudah yakin bahwa &#8220;ini jodohku&#8221;.  Atau sebenarnya hanya &#8220;ini jodoh sementara-ku&#8221;?  Tentu akan panjang lebar jika kita bahas tentang perceraian, tetapi paling tidak, istilah &#8220;ini jodohku&#8221; itu baru akan valid, kalau sudah menikah.  Jika baru pacaran, apalagi baru &#8220;pdkt&#8221;, sangat prematur menyebutkan &#8220;inilah jodohku&#8221;, kecuali kita tahu persis memang Tuhan yang menunjukkannya.</p>
<p>Sekarang tergantung dari pilihan kita masing-masing, mau mencari jodoh, atau mencari pasangan seks? Mau mencari pacar atau mencari suami/istri?  Pacaran adalah tahap yang perlu dilalui sebelum masuk jenjang pernikahan, karenanya pacaran hanya dibutuhkan ketika bermaksud melanjutkannya ke pernikahan.  Jika tak berencana menikah, tak perlu pacaran, karenanya, berpacaranlah ketika sudah ada keinginan menikah.  Soal lama waktu pacaran, masing-masing pasangan bisa menentukannya sendiri, tetapi kalau pacaran tidak dimaksudkan untuk bermuara ke pernikahan, itu hal yang sia-sia, memakan banyak energi.  Tetapi jika hendak dilakukan, ya boleh-boleh saja, tidak ada larangan.</p>
<p>Kalau memang mau mencari jodoh (suami/istri), tentu kita boleh mengajukan beberapa persyaratan bagi calon istri/suami kita.  Tentu syarat yang realistis, diukur dengan kondisi/keadaan kita sendiri.  Kita masing-masing punya pertimbangan sendiri, mau memilih calon istri/suami yang seperti apa, yang bagaimana.  Orang lain boleh saja tidak setuju dengan pilihan kita, namun kita punya alasan tersendiri mengapa memilih &#8220;dia&#8221;.  [<em> If you press me to say why I loved him, I can say no more than because he was he, and I was I.  (Michel de Montaigne), </em>modified <em>--&gt; If you press me to say why I loved her, I can say no more than because she was she, and I was I ].</em></p>
<p>Orang-orang dekat, memang bisa saja memberi intervensi, dukungan atau pencegahan, tetapi yang paling penting adalah yang akan menjalani kehidupan bersama itu.  Namun, ingat lagi, kita hidup dalam masyarakat yang berbudaya, dengan bermacam-macam norma, dan norma masyarakat itu yang kadang membatasi pilihan kita.  Contoh, aku sudah punya istri, sudah punya anak, betapapun aku tertarik pada kecantikan seorang gadis muda, tidak akan aku memilih &#8220;meninggalkan istri demi ketertarikan pada kecantikan gadis muda itu&#8221;.  Demikian juga jika ada perempuan yang &#8220;tertarik&#8221; kepadaku, seorang pria beristri,  norma membatasinya.  Ketertarikan dalam hati, boleh-boleh saja, tapi tidak perlu dilanjutkan dalam tindakan-tindakan yang melanggar norma yang ada.  Toh, ketertarikan itu sebagian besar hanya karena &#8220;ulah&#8221; dophamine di otak kita.</p>
<p>Oh ya, satu lagi, masih ada yang percaya pada &#8216;nasib&#8217; dan takdir. Aku belajar primbon Jawa, hitung-hitungan tentang pernikahan, ada orang yang memang cocok jadi pasangan, ada yang tidak cocok. Ada pasangan yang jika menikah, salah satunya akan cepat mati.  Ada pasangan yang menikah, akan sakit-sakitan dan jatuh miskin, dan sebagainya.  Jika kita tahu perhitungan-perhitungan hari lahir, tanggal lahir, waktu dilangsungkan pernikahan dan lain-lain, bisa jadi perlu juga dipertimbangkan.  Tetapi memilih mengabaikan &#8220;petunjuk&#8221; seperti itu, juga boleh. Sama halnya ketika menikah tidak mendapat restu orang tua, juga boleh khan?  Prinsipnya,  setiap kita BEBAS MEMILIH, dengan konsekuensi masing-masing.  Bukankah hidup hanya soal PILIHAN dan KONSEKUENSI?</p>
<p>[Aku tidak mau membahas soal pelet (pengasihan) dan sebangsanya, walau aku sedikit tahu apa itu ajian Semar Mesem dan Jaran Goyang, hihihihi...]</p>
<p><em>(tulisan ini aku dedikasikan untuk seorang teman, yang sedang &#8220;bingung&#8221; cari jodoh, semoga tidak makin bingung, tetapi kalaupun makin bingung, handphone dan Yahoo Messenger-ku selalu tersedia untuknya, mungkin kita bisa berdiskusi beberapa hal.)</em></p>
<p>Lagunya ini saja:  <strong>KINI KUSADARI</strong>  (http://www.youtube.com/watch?v=ykr_G3F3NNk)</p>
<p>&#8212;&#8211; kini kusadari sendiri<br />
&#8212;&#8211; tak mungkin hidup menyendiri<br />
&#8212;&#8211; tanpa kawan pendamping hidupku ini<br />
&#8212;&#8211; tempat curahan keluhan hati&#8230;</p>
<p>&#8212;&#8211; ingin kuleburkan hati beku<br />
&#8212;&#8211; kupadukan dengan cinta baru<br />
&#8212;&#8211; kuakhiri semua kisah yang lalu<br />
&#8212;&#8211; terbit, oh terbit cinta yang murni&#8230;</p>
<p>&#8212;&#8211; semua ini berakhir dariku<br />
&#8212;&#8211; kan kutempuhi hidup yang baru<br />
&#8212;&#8211; semoga tak kan gagal lagi<br />
&#8212;&#8211; yang membawa kebekuan di hati&#8230;</p>
<p>Salatiga, 15 November 2011</p>
<p>RT Wijayantodipuro</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pewijayanto.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pewijayanto.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pewijayanto.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pewijayanto.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pewijayanto.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pewijayanto.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pewijayanto.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pewijayanto.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pewijayanto.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pewijayanto.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pewijayanto.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pewijayanto.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pewijayanto.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pewijayanto.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=278&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/278/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8b1b17ca8e3edba2a1fa012ee26191b4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pewijayanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Secara unyu itu sesuatu banget gitu loh&#8230;</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/secara-unyu-itu-sesuatu-banget-gitu-loh/</link>
		<comments>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/secara-unyu-itu-sesuatu-banget-gitu-loh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 15:00:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.wijayanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sehari-hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewijayanto.wordpress.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Mulai beberapa tahun yang lalu, kata &#8220;secara&#8221; dipakai bukan dalam arti &#8220;dengan cara&#8221;, namun untuk menunjuk suatu alasan tertentu hingga suatu hal yang dimaksud menjadi masuk akal.  Misalnya dalam kalimat &#8220;secara Ester itu cantik&#8220;, dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa (karena) Ester itu cantik maka &#8230;&#8230; Ini bukan baku dalam bahasa Indonesia, tetapi lama-lama makin banyak orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=276&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mulai beberapa tahun yang lalu, kata &#8220;<strong>secara</strong>&#8221; dipakai bukan dalam arti &#8220;dengan cara&#8221;, namun untuk menunjuk suatu alasan tertentu hingga suatu hal yang dimaksud menjadi masuk akal.  Misalnya dalam kalimat &#8220;<strong>secara Ester itu cantik</strong>&#8220;, dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa (karena) Ester itu cantik maka &#8230;&#8230; Ini bukan baku dalam bahasa Indonesia, tetapi lama-lama makin banyak orang yang menerima dengan &#8216;sukarela&#8217;, bahkan kemudian ikut-ikutan secara latah menggunakan kata &#8220;secara&#8221; itu untuk maksud demikian itu.  &#8220;<strong>Secara Ester itu cantik, banyak cowok nge-add Facebooknya</strong>&#8220;, artinya karena Ester itu cantik, maka WAJAR jika banyak cowok nge-add account Facebooknya.  Tentu menggunakan kata &#8216;secara&#8217; dengan maksud demikian, tidak pantas dipakai dalam tulisan-tulisan atau percakapan-percakapan resmi/ilmiah.   Tetapi hidup bukan hanya tentang yang ilmiah, bukan?</p>
<p><span id="more-276"></span></p>
<p>Kata berikutnya adalah &#8220;<strong>sesuatu banget</strong>&#8220;, untuk menunjukkan bahwa suatu hal &#8220;sangat mengesankan&#8221;. Kesan yang mungkin sulit dijelaskan dengan kata-kata, maka kata yang dianggap mewakili &#8220;rasa&#8221; yang &#8220;bagaimana itu&#8230;&#8221;, adalah &#8220;sesuatu banget&#8221;.  Ini juga bukan rangkaian kata baku dalam Bahasa Indonesia, sehingga tidak tepat jika dipakai dalam tulisan-tulisan resmi atau tulisan ilmiah.  Namun kata &#8216;sesuatu banget&#8217;, yang kemudian disingkat menjadi SBY = sesuatu banget ya&#8230;, dapat diterima di masyarakat tertentu, sebagai bahasa gaul, khususnya bagi muda-mudi yang memang punya kosakata yang kompleks untuk mengungkapkan rasa yang bergejolak dalam kemudaannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata &#8220;<strong>unyu</strong>&#8221; kemudian muncul sebagai ungkapan untuk menggambarkan rasa gemas, lucu, menyenangkan.  Kata unyu yang KONON aslinya berarti &#8220;anak anjing&#8221; (yang biasanya lucu, menggemaskan) dianggap mewakili kesan lucu, menggemaskan bagi obyek tertentu, khususnya seseorang.  &#8220;Kamu unyu deh..&#8221;, artinya kamu cakep, lucu, menggemaskan, dan menyenangkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bahasa Indonesia memang bahasa yang &#8220;muda&#8221;, sehingga masih perlu mengadopsi berbagai bahasa lain untuk memberi makna tertentu yang belum dapat terwakili oleh kata-kata yang ada.  Pun kita tahu bahwa bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, ditambah beberapa bahasa &#8216;lokal&#8217;. Beberapa bahasa lain memiliki lebih banyak kata, sehingga lebih kaya dalam mengungkapkan makna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk hal &#8220;<strong>rasa</strong>&#8220;, menurut saya, bahasa Jawa memiliki kosakata yang lebih kaya daripada bahasa-bahasa lain di dunia ini, apalagi dibandingkan dengan bahasa Indonesia.  Saya memang tidak tahu banyak bahasa lain di dunia, tetapi saya memiliki <strong>keyakinan yang tinggi</strong>, bahasa Jawa &#8220;menang&#8221; jika dipakai untuk mengungkapkan &#8220;rasa&#8221;.  Namun, kalau untuk bidang teknologi, bahasa Jawa jelas kalah daripada bahasa Inggris atau bahasa-bahasa lain.  <em>Bluetooth</em>, akan sangat lucu jika diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa menjadi &#8220;<em>untu biru</em>&#8220;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya bisa memberi beberapa contoh, beberapa kata dalam bahasa Jawa yang maknanya sulit diungkapkan dalam kata bahasa Indonesia.  Misalnya, kata &#8220;<em>gusti</em>&#8220;, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi &#8220;tuhan&#8221;. Kata &#8216;<em>gusti</em>&#8216; dalam bahasa Jawa bisa digunakan untuk menyebut Tuhan semesta alam, bisa juga dipakai untuk menyebut orang yang sangat dihormati (biasanya) dari kalangan keraton.  Kata &#8220;<em>ingsun</em>&#8220;, secara mudah disamakan dengan kata &#8216;aku&#8217; (atau <em>I </em>= Inggris, <em>Ani </em>= Ibrani, <em>Ane </em>= Arab), padahal sesungguhnya bukan sekedar bermakna &#8220;aku&#8221;.  <em>Ingsun </em>mewakili &#8216;diri pribadi&#8217; yang ada &#8216;di dalam aku&#8217;, suatu keberadaan &#8216;sejati&#8217; dari diri seseorang. <em>Ingsun </em>tidak tampak oleh mata, <em>ingsun </em>bukan tubuh/badan manusia. <em>Ingsun </em>adalah &#8220;diri sejati&#8221; seorang manusia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata &#8220;<em>nendang</em>&#8221; dari kata menendang, saat ini dikenal digunakan untuk menyatakan bahwa suatu  masakan berasa &#8220;nikmat&#8221; (rasanya <em>nendang</em>). Bagi orang Jawa, &#8216;<em>nendang</em>&#8216; atau &#8216;menendang&#8217;, hanya salah satu dari beberapa istilah untuk gerakan kaki &#8216;menendang&#8217; sesuatu.  Untuk &#8220;menendang&#8221;, bahasa Jawa memiliki beberapa kosakata:  <em>nendang </em>(ke arah depan, jari-jari yang kena objek), <em>nyepak </em>(ke arah samping, bagian sisi kaki yang kena obyek), <em>mengkal </em>(ke arah belakang, bagian tungkai kaki belakang yang kena obyek), <em>ndugang </em>(ke arah depan atas, bagian punggung kaki yang kena objek),<em>ndupak </em>(ke arah depan bawah, bagian telapak kaki belakang yang kena objek).  Pepatah Jawa, &#8220;<em><strong>dhupak bujang, dugang demang, esem bupati</strong></em>&#8220;,  sulit diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan kata-kata yang singkat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata &#8220;kepala muda&#8221;, bagi orang Jawa bisa berarti <em>bluluk </em>(kelapa yang masih kecil), <em>cengkir </em>(kelapa muda yang sudah berisi air namun belum berdaging kelapa), dan <em>degan </em>(kelapa muda yang sudah memiliki daging kelapa yang masih lunak).  Jawa punya kata <em>sih </em>(<em>asih</em>), <em>tresna</em>, dan <em>dhemen </em>untuk mengungkapkan &#8220;cinta&#8221;.  <em>Sih </em>(<em>asih</em>), adalah kasih/cinta &#8216;<em>agape</em>&#8216; (tanpa syarat), <em>tresna </em>adalah kasih/cinta yang universal ditujukan untuk pihak lain, dan <em>dhemen</em>, rasa cinta/tertarik kepada lawan jenis (asumsinya bukan homoseks).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kata <em>kawruh </em>yang diterjemahkan menjadi pengetahuan, sebenarnya dalam bahasa Jawa memiliki makna yang lebih dalam.  Ada yang menyatakan, <strong><em>kawruh punika tumanduke weruh dhumatheng ingkang dipun weruhi</em></strong> (&#8216;pengetahuan&#8217; adalah tindakan/keadaan/perilaku/sikap tahu terhadap (sesuatu) yang diketahui).  Jadi bagi orang Jawa, &#8220;<em>kawruh</em>&#8221; itu memiliki makna yang lebih dalam daripada sekedar diwakili oleh kata &#8220;pengetahuan&#8221;.  Masih banyak lagi kata-kata dalam bahasa Jawa yang memiliki makna yang dalam, yang mungkin sulit dimengerti oleh orang yang bukan Jawa, oleh karena itu, bagi orang bukan Jawa, orang Jawa kadang &#8220;sulit dimengerti&#8221;, dan bahasa Jawa adalah &#8220;rumit&#8221;.  Satu contoh lagi, kata &#8220;<em>nyuwun sewu</em>&#8221; bagi orang Jawa sebenarnya memiliki makna yang agak berbeda dengan &#8220;permisi&#8221; (<em>excuse me</em>). Jika kata permisi (<em>excuse me</em>), digunakan untuk &#8220;minta ijin&#8221; ketika seseorang akan &#8216;menyela&#8217;, bagi orang Jawa, kata &#8220;<em>nyuwun sewu</em>&#8221; bukan sekedar minta ijin untuk menyela, tetapi ungkapan singkat dari &#8220;mohon beribu (<em>sewu</em>) maaf, karena saya akan mengganggu &#8216;kemerdekaan&#8217;/kenyamanan anda&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Masih banyak kata-kata lain dalam bahasa Jawa yang memiliki makna yang &#8216;dalam&#8217;, yang tidak bisa diwakili oleh kata dalam bahasa lain.   Kata-kata adalah ungkapan rasa/pikiran, atau wakil dari obyek tertentu.  Rasa/pikiran yang sebenarnya tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata, obyek yang dimaksud dapat dipahami secara lebih baik jika sudah dihadapi (dilihat, didengar, dirasakan) secara langsung.  Sikap tubuh, mimik muka, senyum dan tatapan mata, adalah cntoh bahasa antar sesama manusia yang lebih bermakna daripada sekedar bunyi suara dari mulut, atau tulisan-tulisan.  Itulah ungkapan rasa yang lebih sulit dimanipulasi oleh keindahan pilihan kata.  Mungkin saja, dengan demikian kata-kata &#8220;<strong>sesuatu banget</strong>&#8221; adalah ungkapan (terpaksa) cocok dipakai untuk menggambarkan rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Bisa jadi karena memang tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan rasa itu, atau tidak tahu bahwa ada kata dalam bahasa tertentu yang sebenarnya bisa dipakai.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebenarnya masih banyak yang hendak saya tulis, namun  berapapun banyaknya kata-kata yang saya tuliskan, tak akan mampu mewakili apa yang sebenarnya saya pikirkan atau saya rasakan.  Sehingga saya akhiri saja tulisan ini.  Entah apa yang akan anda tangkap dari tulisan ini.  Mungkin berbeda dengan apa yang saya maksudkan.  Tidak mengapa, yang penting kita saling mengerti, bahwa bahasa hanyalah sarana komunikasi, yang bisa disalahmengerti.  Rasa yang sebenarnya tidak dapat saya ungkapkan lewat kata-kata. Bisa jadi, apa yang saya tulis adalah kebohongan, karena tidak bisa mengungkapkan semua yang sebenarnya saya maksudkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melalui kata-kata, kita berbicara dengan orang lain, jika kita bermaksud orang lain memperoleh gambaran dari apa yang kita pikirkan/rasakan.  Bahwa senyum manis, tatapan dan kerlingan mata, jabat tangan yang erat, pelukan yang hangat, dan ciuman yang mesra,  bisa mengungkapkan rasa di hati, namun kata-kata akan memperjelas ungkapan rasa itu.  Jika tak ada kesempatan untuk diperjelas dengan kata-kata, rasa di hati kadang menjadi menyiksa, menimbulkan kesepian dan &#8220;bete&#8221;.  Sayapun menulis rangkaian kata-kata di atas, untuk sekedar mengungkapkan sebagian pikiran di otak dan rasa yang berkecamuk di hati, eh.. di jantung.  Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip kata-kata Kahlil Gibran, &#8220;<strong>Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau telinga kehidupanmu; namun marilah kita coba saling bicara, barangkali kita dapat mengusir kesepian dan tidak merasa jemu.</strong>&#8220;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Silakan berkomentar, ungkapkan rasa dengan kata-kata.</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oh ya, 13 jam yang lalu saya menulis status FB, &#8220;<strong>SESUATU banget, itu bukan SESUASU banget, khan?</strong>&#8220;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salatiga, 14 November 2011</p>
<p>RT Wijayantodipuro</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pewijayanto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pewijayanto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pewijayanto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pewijayanto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pewijayanto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pewijayanto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pewijayanto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pewijayanto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pewijayanto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pewijayanto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pewijayanto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pewijayanto.wordpress.com/276/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pewijayanto.wordpress.com/276/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pewijayanto.wordpress.com/276/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=276&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/secara-unyu-itu-sesuatu-banget-gitu-loh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8b1b17ca8e3edba2a1fa012ee26191b4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pewijayanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Senyum (mu) itu &#8230;</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/senyum-mu-itu/</link>
		<comments>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/senyum-mu-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 14:54:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.wijayanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sehari-hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewijayanto.wordpress.com/?p=270</guid>
		<description><![CDATA[Tadi, ketika menghadiri acara &#8220;Sarasehan Keluarga&#8221;, sambil mendengarkan Pak Pendeta berceramah soal keluarga, aku membuka Facebook di handphone; aku baca status seorang  friend, ‎&#8221;Dapatkah &#8230; aku tersenyum lagi tanpa beban &#8230; ???&#8221;, aku berkomentar, &#8220;Bisa lah&#8230;., Just a simple smile.&#8221;.  Selanjutnya muncul ide untuk menulis note tentang SENYUM ini. Yang paling aku ingat tentang senyum adalah kata-kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=270&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tadi, ketika menghadiri acara &#8220;Sarasehan Keluarga&#8221;, sambil mendengarkan Pak Pendeta berceramah soal keluarga, aku membuka Facebook di handphone; aku baca status seorang  friend,<strong> ‎&#8221;Dapatkah &#8230; aku tersenyum lagi tanpa beban &#8230; ???&#8221;</strong>, aku berkomentar, <strong>&#8220;Bisa lah&#8230;., Just a simple smile.&#8221;</strong>.  Selanjutnya muncul ide untuk menulis note tentang SENYUM ini.</p>
<p><span id="more-270"></span></p>
<p>Yang paling aku ingat tentang senyum adalah kata-kata berikut ini:</p>
<p><strong>&#8212;&#8211; cinta datang dengan senyuman,</strong><br />
<strong>&#8212;&#8211; tumbuh dengan ciuman,</strong><br />
<strong>&#8212;&#8211; berakhir dengan air mata.</strong></p>
<p>Tanggal 30 Oktober 2011, hari Minggu yang lalu, seorang teman memposting tulisan di sebuah grup diskusi, &#8220;Senyuman adalah garis lengkung yg mampu meluruskan banyak perkara, demikian khotbah Ibu Pendeta di Kebaktian tadi pagi&#8221;, langsung ku komentari, &#8220;<strong>A smile is a curve that sets everything straight.</strong>  (Phyllis Diller)&#8221;.  Ibu pendeta itu sebenarnya mengutip quote-nya Phyllis Diller, yang kebetulan pernah aku baca.</p>
<p>Ada beberapa quote tentang senyum yang pernah kubaca, namun satu yang  juga aku ingat adalah, &#8220;<strong>I&#8217;ve never seen a smiling face that was not beautiful</strong>.  (Author Unknown).  Quote ini mengingatkanku pada seorang teman sekolah,  bertahun-tahun yang lalu, yang pernah sempat aku jatuh cintai, karena terseyum padaku, ketika secara tak sengaja kami bertemu di sebuah jalan. Aku juga ingat, pada beberapa orang yang tersenyum &#8216;manis&#8217;, ketika kami saling bertatap mata. Ah&#8230;, itu hanya nostalgia dari sebuah perjumpaan.   Aku selalu ingat, senyuman  tersipu malu, ketika aku tatap wajah manis seorang perempuan.</p>
<p>Yang aku ingat tentang senyum, juga sebuah ajian pelet (pengasihan) di Jawa, bernama <em>Semar Mesem</em> (Semar Tersenyum), dengan mantra, <em>&#8220;Ingsun amatak ajiku si semar mesem , mut-mutanku inten , cahyane manjing ana pilinganku kiwa tengen , sing nyawang kegiwang , apa maneh yen sing nyawang kang tumancep kumanthil ing telenging sanubariku&#8230;.&#8221; </em>dst.  <em>hihihi</em>.   Ketika aku pasang sticker gambar Semar di kaca belakang mobil-pun (aku suka dengan tokoh Semar), aku iseng menambahkan simbol wajah orang tersenyum untuk menutup &#8216;<em>bokong</em>&#8216; semar itu, dan&#8230;, jadilah &#8220;semar mesem&#8221;,<em>hahaha</em>&#8230; (tapi rupanya tidak banyak yang memperhatikan sticker itu, apalagi tepat di bawah sticker semar  &#8217;mesem&#8217; itu, ada sticker bertuliskan KOMPAS&#8217;S  Komunitas Pria Sejati &#8211; Solo.</p>
<p>Ada beberapa penyebab seseorang tersenyum (bukan TERSENYUM &#8211; Tertib, Elok, Rapi, SEhat, NYaman Untuk Masyarakat -nya Boyolali, atau bersenyum? (bukan BERSENYUM &#8211;  BERsih SEhat NYaman Untuk Masyarakat) -nya Temanggung.   OK, kita sudah biasa menggunakan istilah &#8220;tersenyum&#8221; bukan &#8220;bersenyum&#8221;,  sama halnya kita biasa menggunakan kata tertawa, bukan bertawa.</p>
<p>Paling banyak, orang bermimik muka tersenyum, karena hatinya sedang riang, merasa senang menyaksikan atau merasakan suatu hal, senyum akan menjadi penghias bibir.  Ada senyum &#8216;simpul&#8217;, yang sekedarnya saja, ada seyum yang &#8216;lebar&#8217;. Ada senyum &#8216;kecut&#8217; karena gemas pada sesuatu.  Ada senyum karena menikmati suatu kelucuan, ada senyum karena tersipu malu. (sama halnya dengan tawa, ada tawa karena senang, ada tawa penghinaan, ada tawa karena lucu).  Sama-sama tersenyum, tetapi mengandung arti yang berbeda-beda.  Ada senyum yang mudah dikenali maknanya, ada yang sulit dimengerti.  Ada senyum yang biasa saja, ada senyum yang menggoda, ada senyum yang punya makna mendalam.  Mungkin kita bisa mengenali dan merasakan makna dari bermacam-macam senyum yang kita jumpai, terutama dari orang-orang yang sengaja tersenyum untuk kita.  Demikian juga, senyuman kita, bisa dimengerti oleh orang yang kepadanya kita sengaja tersenyum, ketika berjumpa dengannya.</p>
<p>Salah satu senyum yang tak akan aku lupakan, adalah senyum anakku yang pertama, Icha, ketika pertama kali aku melihatnya di ruang bayi di rumah bersalin. Ketika ku tatap wajahnya, bayi mungil yang belum genap berusia satu jam sejak kelahirannya itu, tersenyum padaku.  Itu sebuah senyum yang entah bermakna apa, karena aku tidak mengerti apa yang dirasakan seorang bayi yang baru lahir.  Ingatanku ke masa kanak-kanakku, tidak sampai ketika aku masih bayi, jadi aku tidak mampu untuk mencoba mengerti apa yang dirasakan seorang bayi yang baru lahir.</p>
<p>Di Kitab Suci, hanya ada satu kata &#8220;tersenyum&#8221;  yang dapat aku jumpai, yaitu di Kitab Ayub, sebuah kitab yang mengisahkan penderitaan dan kesetiaan Ayub.  <em>Aku tersenyum kepada mereka, ketika mereka putus asa, dan seri mukaku tidak dapat disuramkan mereka. (Ayub  29:24)</em>.  Ayub yang tetap tersenyum menghadapi penderitaan beratnya.</p>
<p>Senyum di bibir,  memang tidak selalu selaras dengan rasa di hati.  Banyak senyum yang terpaksa, untuk berpura-pura tabah dan tegar, untuk berpura-pura gembira, untuk berpura-pura tidak kecewa.  Pada lagu &#8220;Biarkan dia pergi&#8221;-nya Betharia Sonata, ada kata-kata yang ku ingat, <strong>&#8220;biarkanlah walau bahagia berpaling darimu&#8230;.., tersenyumlah walau sakit rasa hatimu&#8230;&#8221;</strong>.   Entah pura-pura atau tulus, bagaimanapun tersenyum jauh lebih baik daripada cemberut apalagi bersungut-sungut. Bahkan sungut-sungut itu hal yang dilarang oleh Yeshua <em>(Yohanes 6:23 &#8220;&#8230;.. Jangan kamu bersungut-sungut&#8221; ).</em></p>
<p>Tersenyumlah, sebab senyuman itu laksana sebuah cahaya di jendela wajahmu, yang menyatakan bahwa kamu ada di rumah. &#8220;<strong>A smile is the light in the window of your face that tells people you&#8217;re at home</strong>.&#8221;  (Author Unknown)</p>
<p>Ah sudahlah&#8230; mari kita tersenyum <strong> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </strong>  bahkan, mari kita tertawa <strong> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> )</strong>, tapi tidak perlu sampai<em>ngakak </em>guling-guling <strong>=)) =)) =))</strong>.</p>
<p>Jika senyummu sirna, aku jadi ingat lagu &#8220;Sekedar Bertanya&#8221;-nya Mia MS:</p>
<p><em>hasrat hati hanya sekedar bertanya</em><br />
<em>mengapa wajahmu selalu berbeda</em><br />
<em>sehingga lenyap keindahan ku rasa</em><br />
<em>aduhai apakah gerangan sebabnya</em></p>
<p><em>wajahmu dulu berseri-seri, senyummu dulu manis sekali</em><br />
<em>pandangan matamu bercahaya tetapi kini jauh berbeda</em><br />
&#8230;&#8230;<br />
&#8230;&#8230;</p>
<p><a href="http://pewijayanto.files.wordpress.com/2011/11/smile_ester_lan1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-273" title="smile_ester_lan1" src="http://pewijayanto.files.wordpress.com/2011/11/smile_ester_lan1.jpg?w=300&#038;h=270" alt="" width="300" height="270" /></a></p>
<p>Salatiga, 13 November 2011</p>
<p>RT Wijayantodipuro</p>
<p> <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pewijayanto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pewijayanto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pewijayanto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pewijayanto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pewijayanto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pewijayanto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pewijayanto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pewijayanto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pewijayanto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pewijayanto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pewijayanto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pewijayanto.wordpress.com/270/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pewijayanto.wordpress.com/270/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pewijayanto.wordpress.com/270/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=270&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/senyum-mu-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8b1b17ca8e3edba2a1fa012ee26191b4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pewijayanto</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pewijayanto.files.wordpress.com/2011/11/smile_ester_lan1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">smile_ester_lan1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Laron itu Anai-anai</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/laron-itu-anai-anai/</link>
		<comments>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/laron-itu-anai-anai/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 14:51:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.wijayanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[Tidak biasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewijayanto.wordpress.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[Aku bertanya, &#8220;Icha, laron itu nama lainnya apa?&#8221;.  Icha tidak bisa menjawabnya, dan kemudian aku beritahu, &#8220;anai-anai&#8220;.  Aku bertanya kepadanya, sambil menikmati laron goreng, hasil &#8220;berburu&#8221; di dekat kamar mandi di luar rumah.  Sarangnya berada di depan kamar mandi, dan karena tanah basah, mereka keluar dari sarang yang lembab, kemudian terbang mengerumuni lampu yang menyala di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=268&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku bertanya, <em>&#8220;Icha, laron itu nama lainnya apa?&#8221;</em>.  Icha tidak bisa menjawabnya, dan kemudian aku beritahu, &#8220;<strong>anai-anai</strong>&#8220;.  Aku bertanya kepadanya, sambil menikmati laron goreng, hasil &#8220;berburu&#8221; di dekat kamar mandi di luar rumah.  Sarangnya berada di depan kamar mandi, dan karena tanah basah, mereka keluar dari sarang yang lembab, kemudian terbang mengerumuni lampu yang menyala di sudut kamar mandi itu.</p>
<p><span id="more-268"></span></p>
<p>Ketika aku melihat mereka mulai berhamburan keluar dari sarangnya dan mengerubuti lampu di sudut kamar mandi, aku mengambil kabel berfiting lampu, sebuah lampu &#8216;tornado&#8217; dan sebuah ember untuk menjebak  mereka.  Lampu sudut kamar mandi aku matikan, dan aku nyalakan lampu  di dalam ember.  Mereka masuk ke ember, makin lama makin banyak.  Aku undang anak-anak untuk menyaksikan anai-anai itu, aku tunjukkan juga kepada mereka lubang sarangnya, beserta para rayap yang ikut meramaikan suasana di &#8216;bibir&#8217; sarang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beberapa ekor cicak dan satu tokek di dinding kamar mandi ikut menikmati kehadiran anai-anai itu.  Anai-anai menjadi menu makan malam mereka. Aku mengumpulkan laron-laron ke dalam ember, sambil mengayaknya agar sayap-sayapnya terlepas.  (Kali ini sayap-sayapnya agak sulit terlepas, mungkin karena para laron itu masih &#8216;muda&#8217;, atau memang dari jenis yang sayapnya tidak mudah lepas &#8212; aku tahu  ada 2 jenis laron yang sering dijumpai. &#8220;<em>Laron kuning</em>&#8221; badannya lebih besar, sayapnya lebih mudah tanggal, dan &#8220;<em>laron papah</em>&#8220;, badannya lebih kecil, sayap lebih sulit lepas, dan lebih berbau daripada laron kuning.)  Aku mengambil kipas angin besar, untuk menerbangkan sayap-sayap yang sudah terlepas dari badan para laron, dan tinggallah ribuan laron tanpa sayap di dalam ember.  Selanjutnya dari ember, mereka ku pindahkan ke wajan di atas kompor menyala. Mungkin sudah takdir, laron-laron itu mati di wajan penggorengan.  Icha mencoba menyantap beberapa ekor, langsung  timbul bentol-bentol di wajahnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bagiku, bukan hal yang luar biasa memakan laron. Kepompong ulat jati dan belalang dari Gunung Kidul-pun aku bisa menikmatinya. Aku pernah memakan beberapa jenis burung, hasil berburu dengan senapan angin.  Tupai, tokek, cicak, bahkan tikus sawah hasil berburu, ketika hama tikus menyerang sawah, aku pernah memakannya.  Daging rusa, landak, codot, bahkan daging kera, aku juga pernah memakannya.  Aku tidak punya makanan favorit (tapi suka makan ikan), asal orang lain bisa memakannya, akupun mungkin bisa memakannya, asalkan aku pikir tidak berbahaya untuk kesehatan tubuh.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><img src="/backup%20fb/notes/fb%20Laron%20itu%20Anai-Anai._files/312786_2648005318184_1197212031_33129757_1223104713_n.jpg" alt="" /></p>
<p>Sebenarnya sudah lama aku tidak lagi makan laron.  Dulu waktu masih kanak-kanak, dengan cara  sederhana  aku bersama-sama teman-teman sebaya, seringkali kami  &#8220;menjebak&#8221; laron yang sedang keluar dari sarangnya di awal musim hujan. Dulu, &#8216;acara&#8217; itu mengasyikkan, karena kadang kami berlomba dengan teman-teman, siapa yang bisa mengumpulkan laron lebih banyak.  Dulu kami menggunakan pelepah pisang untuk &#8220;jalan&#8221; laron, dan menggunakan daun pisang untuk menampung laron-laron yang terjebak.  Kami  membuat lobang di tanah, untuk menempatkan wadah dari daun pisang  itu. Jika bukan dengan daun pisang, kami menggunakan plastik kantong.  Laron yang terkumpul, kemudian diayak, dibersihkan sayapnya, digoreng dan dinikmati sebagai lauk.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Laron bisa dinikmati sebagai laron goreng, bisa dicampurkan dalam &#8216;bothok&#8217;, bisa juga dicampur adonan gandum dan digoreng menjadi rempeyek laron.  Di pasar-pun kalau sedang musim laron, selalu ada penjual laron goreng.  Itu dulu.   Sekarang jaman sudah berubah, sudah terlalu banyak jenis makanan, sehingga laron tidak lagi diperhitungkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku &#8216;akrab&#8217; dengan laron sejak masih kanak-kanak, aku bisa makan laron hidup, dan kadang laron itu sempat menggigit lidah sebelum mati terkunyah.  Jika tidak mau lidah tergigit, maka laron itu dimatikan dulu dengan dipencet kepalanya.  Bahkan aku pernah menelan mentah &#8220;ratu laron&#8221;, kira-kira sebesar ibu jari.  Kebetulan &#8216;ratu&#8217; itu kami temukan di kebun, ketika ayahku memperbaiki (meluruskan) terasering kebun yang baru saja dibeli.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum aku membaca beberapa literatur tentang laron, melalui pengamatan langsung ketika masih kanak-kanak, aku sudah mengerti, jika dalam sebuah koloni laron, ada ratu laron yang tugasnya bertelur menghasilkan rayap dan laron.  Ada raja laron sebagai &#8216;pejantan&#8217; yang tubuhnya lebih kecil daripada ratu laron. Ada  dua jenis rayap, yaitu rayap biasa  (yang kemudian aku tahu, disebut rayap pekerja), dan &#8220;gonteng&#8221; rayap yang kepalanya besar, capitnya kuat (yang kemudian aku tahu, disebut rayap prajurit). Ratu dan raja laron berasal dari laron yang berhasil selamat, masuk kembali ke lobang di tanah setelah sayap-sayapnya tanggal, dan mampu bertahan hidup, setelah laron-laron itu keluar dari sarang di koloni terdahulu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika melihat mereka di wajan gorengan, aku berpikir, ada puluhan ribu &#8216;nyawa&#8217; menjadi korbanku malam itu.  Mereka tumbuh di dalam tanah, kemudian keluar di musim hujan, menghampiri lampu dan mati dengan berbagai cara.  Hanya sangat sedikit yang mampu bertahan dan kemudian membentuk koloni baru.  Itulah takdir mereka, jika takdir itu ada.  Jangan-jangan kita seperti laron, hanya dalam ukuran tubuh yang lebih besar dan jangka waktu hidup yang lebih lama.  Jika mereka hanya bertubuh kecil dan bersayap, kita manusia jauh lebih besar dan bertangan.  Jika mereka hidup semusim, kita bisa puluhan tahun.  Tetapi kisahnya hampir sama, lahir, menjalani hidup dan kemudian mati.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Laron-laron begitu kecil di mata kita manusia, seperti halnya nyamuk dan semut yang mudah kita binasakan dengan berbagai cara.  Dibandingkan dengan alam semesta yang begitu luas, manusia yang tinggal di bumi, ya hanya &#8220;sangat kecil&#8221;.  Dibandingkan dengan usia bumi yang konon sudah jutaan tahun, masa hidup manusia yang hanya puluhan tahun, juga sangat singkat.  Orang Jawa punya pepatah, &#8220;urip iku mung mampir ngombe&#8221; (hidup itu hanya mampir minum).  Hidup ini singkat. (Kematian: hanya soal waktu dan cara &#8211;&gt; http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150261890463551)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku tidak tahu, apakah para laron itu punya kesadaran tentang Tuhan, tentang surga dan neraka, atau mereka tanpa tahu apa-apa, menjalani hidupnya sesuai takdirnya? Siapa yang menakdirkan mereka hidup di dalam tanah, keluar mencari lampu dan berakhir di wajan di atas kompor gas yang menyala?  Tuhan-kah yang menakdirkannya?  Apakah Tuhan juga mengurus rayap dan laron-laron? Padahal laron-laron itu tak beragama, tak pernah berdoa, tak pernah beribadah di rumah ibadah.  Hahaha&#8230;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jangan-jangan, kalau hanya untuk ingin diurus oleh Tuhan, kita juga tidak perlu beragama. Jadi, untuk apa manusia beragama?  Mungkin lebih enak jadi seperti laron-laron, lahir,  menjalani hidup, dan kemudian mati sesuai takdir. Bukankah diurus oleh takdir Tuhan itu akan lebih enak? Atau kita bisa menolak takdir?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salatiga, 10 November 2011</p>
<p>RT Wijayantodipuro</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pewijayanto.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pewijayanto.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pewijayanto.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pewijayanto.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pewijayanto.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pewijayanto.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pewijayanto.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pewijayanto.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pewijayanto.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pewijayanto.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pewijayanto.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pewijayanto.wordpress.com/268/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pewijayanto.wordpress.com/268/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pewijayanto.wordpress.com/268/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=268&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/laron-itu-anai-anai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8b1b17ca8e3edba2a1fa012ee26191b4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pewijayanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengabaikan dan terabaikan: hal yang biasa</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/mengabaikan-dan-terabaikan-hal-yang-biasa/</link>
		<comments>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/mengabaikan-dan-terabaikan-hal-yang-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 14:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.wijayanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sehari-hari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewijayanto.wordpress.com/?p=266</guid>
		<description><![CDATA[Status FB-ku tadi malam: Karena perbedaan kepentingan tiap orang, kita tak akan bisa menyenangkan semua orang di sekitar kita. Berbagai keterbatasan membuat kita hanya mampu berada pada kepentingan tertentu, dan terpaksa mengabaikan kepentingan lainnya. Mengabaikan dan terabaikan, itu hal yang biasa dalam hidup ini. ========================= Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau telinga kehidupanmu; namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=266&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Status FB-ku tadi malam:</p>
<p><strong>Karena perbedaan kepentingan tiap orang, kita tak akan bisa menyenangkan semua orang di sekitar kita. Berbagai keterbatasan membuat kita hanya mampu berada pada kepentingan tertentu, dan terpaksa mengabaikan kepentingan lainnya. Mengabaikan dan terabaikan, itu hal yang biasa dalam hidup ini.</strong></p>
<p><strong>=========================<span id="more-266"></span></strong></p>
<p><strong>Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau telinga kehidupanmu; namun marilah kita coba saling bicara, barangkali kita dapat mengusir kesepian dan tidak merasa jemu. =Kahlil Gibran=</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku teringat pada kisah <strong>Yeshua </strong>(Yesus).  Ketika Yeshua dihadapkan pada perempuan yang kedapatan berzinah dan akan dirajam oleh orang banyak, Yeshua menyatakan &#8220;siapa yang tidak berdosa, silakan melempar batu pertama kali&#8221;.  Orang-orang berlalu meninggalkan perempuan itu, dan tinggallah Yeshua bersamanya, dan kemudian Yeshua berkata, &#8220;Dosamu sudah diampuni, <strong>PERGILAH DAN JANGAN BERBUAT DOSA LAG</strong>I&#8221; (aku tekankan kata &#8220;pergilah dan jangan berbuat dosa lagi, karena kadangkala demi kepentingan tertentu, yang ditekankan hanya &#8220;dosamu sudah diampuni&#8221;)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apakah orang-orang yang akan melempari perempuan itu, setelah mendengar kata-kata Yeshua, kemudian pergi meninggalkan perempuan berdosa itu, dengan sukacita dan riang gembira?  Aku berani pastikan, mereka pergi dengan menahan malu, atau minimal dengan rasa tidak nyaman, karena tidak berhasil melampiaskan hasratnya melempari perempuan berdosa itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari kisah di tersebut, ada &#8216;konflik kepentingan&#8217; bagi Yeshua, antara mengampuni dan menyelamatkan perempuan berdosa itu, atau menuruti keinginan orang banyak untuk merajam seorang perempuan.  Bagaimanapun, ada satu pilihan yang tidak mampu menyenangkan semua pihak.  Tetapi, kita semua yang membaca kisah itu, akan &#8220;memuji&#8221; tindakan Yeshua yang menyelamatkan SEORANG perempuan daripada menuruti keingingan BANYAK ORANG.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kehadiran Yeshua mengajarkan banyak hal tentang kasih, hingga  pengorbanannya di kayu salib, telah menjadikan Yeshua sebagai TOKOH KASIH TERBESAR SEPANJANG JAMAN.  Tidak ada yang membantah hal ini, kecuali orang-orang yang tidak mau tahu ajaran kasih dariNya.  Ajaran kasih-NYA yang singkat dan populer adalah &#8220;<strong>Kasihilah sesamamu manusia, seperti dirimu sendiri</strong>&#8220;.  Apakah Yeshua sebagai &#8220;raja kasih&#8221;, berhasil menyenangkan semua pihak?  Tidak sama sekali.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kehadiran Yeshua merupakan ancaman bagi para ahli Taurat (Torah), orang-orang Farisi dan sebagian besar orang yang tidak sepakat dengan ajaran kasih dari Yeshua, yaitu orang-orang yang masih mau mempertahankan ajaran Torah.  Ketidaksukaan atau ketidaknyamanan orang-orang yang tidak sepakat dengan ajaran Yeshua, tidak meredupkan/menghilangkan &#8216;predikat&#8217; Yeshua sebagai tokoh kasih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Contoh di atas, hanya menunjukkan bahwa dalam kehidupan ini, kita tidak dapat menyenangkan semua pihak.  Yeshua yang &#8220;tidak terbatas&#8221;-pun, tidak mampu menyenangkan semua pihak, apalagi kita manusia biasa yang memiliki banyak keterbatasan, sudah pasti tidak akan mampu menyenangkan semua pihak.  Demi kepentingan tertentu, kita akan mengabaikan satu atau beberapa hal (satu atau beberapa orang, bahkan mungkin, banyak teman kita), dan kita akan lebih memperhatikan hal/orang yang lain.  Mengabaikan dan terabaikan, itu hal yang biasa dalam kehidupan ini, karena perbedaan kepentingan tiap-tiap orang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika kita mengabaikan sesuatu/seseorang, kadang kita akan merasa bersalah, atau merasa tidak nyaman, tetapi ada kalanya, kalau &#8220;semua&#8221; kita perhatikan, juga akan timbul ketidaknyamanan yang lebih besar.  Akhirnya, keputusan memilih dengan konsekuensinya masing-masing harus kita buat.  Bisa jadi itu keputusan pilihan yang salah, tetapi keputusan-keputusan yang benar, kadang perlu didahului oleh pengalaman dari pengambilan keputusan yang salah. <em> [Good decisions come from experience, and experience comes from bad decisions. =Author Unknown= ]</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika kita (merasa) terabaikan oleh orang lain, tidak perlu juga menjadi &#8220;duka&#8221; yang mendalam, sebab &#8216;itu sudah biasa&#8217;, kadang kita diperhatikan, bahkan kadang bahkan diutamakan, namun ada kalanya kita diabaikan.  Kita tidak perlu &#8216;sakit hati&#8217; dengan orang-orang yang mengabaikan kita, karena mungkin saja orang itu memiliki prioritas untuk memperhatikan orang lain selain kita.  Memang ada pepatah, &#8220;satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit&#8221;, tetapi tentu tidak mungkin kita bisa memperhatikan seribu teman yang &#8216;sedikit&#8217; itu.  Lihat saja di facebook, dari sekian banyak <em>friend </em>kita, berapa banyak yang intens berinteraksi (lewat <em>comment</em>, &#8220;<em>like</em>&#8220;, <em>message </em>atau <em>poke</em>)?  Aku berani pastikan, hanya beberapa orang, mungkin puluhan atau ratusan orang, tapi bukan semua <em>friend </em>yang ribuan itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tetapi boleh juga, kita sok kenal sok dekat (<strong>sksd</strong>), dengan <em>friend </em>yang sesungguhnya tidak kita kenal di dunia nyata, kita beri ucapan &#8216;selamat ulang tahun&#8217; ketika di wall FB ada &#8216;notifikasi&#8217; bahwa dia ulang tahun hari ini.  Plus kita bisa memberi kata-kata indah kepadanya, walau sebenarnya tidak tahu &#8220;siapa dia&#8221;.  (aku pernah mengamati hal ini, seorang <em>friend</em> (aku kenal baik di dunia nyata), diberi ucapan &#8216;selamat ulang tahun&#8217; oleh <em>friend </em>-ku yang lain, padahal sesungguhnya (aku tahu), mereka tidak saling kenal, dan hanya ber-<em>friend </em>di FB.  Ketika aku konfirmasi ke teman yang ulang tahun, &#8220;kamu kenal dia?&#8221;, dijawabnya, &#8220;tidak&#8221;,<em> hehehe&#8230; ya iya lah&#8230;</em> karena <em>friend </em>-ku yang satu itu asal nge-<em>add  </em>saja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apalagi di facebook, perhatian seseorang, biasanya hanya pada beberapa teman, dan itu artinya mengabaikan teman yang lain.  Contoh nyata, kalau yang bikin status itu perempuan cantik, hampir dapat dipastikan banyak yang me-like.  Kalau foto yang dipasang, sangat menarik, cantik, seksi apalagi jika pakaiannya &#8216;kurang bahan&#8217;, sudah pasti banyak yang &#8216;<em>Like</em>&#8216; dan banyak yang berkomentar, sekalipun mungkin di dunia nyata, tidak kenal dengan pemilik foto itu.  Biasa lah.. laki-laki punya<em>kelemahan </em>di matanya.  Perempuan cantik (secara fisik) memang punya daya tarik kuat bagi laki-laki.  Berbahagialah anda yang memang cantik atau merasa cantik atau dianggap cantik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk perempuan yang kurang cantik secara fisik, ya tampilkan kecantikan yang lain, yang sering dikenal dengan sebutan &#8220;<strong>inner beauty</strong>&#8220;, itupun bisa memikat laki-laki.  Jika tidak ada kecantikan apapun yang ditawarkan, siap-siap saja menjadi terabaikan oleh banyak lelaki.  Jika anda merasa terabaikan, dan kemudian menyalahkan para lelaki, yang anda dapat bukannya perhatian lebih, tapi malah semakin dihindari, karena masih banyak perempuan lain yang lebih menarik untuk diperhatikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikian juga laki-laki, jika tidak mendapat perhatian dari para perempuan, tidak perlu menyalahkan mereka (para perempuan), yang sombong lah.. yang matre lah&#8230; yang sok lah&#8230;.  Jika memang tidak ada hal menarik pada diri laki-laki, perempuan bebas tertarik pada lelaki yang punya daya tarik lebih.  Konon, cinta memang buta, tetapi masih bisa melihat dan membedakan antara yang rapi dan yang berantakan, yang sopan dan yang kasar, yang cerdas dan yang bebal dan sangat mudah membedakan antara Honda Jazz dan Honda Vario.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jadi, lantas bagaimana kita akan  membagi perhatian, perlu memperhatikan yang mana dan mengabaikan yang mana?  Itu terserah kita masing-masing.  Kita punya pertimbangan sendiri-sendiri, berdasarkan &#8216;analisis&#8217; pilihan dan konsekuensi.  Contoh, kurang memperhatikan istri/suami, akan berkonsekuensi ada masalah dalam rumah tangga.  Memperhatikan istri/suami orang, bisa jadi akan berkonsekuensi mendapat masalah, jika suami/istrinya tidak terima.  Kita punya HAK untuk menentukan kepada siapa kita akan lebih memperhatikan dan siapa yang akan kita abaikan.  Tetapi kita juga tidak perlu &#8216;sakit hati&#8217; jika ternyata kebagian terabaikan, kecuali bahwa sebenarnya kita memang dapat meyakinkan diri, bahwa orang lain yang kita maksud, punya KEWAJIBAN untuk memperhatikan kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika kita &#8216;tidak punya hak&#8221;, kadang tidak perlu juga meminta penjelasan, mengapa kurang diperhatikan sementara kita lihat orang lain lebih diperhatikan. Michel de Montaigne pernah menyatakan, <em>&#8220;If you press me to say why I loved him, I can say no more than because he was he, and I was I.&#8221; </em> Aku modifikasi kata-kata itu menjadi, <em>&#8220;If you press me to say why I loved her, I can say no more than because she was she, and I was I.&#8221;</em>.  Seseorang bisa punya alasan tersendiri, yang tidak harus kita mengerti.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salatiga, 8 November 2011</p>
<p>RT Wijayantodipuro.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Catatan: Tentang Yeshua dan Yesus.</p>
<p>Jika aku &#8216;<em>prefer</em>&#8216; menulis/menyebut Yeshua daripada Yesus, itu karena dalam pemahamanku sampai saat ini, nama &#8216;asli&#8217; Yesus adalah Yeshua.  Yeshua punya makna YHWH &#8211; Shua = YHWH (yang) menyelamatkan.  (hampir sama dengan nama Yesayahu (Yesaya), yang punya arti YHWH Penyelamat.</p>
<p>Coba tonton film &#8220;Passion of Christ&#8221;, dalam film yang dibuat dengan cermat itu, disana disebut Yeshua, bukan &#8220;Jesus&#8221;, coba dengar lagu-lagu dari Israel, akan disebut &#8220;Yeshua Adonai&#8221;, bukan &#8220;Jesus Adonai&#8221;. Aku berpendapat, sedapat mungkin nama TIDAK DITERJEMAHKAN, selama kita masih bisa menyebut nama &#8216;asli&#8217;-nya.  Apalagi, nama &#8216;asli&#8217; itu punya makna khusus, dan jika diterjemahkan, makna nama itu menjadi hilang. Coba saja, &#8220;Apa arti nama Yesus, atau apa arti nama Jesus?&#8221;  Tidak berarti apa-apa, namun Yeshua-lah yang punya makna.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pepatah Cina: &#8220;<strong>Awal kebijaksanaan adalah memanggil sesuatu dengan namanya yang benar</strong>&#8220;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pewijayanto.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pewijayanto.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pewijayanto.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pewijayanto.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pewijayanto.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pewijayanto.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pewijayanto.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pewijayanto.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pewijayanto.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pewijayanto.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pewijayanto.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pewijayanto.wordpress.com/266/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pewijayanto.wordpress.com/266/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pewijayanto.wordpress.com/266/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=266&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/mengabaikan-dan-terabaikan-hal-yang-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8b1b17ca8e3edba2a1fa012ee26191b4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pewijayanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengasihi adalah perintah</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/mengasihi-adalah-perintah/</link>
		<comments>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/mengasihi-adalah-perintah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 14:47:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.wijayanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewijayanto.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Yohanes  13:34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (LAI-TB) love_is_decisionYohanes  15:12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.   Sudah lama sebenarnya aku ingin menuliskan hal ini, bahwa mengasihi adalah perintah. Perintah Tuhan (Adonai/Tuan) Yeshua (Yesus).  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=263&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Yohanes  13:34 Aku memberikan <strong>perintah </strong>baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (LAI-TB)</em></p>
<p><em>love_is_decisionYohanes  15:12 Inilah <strong>perintah-Ku</strong>, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.<br />
<span id="more-263"></span> </em></p>
<p>Sudah lama sebenarnya aku ingin menuliskan hal ini, bahwa mengasihi adalah perintah. Perintah Tuhan (Adonai/Tuan) Yeshua (Yesus).  Para pengikut  Yeshua mestinya menyadari hal ini, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mengasihi.  Soal bagaimana mengasihi, kita bisa berdiskusi panjang lebar, namun kita semua pasti ingat sebuah perintah <strong>&#8220;kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri</strong>&#8220;.</p>
<p>Dulu aku juga tidak menyadari, bahwa mengasihi adalah perintah.  Tetapi beberapa tahun yang lalu, aku disadarkan tentang hal ini, dan aku tahu, beberapa hari yang lalu seorang teman juga (baru) sadar akan hal ini, bahwa mengasihi adalah perintah.</p>
<p>Sebagai pengikut Yeshua, jika kita memang mengakui Yeshua sebagai &#8220;tuan&#8221; (Adonai), tentu kita tidak perlu punya banyak alasan untuk menolak perintahNYA.  Yeshua tidak bodoh, yang memberi suatu perintah kepada pengikutNya yang tak mungkin bisa dilaksanakan.  Kita pasti punya POTENSI untuk mampu melaksanakan perintah tersebut, persoalannya hanya MAU atau TIDAK, bukan MAMPU atau TIDAK.  Kita akan mampu melaksanakannya, jika kita mau.</p>
<p>Tadi malam, aku sempat membaca sebuah status seorang pemuda di facebook (sayang, tidak ketemu ketika aku cari lagi status seseorang yang namanya belum aku hafal itu &#8212; sehingga tidak bisa aku search), yang intinya menyatakan &#8220;sampai kapanpun tidak bisa memaafkan ayahnya&#8221;.  Mungkin memang sulit mengampuni seseorang yang telah sangat menyakitkan, tetapi tanpa mengampuni orang lain, bagaimana bisa berdoa &#8220;BAPA KAMI&#8221; : &#8220;&#8230;.dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;&#8230;.&#8221;.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan mengampuni orang lain, kita bisa berharap Tuhan mendengarkan doa-doa kita, sebab dengan pengampunan Tuhan atas kesalahan kita, kita menjadi &#8220;dibenarkan&#8221;. [ <em>Matius  6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. </em>], dan jika kita dibenarkan, maka doa kita baru akan &#8220;berkuasa&#8221;.  <em>Yakobus  5:16 &#8230;&#8230; Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.</em></p>
<p>Sehingga secara singkat, kasih (LOVE), pengampunan (FORGIVENESS) dan doa (PRAY), adalah satu paket, dalam hidup yang meneladani (menjadi murid) Yeshua.  Tak perlu banyak doktrin dan dogma, praktekkan 3 hal itu saja dalam kehidupan sehari-hari, hidup akan lebih baik, dan dijamin masuk surga (<em>hahaha</em>).  Jika banyak orang memiliki 3 hal itu, &#8220;kerajan surga&#8221; dapat dihadirkan di dunia ini.</p>
<p>Tiga hal itu dapat dimulai dari rumah (rumah tangga) sendiri: suami mengasihi istri, istri mengasihi suami, suami memaafkan istri, istri memaafkan suami, suami mendoakan istri, istri mendoakan suami, maka rumah tangga akan berjalan dengan baik. Setelah dari &#8216;orang  terdekat&#8217;, kemudian dilanjutkan ke &#8216;area&#8217; yang lebih luas, mengasihi anak, saudara, kerabat, teman-teman, dan sesama manusia.</p>
<p>Mungkin memang mudah ditulis seperti di atas, tetapi sulit dipraktekkan, karena kita berhadapan dengan orang-orang di sekitar kita yang kadang menjengkelkan, bahkan menyakitkan.  Tentu tidak mudah mengasihi, mengampuni apalagi mendoakan orang yang menjengkelkan/menyakiti kita.  Tetapi&#8230;. mengasihi adalah KEPUTUSAN.  Jika kita berani memutuskan mengasihi, ya tinggal mengasihi saja, tak peduli orang lain itu bagaimana.  Banyak &#8220;kasih&#8221; yang gagal, karena didasarkan pada PERASAAN, ketika <strong>dirasa </strong>menyenangkan, tetap mengasihi, ketika <strong>dirasa </strong>tidak nyaman, kasih menjadi luntur bahkan hilang.</p>
<p>Namun, tak perlu berkecil hati, jika kita kadang gagal mengasihi, gagal mengampuni dan gagal berdoa. Sebab hidup ini adalah belajar sampai mati, termasuk belajar mengasihi, belajar mengampuni dan belajar mendoakan.  Berharap saja, ketika kematian menjemput kita, kita sudah &#8220;tidak bodoh-bodoh amat&#8221; dalam hal mengasihi, mengampuni dan mendoakan, sebab kita bukan orang yang bebal.</p>
<p>Salatiga, 5 November 2011</p>
<p>RT Wijayantodipuro</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pewijayanto.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pewijayanto.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pewijayanto.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pewijayanto.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pewijayanto.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pewijayanto.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pewijayanto.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pewijayanto.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pewijayanto.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pewijayanto.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pewijayanto.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pewijayanto.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pewijayanto.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pewijayanto.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=263&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/mengasihi-adalah-perintah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8b1b17ca8e3edba2a1fa012ee26191b4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pewijayanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Manajemen Prostitusi :)</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/manajemen-prostitusi/</link>
		<comments>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/manajemen-prostitusi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Nov 2011 14:44:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.wijayanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewijayanto.wordpress.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Ketika membaca tulisan &#8220;KISAH PENJUAL SEX&#8221; di http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150347826382982, sebuah tulisan yang jujur melihat wanita pelacur sebagai &#8220;hal yang wajar&#8221;,  saya teringat beberapa  tahun lalu pernah menulis tentang pelacur. Sayang tulisan itu sudah lenyap, bersama lenyapnya content website yang pernah saya bangun (http://salatiga.biz), karena kena serangan hacker.  Tetapi ide tulisan itu masih teringat sampai hari ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=261&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika membaca tulisan &#8220;KISAH PENJUAL SEX&#8221; di http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150347826382982, sebuah tulisan yang jujur melihat wanita pelacur sebagai &#8220;hal yang wajar&#8221;,  saya teringat beberapa  tahun lalu pernah menulis tentang pelacur. Sayang tulisan itu sudah lenyap, bersama lenyapnya content website yang pernah saya bangun (http://salatiga.biz), karena kena serangan hacker.  Tetapi ide tulisan itu masih teringat sampai hari ini.<br />
<span id="more-261"></span></p>
<p>Pada waktu itu, saya menulisnya, karena teringat  suatu malam pulang dari kampus, di Jalan Wahid Hasyim, Salatiga, saya melihat seorang wanita agak tua menatap penuh harap pada lampu-lampu mobil yang lewat.  Saya menduga perempuan itu adalah seorang pelacur yang tersisih dari komunitasnya, dan terpaksa  seorang diri mencari pelanggan di tepi jalan raya.</p>
<p>Seandainya diijinkan didirikan perusahaan jasa pelacuran yang berbadan hukum resmi, niscaya nasib para pelacur bisa lebih baik.  Tidak perlu mencari pelanggan sendiri di pinggir jalan raya, karena sudah ada bagian Marketing yang bertanggungjawab atas omzet.  Tidak perlu repot berpikir soal penampilan dan kesehatan, karena ada bagian Quality Control yang menjamin &#8220;produk&#8221; nya layak bagi konsumen.  Tidak perlu sampai tua tetap melacur, karena pensiunnya sudah diperhatikan oleh bagian HRD (Human Resources &amp; Development).  Mungkin pengelolaan perusahaan ini akan jauh lebih baik daripada sekedar kompleks Lokalisasi yang dikelola oleh Pemerintah, yang  para pelacurnya  tidak terlalu berdaya karena dibawah kendali pada para Germo.</p>
<p>Ah, saya hanya berkhayal.  Tetapi seandainya boleh didirikan perusahaan semacam itu, mungkin saya akan menanam saham, dan keuntungan dari saham itu, akan saya gunakan untuk pekerjaan pelayanan  (hahaha&#8230;.). Atau, saya siap jadi konsultan Quality Control, dan teman saya akan saya ajak untuk menjadi pelatih untuk  &#8221;personal development&#8221; bagi para karyawatinya, dan teman yang lain akan saya minta menangani  para karyawati yang &#8220;disersi&#8221;, yang keluar dari perusahaan  karena sudah bertobat.</p>
<p>Saya tulis juga, bahwa menjadi pelacur itu bukan pekerjaan yang mudah.  Dalam bayangan saya, mereka harus bisa bermain peran yang berbeda-beda.  (dalam kuliah Manajemen Kualitas, ini bagian dari kemampuan &#8216;customize  produk layanan&#8217;.  Menjadi adik yang manja, bagi seorang pria dewasa yang membutuhkan kesenangan ragawi, menjadi kakak yang pengertian bagi seorang pria muda yang kebingungan.  Menjadi teman &#8216;main&#8217; yang hangat atau teman ngobrol yang luwes bagi seorang suami yang kecewa dengan istrinya. Mereka harus bisa selalu tersenyum atau tertawa, sekalipun hati tersayat oleh berbagai kekecewaan hidup.  Dan yang lebih membutuhkan ketegaran, adalah mereka harus tampak baik ketika hadir di tempat ibadah, sebab kalau mereka terlihat &#8220;tidak baik&#8221;, akan jadi pembicaraan orang-orang &#8220;sok suci&#8221; di tempat ibadah, bahkan tidak menutup kemungkinan untuk ditolak hadir dalam ritual-ritual ibadah.   Tidak mengherankan kalau di Belanda ada sekolah khusus calon pelacur.  Jika hendak jadi pelacur, perlu juga menjadi pelacur yang baik, bukan hanya modal dandan menor,  membuka paha dan mendesah-desah. Pelacur yang baik adalah hasil belajar, bukan bakat bawaan lahir.</p>
<p>&#8216;Ngomong&#8217; tentang pelacur, saya jadi ingat lagu Ebiet G. Ade (salah satu penyanyi favorit saya) &#8220;<strong>Cintaku Kandas di Rerumputan</strong>&#8221; (http://www.youtube.com/watch?v=HqnPPmdkp6Q), yang kadang saya nyanyikan sejak saya masih SD, tapi baru tahu artinya ketika masuk SMA.  Ingat juga lagu &#8220;<strong>Kisah Seorang Pramuria</strong>&#8220;-nya  The Mercy&#8217;s, sebuah grup musik legendaris, yang saya hafal beberapa lagunya.  Dan yang jelas, saya selalu ingat kisah Yeshua (Yesus), ketika &#8220;membebaskan&#8221; seorang yang kedapatan berbuat zinah, yang hendak di rajam oleh orang-orang.  Yeshua berkata, &#8220;<strong>siapa yang tidak berbuat dosa, silakan melemparkan batu yang pertama kali</strong>&#8220;, tidak ada yang melempar batu ke wanita itu, dan akhirnya Yeshua bilang ke perempuan itu, &#8220;<strong>pergilah dan jangan berbuat dosa lagi</strong>&#8220;.</p>
<p>Yeshua mengajarkan kepada kita, bahwa penghakiman kepada orang lain itu tidak perlu, sebab kita masing-masing juga bukan orang yang &#8220;bersih&#8221;.  Dalam kadar dan jenis yang berbeda, kita semua pernah, bahkan mungkin masih terus -menerus berbuat dosa.  Yang bisa kita lakukan adalah mari bersama-sama kita belajar, untuk hidup makin baik, makin baik di hadapan sesama maupun di hadapan Tuhan. Ukuran kebaikan itu adalah norma-norma masyarakat dan norma-norma (yang dianggap berasal dari Firman) Tuhan.  Kitab-kitab (yang dianggap) suci, kitab-kitab kumpulan tulisan-tulisan ajaran kebijaksanaan, bisa kita jadikan referensi untuk &#8220;makin baik&#8221; itu.</p>
<p><strong>Mereka ada di sekitar kita, mereka adalah teman.</strong></p>
<p>Seorang teman, yang pernah mengantar kenalannya ke sebuah tempat karaoke untuk &#8216;cari teman kencan&#8217;,  pernah menunjukkan sebuah account Facebook, pemiliknya seorang perempuan muda, tinggal di (dekat) Salatiga, dan salah satu profesi sampingannya adalah &#8220;perempuan panggilan&#8221;. Saya mencoba memancing teman yang sudah friend sama perempuan muda itu dengan mengirim message, &#8220;Itu siapa?&#8221;, Cuma dijawab, &#8220;Teman Mas, knapa tow?&#8221;.  Tidak apa-apa, begitu reply saya.  Seorang teller di sebuah bank, yang dulu selalu tersenyum jika saya datang di bank itu,  dikabarkan juga &#8220;bisa dipakai&#8221;. Beberapa mahasiswa juga sering ngobrol, bahwa mahasiswi &#8216;si anu&#8217; itu biasa dipakai om-om.</p>
<p>Tentang mahasiswi, beberapa tahun lalu, saya pernah cukup dekat dengan seorang mahasiswi yang kabarnya &#8220;bisa dipakai&#8221;, tetapi selama dekat dengan saya (maksudnya dekat, tidak seperti kebanyakan mahasiswa yang lain, yang hanya ketemu di kelas kuliah, dan hanya berbincang tentang  mata kuliah), kadang datang ke kantor, ngobrol tentang berbagai hal, termasuk hal-hal pribadi, tak tampak sedikitpun bahwa dia gadis (kalau masih gadis) &#8216;nakal&#8217;.  Memang dia sempat bercerita, alasannya memutuskan berpenampilan &#8220;seksi&#8221;, wajah dan rambutnya terawat baik, roknya selalu diatas lutut (ya jelas di atas lutut, kalau di bawah lutut, namanya &#8220;<em>mlotrok</em>&#8220;, hihihi&#8230;.), dan kalau duduk membungkuk, kadang terlihat sedikit  bagian atas pantatnya.  Waktu itu saya sangat setia dengan tunangan saya (yang sekarang jadi istri saya &#8212; sekarang-pun saya setia sama istri, lho&#8230;.), sehingga ketika mahasiswi ini menyiratkan ajakannya untuk jalan-jalan ke Semarang, tidak saya respons.  Tetapi penyesalan selalu datang belakangan, sampai sekarang tidak ada kabar beritanya, bahkan di Facebook-pun sampai sekarang tidak saya temukan account-nya.  Mungkin saja perempuan cantik dan mungil itu sudah benar-benar pergi ke Eropa, seperti cita-citanya setelah lulus kuliah.</p>
<p>Saya sedikit menyesal, karena hanya sekilas mengenalnya, padahal saya punya peluang besar untuk mengenalnya lebih dekat.  Waktu itu memang saya tidak terlalu berminat untuk belajar tentang kehidupan.  Berbeda dengan saat ini, minat saya pada &#8220;kehidupan manusia&#8221; dan &#8220;rahasia Tuhan&#8221; lebih besar dibandingkan dengan masa-masa yang lalu. Saya jadi ingat quote ini: &#8220;<strong>Some people come into our lives and quickly go. Some stay for a while, leave footprints on our hearts,  and we are never, ever the same.&#8221;</strong> (Flavia Weedn).   Mahasiswi ini termasuk yang &#8220;<em>quickly go</em>&#8220;, hihihihi&#8230;. (but I still remember her name, her &#8216;nice&#8217; face, her sweet voices, and her beautiful leg, hahaha&#8230;)</p>
<p>[ <em>We are  never, ever the same before,  by all people we meet, and interact with.  So, to some friends, we can tell "thanks for being my partner"  All of our  friends  are our partners to learn about life. Make a friend, and whatever happen in our friendship, we can take it as experiences in our life.  Need no regret of all our friendship's stories.</em> ]</p>
<p>Seorang mahasiswi yang pernah ngobrol dengan saya, berkisah, bahwa lebih baik dibayar oleh om-om daripada melakukan free sex dengan teman kuliah. Mahasiswi ini sangat rasional, sama-sama melakukan sexual intercourse, lebih menguntungkan jika ada bayarannya.  Sayapun tidak bisa membantah argumentasinya.  Itulah pilihan hidupnya, dan saya menghormati pilihan itu, walau saya sempat menyarankannya untuk mengakhiri semua petualangan (ber)cintanya. Saya katakan, dipercaya atau tidak, karma akan selalu ada, setiap perbuatan kita akan ada akibatnya.  Hukum sebab-akibat adalah hukum alam yang tidak bisa dilawan oleh makhluk alamiah, kecuali dengan bantuan kekuatan ilahi.  Tetapi mahasiswi yang lain, memilih melakukan free sex di kamar kost-nya, dengan temannya yang bisa membuat dia merasa nyaman.</p>
<p>Mengapa kalau &#8220;itu&#8221; disebut pelacur, kalau yang lain bukan?</p>
<p>Saya kadang bertanya-tanya, mengapa kalau yang menjual &#8220;sex&#8221; disebut pelacur, sedangkan yang menjual bagian tubuh lain, tidak?  Seorang foto model, juga menjual kemolekan dan keindahan tubuh, tapi tidak pernah disebut pelacur.  Seorang artis pemain sandiwara atau film, menjual akting tubuhnya, tidak pernah disebut pelacur.  Seorang pendeta atau guru/dosen, menjual &#8220;omongan&#8221; mulutnya, tidak pernah disebut pelacur.  Para petinju menjual kekuatan pukulannya, para pemain bola menjual ketrampilan kakinya,  tidak pernah disebut pelacur, dan sebagainya.</p>
<p>Bukankah mereka itu sama-sama menjual &#8220;bagian tubuh&#8221; untuk menghasilkan uang?  Kitab Suci menyebutkan, &#8220;<strong>persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, itulah ibadahmu yang sejati</strong>&#8220;, tapi, ternyata ada perkecualian,  tidak termasuk mempersembahkan organ seksual  (yang juga bagian dari tubuh) untuk kesenangan/kepentingan sesama manusia&#8230;.</p>
<p>Lagi-lagi ini soal NORMA, dan kesepakatan masyarakat pada umumnya. Menjual &#8216;sex&#8217; melanggar norma masyarakat (khususnya norma yang didasarkan pada teks-teks di kitab suci), maupun norma kesusilaan yang terbangun di masyarakat luas.  Tetapi sebenarnya yang &#8220;salah&#8221; siapa? Pelacurnya atau penikmat (nikmat tow?)  pelacur itu?  Jika mengikuti hukum JB.Say &#8220;<strong>supply creates its own demand</strong>&#8220;, ketersediaan pelacurlah yang menyebabkan ada pria &#8220;hidung belang&#8221;.  Tetapi hukum itu tidak selalu benar, karena bisa jadi adanya pelacur itu karena memang ada permintaan/demand.  Nyatanya, ada beberapa teman yang memang mencari-cari pelacur untuk teman tidurnya (jadi ingat teman kuliah dulu yang kadang membawa &#8216;pulang&#8217; pelacur ke kamar kost-nya).</p>
<p>Penelittian tentang kehidupan pelacur dan pelacuran, biasanya dilakukan oleh teman-teman di bidang sosiologi atau teologi, dan sampai hari ini belum pernah saya jumpai mahasiswa/mahasiswi Fakultas Ekonomi, (bidang Marketing, Finance atau SDM) yang menulis skripsi bertopik pelacur/pelacuran.  Namun, selama &#8220;stigma&#8221; terhadap kehidupan pelacur/pelacuran masih selalu negatif, tentu bukan hal yang mudah untuk menggali datanya.  Bukan berarti kehidupan pelacur/pelacuran adalah positif, tetapi mungkin lebih baik jika kita melihatnya sebagai FAKTA yang ada di sekitar kita, tidak perlu kita tolak mati-matian (seperti kelompok  &#8221;sok suci&#8221; yang berhasrat membersihkan dunia ini dari semua jenis kemaksiatan, padahal SETAN saja dibiarkan oleh Tuhan untuk tetap berada dan bekerja di dunia ini), atau sebaliknya, tidak juga kita mati-matian inginkan (sepertinya manusia tidak memiliki cara lain untuk memenuhi kebutuhan uang (bagi pelacurnya) dan kebutuhan seks (bagi penikmatnya) )</p>
<p>[ Jadi ingat kata-kata Ki Ageng Suryamentaram, "<strong>Salumahing bumi, sakurebing langit, punika boten wonten barang ingkang pantes dipun aya-aya dipun padosi, utawi dipun ceri-ceri dipun tampik</strong>" ("di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang yang pantas dicari, dihindari atau ditolak secara mati-matian") -- ini pelajaran di Kawruh Jiwa (http://www.facebook.com/groups/kawruh.jiwa/) ]</p>
<p>Kita mungkin bukan pelacur seksual, tetapi bisa jadi pernah menjadi pelacur-pelacur yang lain.  Anggota masyarakat menjadi pelacur suara, ketika memilih wakil rakyat atau kepala pemerintahan karena dibayar.  Para pejabat atau yang menjalani profesi tertentu, mungkin menjadi pelacur kekuasaan ketika mengambil keputusan karena disuap sejumlah uang.  Rohaniawan mungkin menjadi pelacur spiritual, ketika mengatasnamakan Tuhan untuk mengambil keuntungan diri sendiri. Akademisi mungkin menjadi pelacur intelektual, ketika keilmiahan dilanggar demi kepentingan (kekuasaan) tertentu.</p>
<p>Ah, sudah lah.. sudah diajak istri pergi jalan-jalan ke Gedong Sanga. (jadi ingat, lebih dari 10 tahun yang lalu,  pernah slip kopling  ketika naik tanjakan di dekat Gedong Sanga, mobil tak mau jalan  meskipun gas &#8216;pol&#8217; dan kopling sudah &#8216;lepas&#8217;, tapi seorang teman begitu sigap, segera turun dari mobil dan langsung mendorong Corolla DX yang saya kemudikan)</p>
<p>===</p>
<p>Tulisan ini khususnya saya dedikasikan untuk beberapa teman kuliah yang pernah &#8216;iseng&#8217; menggagas Mata Kuliah &#8220;<strong>Manajemen Prostitusi</strong>&#8221; (ManPros), hihihi..</p>
<p>Baca juga tulisan ini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150333999583551</p>
<p>Salatiga, 29 Oktober 2011</p>
<p>RT Wijayantodipuro</p>
<p>++++++++++++++</p>
<p>GADIS REMANG-REMANG (Ebiet. G.Ade)</p>
<p>Waktu kau bicara<br />
berhamburlah bujuk manis bagai madu<br />
Melantunkan segala pujian<br />
Bergelora dada setiap lelaki<br />
yang mendengar</p>
<p>Waktu kau menatap<br />
kau rentang busur, kau lepas anak panah<br />
Menuju sasaran akurat<br />
Berbungalah dada setiap lelaki<br />
yang terlena</p>
<p>Gadis, jalan yang kau tempuh rasanya keliru<br />
Malam yang bening ini engkau perlakukan<br />
rumah kegelapan<br />
Aku nasihatkan kepadamu<br />
Tak semua lelaki gampang tergoda<br />
Tak akan lama kau dapat bertahan<br />
di dalam nista</p>
<p>Waktu telah berjalan<br />
Semua mata merobekmu hina dina<br />
Hanya tinggallah satu jalan<br />
Bertobat dan kubur semua kenangan,<br />
gadis jalang</p>
<p>Gadis, mimpimu kusut masai seperti sampah<br />
Malam yang bening ini engkau perlakukan<br />
rumah kegelapan<br />
Aku nasihatkan kepadamu<br />
Tak akan lama nikmat dapat kau reguk<br />
Tak akan lama kau dapat bertahan<br />
di dalam nista</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pewijayanto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pewijayanto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pewijayanto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pewijayanto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pewijayanto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pewijayanto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pewijayanto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pewijayanto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pewijayanto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pewijayanto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pewijayanto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pewijayanto.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pewijayanto.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pewijayanto.wordpress.com/261/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=261&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/11/21/manajemen-prostitusi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8b1b17ca8e3edba2a1fa012ee26191b4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pewijayanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak-anak kehidupan&#8230;</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/10/14/anak-anak-kehidupan/</link>
		<comments>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/10/14/anak-anak-kehidupan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 05:53:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.wijayanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sehari-hari]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewijayanto.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak kehidupan&#8230; Your children are not your children. They are the sons and daughters of Life&#8217;s longing for itself.   They come through you but not from you,   And though they are with you yet they belong not to you.   &#8230;&#8230;.. Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu   mereka adalah putra-putra dan putri-putri kehidupan, yang menginginkan dirinya sendiri.   Mereka lahir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=256&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><big>Anak-anak kehidupan&#8230;</big></p>
<p><em>Your children are not your children.</em><br />
<em>They are the sons and daughters of Life&#8217;s longing for itself.<em><em> </em></em><em> </em></em><br />
<em>They come through you but not from you,<em><em> </em></em><em> </em></em><br />
<em>And though they are with you yet they belong not to you.<em><em> </em></em><em> </em></em><br />
&#8230;&#8230;..<br />
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu<em> </em><em> </em><br />
mereka adalah putra-putra dan putri-putri kehidupan, yang menginginkan dirinya sendiri.<em> </em><em> </em><br />
Mereka lahir melaluimu, namun bukan darimu<em> </em><em> </em><br />
dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu<em> </em><em> <em> </em></em><br />
&#8230;&#8230;.<br />
<span id="more-256"></span><br />
Tulisan Kahlil Gibran mengenai &#8220;anak&#8221; itu benar-benar aku ingat ketika akan memberi nama anakku yang pertama. Aku tidak akan memberinya nama yang mengandung namaku dan/atau nama istriku. Istriku sudah pesan nama &#8220;Clarissa&#8221;, mungkin karena sering nonton telenovela.  Seorang teman sudah meminjamkan buku nama-nama bayi, akupun sudah membeli sebuah lagi.  Aku lihat daftar nama-nama dan artinya, aku cocokkan dengan &#8220;neptu&#8221; kelahirannya.  Akhirnya nama Clarissa Gitta Aprilia menjadi namanya.</p>
<p>Malam ini aku menulis tentang anak, karena aku bersyukur bisa bersama mereka, putri-putriku.  Bagaimanapun keadaan mereka, aku bersyukur. Minggu yang lalu anakku yang bungsu baru genap berusia 3 tahun.  Tadi sore, ia minta dibelikan sepeda, karena sepeda &#8216;warisan&#8217; kakaknya rusak. Setelah aku perbaiki sebentar, dan bisa dipakai lagi, dia bilang, &#8220;tidak usah beli saja&#8221;, akupun tersenyum.</p>
<p>Tidak banyak yang akan aku tuliskan disini, walau sebenarnya ada banyak cerita yang aku dengar tentang anak-anak. Tentang anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya, tentang anak yang kelahirannya tidak dikehendaki, tentang anak yang lahir dalam kondisi kurang baik, tentang anak yang kondisi kesehatannya tidak bagus, dan tentang anak yang meninggalkan dunia, karena sakit maupun kecelakaan, mendahului orang tuanya.</p>
<p>Aku teringat kisah yang diceritakan oleh adikku, tentang temannya, yang juga aku kenal.</p>
<p>Seorang lelaki dengan satu istri dan satu putri.  Sebelum menikah lelaki ini suka bermain dengan perempuan, dan memiliki beberapa perempuan langganan,  dan diantara para langganannya, ada juga yang cantik.</p>
<p>Suatu kali, ketika relasi dengan istrinya kurang baik, lelaki  ini kebetulan juga dihubungi oleh salah satu perempuan mantan langganannya, untuk diajak &#8216;main-main&#8217; lagi.  Dengan menyusun agenda palsu yang bisa diterima oleh istrinya,  ia bersiap pergi menjumpai wanita idaman lain-nya di sebuah rumah penginapan di kawasan wisata berhawa dingin.  :)</p>
<p>Putrinya yang masih balita, menyaksikan ayahnya akan pergi, dan ketika sudah siap berangkat, si putri melambaikan tangannya sembari berkata, <strong>&#8220;da da papa&#8230; hati-hati ya&#8230;&#8221;</strong>.</p>
<p>Sang ayah pun berlalu meninggalkan rumah.  Tak jadi menemui wanita yang sudah menunggunya, namun hanya berjalan-jalan hingga kemudian berhenti di sebuah warung, menyulut rokok sambil merenungkan hidupnya.  Tak tega ia mengkianati putrinya sendiri.</p>
<p>Aku ingat nasihat Kitab Suci untuk para ayah: <em>&#8220;Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.&#8221;</em>  Kitab Amsal juga memberi petunjuk,<em> &#8221;Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.&#8221;</em> dan<em> &#8221;Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.&#8221;</em></p>
<p>Salatiga, 12 Oktober 2011</p>
<p>RT Wijayantodipuro</p>
<p>from: <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150333999583551">http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150333999583551</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pewijayanto.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pewijayanto.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pewijayanto.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pewijayanto.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pewijayanto.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pewijayanto.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pewijayanto.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pewijayanto.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pewijayanto.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pewijayanto.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pewijayanto.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pewijayanto.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pewijayanto.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pewijayanto.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=256&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/10/14/anak-anak-kehidupan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8b1b17ca8e3edba2a1fa012ee26191b4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pewijayanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Ideal</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/10/14/pendidikan-ideal/</link>
		<comments>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/10/14/pendidikan-ideal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 05:52:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.wijayanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sosial Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewijayanto.wordpress.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[Pendidikan Ideal &#160; Masa muda adalah impian yang indah, tapi kemanisannya musnah diperbudak oleh kedunguan buku-buku dan kesadarannya menjadi bingkai-bingkai patah.    Mungkinkah akan datang suatu hari ketika orang bijak mampu menyatukan mimpi-mimpi pemuda dan kesenangan untuk belajar, seperti cemooh yang selalu membawa hati dalam konflik? Apakah akan datang suatu hari ketika guru manusia adalah alam, kemanusiaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=254&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><big>Pendidikan Ideal</big></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><big>Masa muda adalah impian yang indah, tapi kemanisannya musnah diperbudak oleh kedunguan buku-buku dan kesadarannya menjadi bingkai-bingkai patah.   <span id="more-254"></span></big></p>
<p><big>Mungkinkah akan datang suatu hari ketika orang bijak mampu menyatukan mimpi-mimpi pemuda dan kesenangan untuk belajar, seperti cemooh yang selalu membawa hati dalam konflik?</big></p>
<p><big>Apakah akan datang suatu hari ketika guru manusia adalah alam, kemanusiaan adalah bukunya dan kehidupan adalah sekolahnya?</big></p>
<p><big>Adakah hari itu akan datang?</big></p>
<p><big>Kita tidak tahu, tetapi kita bisa merasakan dorongan yang menggerakkan diri untuk mencapai kemajuan batin, dan kemajuan itu adalah sebuah pemahaman terhadap keindahan semua mahkluk melalui perbuatan baik yang kita lakukan dan kepada keindahan itu cinta kita taburkan.</big></p>
<p><big>(Kahlil Gibran)</p>
<p>from:  <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150314804768551">http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150314804768551</a></big></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pewijayanto.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pewijayanto.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pewijayanto.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pewijayanto.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pewijayanto.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pewijayanto.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pewijayanto.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pewijayanto.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pewijayanto.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pewijayanto.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pewijayanto.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pewijayanto.wordpress.com/254/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pewijayanto.wordpress.com/254/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pewijayanto.wordpress.com/254/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=254&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/10/14/pendidikan-ideal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8b1b17ca8e3edba2a1fa012ee26191b4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pewijayanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamu dari galaksi lain. (?)</title>
		<link>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/10/14/tamu-dari-galaksi-lain/</link>
		<comments>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/10/14/tamu-dari-galaksi-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Oct 2011 05:51:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>p.wijayanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Peristiwa]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pewijayanto.wordpress.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[Tamu dari galaksi lain. (?) === Dalam perenunganku malam itu, aku merasa perlu keluar dari rumah.  Aku keluar menuju halaman, dan melihat ke langit.  Ada yang aneh di langit, tampak dua &#8216;lintang panjer wengi&#8216; yang saling berdekatan. Bukankah biasanya hanya ada satu &#8216;lintang panjer wengi&#8216;?.  Segera aku masuk ke dalam rumah, sambil berpikir, &#8220;ada apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=252&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Tamu dari galaksi lain. (?)</strong></p>
<p>===</p>
<p>Dalam perenunganku malam itu, aku merasa perlu keluar dari rumah.  Aku keluar menuju halaman, dan melihat ke langit.  Ada yang aneh di langit, tampak dua &#8216;<em>lintang panjer wengi</em>&#8216; yang saling berdekatan. Bukankah biasanya hanya ada satu &#8216;<em>lintang panjer wengi</em>&#8216;?.  Segera aku masuk ke dalam rumah, sambil berpikir, &#8220;ada apa sebenarnya?&#8221;.</p>
<p><span id="more-252"></span></p>
<p>Ketika melewati ruang makan, di sana ada satu meja dengan enam kursi.  Aku kaget menyaksikan lima kursi dalam posisi agak jauh dari meja, dan satu kursi masih pada posisi biasanya. Biasanya kursi-kursi itu selalu dekat dengan meja, ketika tidak ada yang duduk di situ.  Dalam keherananku, aku bertanya dengan bersuara, &#8220;<strong><em>Punapa wonten tamu?</em></strong>&#8221; (Apakah ada tamu?). Diam tidak ada jawaban.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akupun menyeret satu kursi yang masih dekat dengan meja, aku duduk di kursiku, menghadapi meja dengan lima kursi (yang tampak) kosong.  Sambil duduk, aku bertanya lagi dengan bersuara, &#8220;<em>Punapa wonten tamu?</em>&#8220;.  Hening, tidak ada jawaban.  Aku berpikir, mungkin bukan dengan cara ini aku bertanya, aku harus menggunakan rasa/batin untuk bertanya kepada &#8220;mereka&#8221;.  Dalam batinku, kuulangi lagi pertanyaan yang sama, kali ini bukan dengan mulut aku bertanya,<em> &#8221;Punapa wonten tamu?&#8221;</em>.  Dan aku mendapat jawaban-jawaban.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku mengerti, mereka datang berlima ke rumahku.  Mereka adalah mahkluk yang serupa dengan manusia, dari galaksi lain.  Mereka datang ke bumi untuk belajar sesuatu.  Mereka mahkluk-mahkluk yang cerdas, bukan mahkluk &#8220;jelek&#8221; seperti yang digambarkan di film-film tentang alien.  Ya, mereka bertamu di rumahku. Kami berbincang tentang beberapa hal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai tuan rumah yang baik, aku tawarkan mereka minum.   Anda  mau minum apa, Kopi? Fanta? Sprite? Teh?.  Mereka tertawa mendengar tawaranku, mereka tidak tahu itu minuman apa.  Mereka meminta air murni dari bumi.  Aku menganggap, mereka meminta air bening.  Aku mengambil 6 gelas kosong untuk aku sendiri dan lima tamuku, aku isi gelas-gelas itu dengan air putih yang tersedia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Aku persilakan mereka meminumnya.  Air itu tidak berkurang.</p>
<p>Kemudian aku minum air dari gelasku sendiri, sambil kulihat kelima gelas yang lain.  Ketika air dari gelasku sedikit berkurang, air di lima gelas di meja di hadapan tamu-tamuku juga berkurang.  Kuteguk lagi air dari gelasku, air di lima gelas juga makin berkurang,  kuhabiskan air di gelasku, air di lima gelas itu juga habis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah beberapa waktu berbincang, mereka mohon pamit.  Aku mengantar mereka keluar dari rumahku.  Kemudian kulihat ke langit, <em>&#8216;lintang panjer wengi&#8217;</em> yang tadi kulihat ada dua, sekarang tinggal satu.  Entah mengapa aku menjadi ketakutan, dan segera berlari masuk rumah, menyusul istriku di kamar tidur.  Kuceritakan semua pada istriku.</p>
<p>===</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Catatan:</strong></p>
<p>1. *<em>lintang panjer wengi </em>= penampakan planet Mars yang seperti bintang  yang paling terang di antara bintang-bintang yang lain</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.  Aku di dalam cerita itu BUKAN saya, saya (penulis &#8216;note&#8217; ini) hanya menceritakan ulang, dari apa yang dituturkan oleh seseorang.  Jika cerita di atas adalah FAKTA, mungkin kita perlu &#8220;mendefinisi ulang&#8221; tentang (khususnya) TUHAN,  sorga dan neraka, kitab suci dan agama.  Jika tidak mau &#8220;berpusing-pusing&#8221;, anggap saja tulisan diatas adalah FIKSI.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Salatiga, 10 September 2011,</p>
<p>RT Wijayantodipuro</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>from: <a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150293458913551">http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150293458913551</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pewijayanto.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pewijayanto.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pewijayanto.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pewijayanto.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pewijayanto.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pewijayanto.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pewijayanto.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pewijayanto.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pewijayanto.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pewijayanto.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pewijayanto.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pewijayanto.wordpress.com/252/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pewijayanto.wordpress.com/252/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pewijayanto.wordpress.com/252/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pewijayanto.wordpress.com&amp;blog=15072837&amp;post=252&amp;subd=pewijayanto&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pewijayanto.wordpress.com/2011/10/14/tamu-dari-galaksi-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8b1b17ca8e3edba2a1fa012ee26191b4?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fs0.wp.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">pewijayanto</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
